Untuk menulis sebuah karya, baik karya ilmiah maupun karya lain kita sering dihadapkan pada sulitnya mendapatkan ide. Padahal sebenarnya kita bisa mendapat ide dari berbagai pengalaman di keseharian kita.
Saya menulis dan memposting artikel ini pun karena ada ide dalam benak saya, yaitu bingung mendapat ide tulisan... 😂😂😂
Nah... Daripada lama g posting tulisan, dari kebingungan ini saya buat tulisannya. 😁😁😁
Kembali ke pencarian ide penulisan karya PTK, tentu guru sering mendapat kesulitan dalam pembelajaran sehari-hari. Guru merasa sudah menerapkan metode atau pendekatan tapi pembelajaran masih kurang berhasil. Tentunya kesulitanr tiap mata pelajaran harus diperhatikan untuk penulisan PTK. Guru boleh mencatat materi pelajaran yang dirasa sulit dalam penyampaian ke siswa sehingga pembelajaran tidak tuntas. Setiap mata pelajaran pasti ada materi yang sulit.
Misal: capaian ketuntasan materi PKn kelas IV yang masih jauh dari KKM, guru bisa mencarikan solusi dan bisa disusun PTKnya. Kalau dicermati dari materinya memang untuk mata pelajaran PKn kelas IV sangat sulit bagi siswa untuk mengerti dan memahami konsep pemerintahan dari tingkat desa sampai tingkat pusat. Yaaa... Siswa kelas IV seperti belajar Tata Negara.
Berikutnya mata pelajaran IPS kelas III misalnya tentang kenampakan alam. Konsep pengertian tentang kenampakan alam yaitu segala hal yang ada di sekitar yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan merupakan ciptaan Tuhan. Kadang kala guru tidak menyadari bahwa siswa belum paham konsep ini. Ada siswa yang menyebutkan kenampakan alam contohnya pohon, bintang, dll. Padahal ini keliru. Kalau tidak diluruskan sejak awal maka sampai tingkat atas pun siswa bisa salah dalam memberikan contoh kenampakan alam. Dari kondisi ini guru bisa mencarikan metode atau pendekatan yang pas untuk para siswa.
Yang tak kalah sulit materi IPS kelas V, guru sering kewalahan dalam menyampaikan materi sejarah Indonesia dari masa pengaruh Hindu-Budha sampai masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Banyak sekali materinya. Akibatnya siswa kesulitan dalam memahami konsep sejarah Indonesia. Tentunya ini akan memprihatinkan karena dari materi sejarah maka guru menyiapkan generasi yang tahu dan paham sejarah bangsa sehingga nantinya ketika menjadi pemimpin bisa bijak dalam mengelola negara dan kemasyarakatan.
Tak kalah njlimet dan banyaknya materi IPA Sains kelas V. Guru dituntut bisa menyampaikan materi sebaik mungkin agar pembelajaran tuntas. Namun bila pembelajaran belum tuntas maka guru bisa mengagendakan perbaikan kemudian disusun PTKnya.
Itu beberapa contoh ide dari beberapa materi pelajaran.
Semoga tulisan yang berawal dari kebingungan saya untuk mencari ide tulisan ini bisa bermanfaat.
Showing posts with label Serba- serbi Penelitian Tindakan Kelas. Show all posts
Showing posts with label Serba- serbi Penelitian Tindakan Kelas. Show all posts
Friday, November 03, 2017
Friday, November 20, 2015
PENINGKATAN PEMAHAMAN NILAI PENINGGALAN SEJARAH SITUS GONDANG MELALUI PENDEKATAN KARYA WISATA SISWA KELAS IV SD MUHAMMADIYAH BRANJANG KARANGMOJO GUNUNGKIDUL: KAJIAN PUSTAKA
Pengantar Admin sekaligus peneliti PKP, PTK dan Karya Ilmiah
Beberapa bulan yang lalu, saya pernah memposting Pendahuluan dan Abstrak dari karya ilmiah dan PKP yang telah saya unggah pada tahun 2014 pada Aplikasi Karya Ilmiah UT Pusat. Judul PKP dan karil saya adalah Peningkatan Pemahaman Nilai Peninggalan Sejarah Situs Gondang melalui Pendekatan Karya Wisata Siswa Kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul dengan bimbingan Drs. Wisnu Giyono, M. Pd. Dan kali ini Bab II Kajian Pustaka saya sajikan untuk para pembaca.
Beberapa bulan yang lalu, saya pernah memposting Pendahuluan dan Abstrak dari karya ilmiah dan PKP yang telah saya unggah pada tahun 2014 pada Aplikasi Karya Ilmiah UT Pusat. Judul PKP dan karil saya adalah Peningkatan Pemahaman Nilai Peninggalan Sejarah Situs Gondang melalui Pendekatan Karya Wisata Siswa Kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul dengan bimbingan Drs. Wisnu Giyono, M. Pd. Dan kali ini Bab II Kajian Pustaka saya sajikan untuk para pembaca.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.
Pemahaman
Nilai Peninggalan Sejarah Situs Gondang
Arti kata pemahaman ( dalam : http://kamusbahasaindonesia.org/pemahaman#ixzz3EbfhyCnc,
diakses tanggal 28 September 2014 ) adalah proses,
cara, perbuatan memahami atau memahamkan: bahasa sumber dan bahasa sasaran
sangat penting bagi penerjemah. Nilai ( dalam:
uzey.blogspot.com.es/2009/09/pengertian-nilai.html?m=1, diakses tanggal 7
September 2014 ) adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas
dan berguna bagi manusia.
