Friday, April 17, 2020

Cernak| Pensil Abu


Ilustrasi: boombastis.com

Abu, nama panggilan anak lelaki yang tinggal di sebelah selatan persawahan kampungnya. Ya...dia orang desa.

Keseharian Abu adalah membantu simboknya yang buruh pada seorang juragan sawah. Selepas membantu simbok, Abu mengulang pelajaran bakda Isya.

Jangan dibayangkan belajar Abu menggunakan penerangan listrik. Keluarga Abu mengandalkan diyan atau lampu teplok. Itupun bahan bakarnya bukan dari minyak tanah. Minyak tanah sangat sulit didapatkan. Selain mahal juga jarang warung yang menjual minyak tanah.

Diyan atau lampu teplok itu berbahan bakar minyak jelantah yang diberi sedikit air dan garam. Sederhana sekali kehidupan mereka.

Ketika belajar, Abu bercahayakan remang diyan. Meski begitu dia tetap semangat. Tak dipedulikannya alat tulis miliknya yang sangat terbatas.

Abu tak patah semangat. Di pikirannya, Abu ingin jadi orang yang kaya bila dewasa. Biar simboknya tidak kesusahan.

Sebenarnya semangat belajar Abu naik turun. Jika ingat ejekan teman-temannya, Abu kesal dan kepingin berhenti sekolah. Namun ketika melihat simboknya yang buruh dari pagi hingga sore, Abu kembali bersemangat.

**
Pagi harinya, di kelas Abu.

"Sekolah kok alat tulismu kayak gitu," ucap Gito, teman Abu yang kaya raya.

Abu tak mampu membalas ucapan Gito. Pensil Abu tak seperti milik teman-temannya. Pensil HB, yang digunakan untuk menulis sangat keras dan tidak jelas. Simbok bilang, pensil seperti itu awet dan tidak mudah patah dan habis.

Abu hanya manut pada simboknya. Yang penting dia menulis dan mengerjakan tugas dari bu guru. Namun yang menjadi bahan ejekan teman-temannya karena pensilnya sangat pendek. Panjangnya tinggal sepanjang jari telunjuknya. Lalu di pangkal pensil ditalikan karet gelang. Fungsinya sebagai penghapus.

Pasti ketika menulis Abu sangat kesulitan. Kalau ada yang keliru ketika menulis pun tak akan sempurna dalam menghapus tulisan di lembar bukunya. Kalau dipaksa, warna kertas buku menjadi terkelupas dan bisa bolong. Kalau asal menghapus, kertas menghitam. Tulisan barunya tak akan jelas.

"Kalian tak boleh mengejek Abu ya, anak-anak. Bu guru dan kalian harus mendukung Abu. Semangat belajarnya sangat hebat." Begitu nasehat bu guru Abu.

Abu merasa beruntung karena memiliki guru yang baik. Pensil uniknya bukan menjadi penghalang untuk belajar.

"Oh iya. Ada kabar dari lomba mengarang di dinas sebulan yang lalu, Abu menjadi salah satu pemenangnya. Selamat ya, Abu!"





No comments:

Post a Comment