Sedangkan pengertian peninggalan sejarah ( dalam:
serbasejarah.wordpress.com/2013/07/09/warisan-sejarah/, diakses tanggal 7
September 2014 ) merupakan warisan yang berdaya guna bagi generasi manusia
selanjutnya. Peninggalan sejarah ( dalam : http://www.slideshare.net/rishky/peninggalan-sejarah,
diakses tanggal 28 September 2014 ) adalah tonggak-tonggak perkembangan
masyarakat, mengenali tonggak berarti
mengenali perkembangan masyarakat.
Situs
Gondang adalah situs bersejarah di sekitar desa
Ngawis Karangmojo Gunungkidul. Menurut Joraazzashifa, dinyatakan sebagai
berikut:
Situs ini terletak di
dusun Gondang, Ngawis Karangmojo. Peninggalan yang ada di situs ini termasuk
peninggalan masa Megalithikum ( masa batu besar). Peninggalannya berupa peti
kubur batu. Situs ini jarang sekali dikunjungi
oleh wisatawan. ( dalam
https://joraazzashifa.wordpress.com/2013/05/17/peninggalan-peninggalan-bersejarah-di-sekitar-karangmojo/
, diakses tanggal 28 September 2014 )
B.
Pendekatan
Karya Wisata
Pengertian
karya wisata menurut pendapat Toto Ruhimat dan
Asep Herry Hernawan sebagai berikut.
Karyawisata
adalah kunjungan ke suatu tempat atau objek dalam rangka memperluas pengetahuan
dalam hubungan dengan pekerjaan seseorang atau sekelompok orang. Metode
karyawisata hampir sama dengan pembelajaran outdoor yaitu
aktivitas pembelajaran sama-sama dilaksanakan di luar kelas. (Toto
Ruhimat dan Asep Herry Hernawan dalam: Sri Anitah,dkk, 2010: 5.29)
Penerapan metode
karya wisata terdiri atas siklus pembelajaran yang membawa siswa pada suasana
kerja sama yang diharapkan. Siklus kegiatan pembelajaran yang menyebabkan para
siswa berlatih bekerjasama satu sama lain. Menurut Toto
Ruhimat dan Asep Herry Hernawan, penerapan karya wisata adalah
sebagai berikut:
Penerapan metode karya wisata adalah
(1)Menetapkan kompetensi yang akan dicapai siswa.(2) Merencanakan tujuan. (3)
Merumuskan kegiatan yang akan dilakukan. (4) Melaksanakan kegiatan. (5) Menilai
kegiatan.(6) Melaporkan hasil kegiatan (Toto Ruhimat dan
Asep Herry Hernawan dalam: Sri Anitah,dkk, 2010: 5.29-5.30 )
C.
Kerangka
Pikir
Penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan
teori- teori tentang pentingnya materi sejarah bagi siswa serta dasar teknik
karya wisata. Pada akhir sejarah, Sartono
Kartodirjo (1986: 108 ) menyatakan terdapat tujuan yang memberi makna
kepada sejarah. Makna sejarah sendiri tergantung pada masanya. Sejarah yang
mendapat dukungan Romantisisme , Sartono
(1986: 112 ) menyatakan bahwa menciptakan sistem dan masyarakat politik yang
lebih dikenal sebagai “Negara Nasional”. Dalam hal ini tugas sejarah pada
umumnya dan pelajaran sejarah pada khususnya mengarah pada kepentingan negara
nasional Indonesia.
Jangan
sampai anak didik atau generasi penerus bangsa melakukan hal- hal yang
merugikan persatuan dan kesatuan hanya karena kurang memahami nilai sejarah
bangsanya terutama berkaitan dengan peninggalan sejarah/ benda pubakala. Pengamat benda-benda purbakala, Aryo PS
Djojohadikusumo ( dalam: http://www.antaranews.com/berita/395911/pengamat-peninggalan-sejarah-merupakan-harga-diri-bangsa, diakses tanggal 14 September 2014, diakses
tanggal 14 September 2014 ) menyatakan bahwa
peninggalan sejarah bukan hanya menceritakan perjalanan bangsa melainkan juga
menggambarkan jati diri dan harga diri sebuah bangsa.
Kurangnya
kesadaran para generasi muda atas keberadaan peninggalan bersejarah dan nilainya
pun sering ditemui. Syaiful, juru pelestari
situs Ngurawan, Madiun ( dalam: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/29/myeyp4-nasib-mengenaskan-cagar-budaya,
diakses tanggal 14 September 2014), peninggalan Kerajaan Gegelang lainnya sebenarnya
cukup banyak. Hanya saja, beberapa situs dihancurkan oleh masyarakat sekitar
untuk dijadikan bahan bangunan.
Mengingat
pentingnya sejarah, guru memiliki tugas penting untuk selalu mengingatkan siswa
bahwa sejarah bukan hanya untuk syarat naik kelas atau kelulusan. Oleh karena
itu, tugas guru adalah bagaimana mencarikan pendekatan dan metode pembelajaran
agar siswa bisa memahami konsep sejarah mulai dari masa pra aksara sampai
sejarah Hindu- Budha, masa Islam, masa memperjuangkan kemerdekaan dan masa
mempertahankan kemerdekaan.
Agar
siswa dapat memahami konsep sejarah dengan baik guru dapat menerapkan berbagai
macam metode/ teknik pembelajaran. Mengingat berbagai kesulitan dari metode-
metode yang ada, peneliti berusaha menerapkan metode/ teknik yang sekiranya
membuat siswa belajar menemukan fakta sejarah dari buku- buku literatur yang
relevan dengan Kurikulum 2013 pada Buku Guru dan Buku Siswa. Peneliti mencoba
menguji metode/ teknik karya wisata di
Situs Gondang untuk meningkatkan penghargaan terhadap nilai peninggalan sejarah
siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang.
D.
Hipotesis
Kerja
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini
adalah penggunaan teknik karya wisata di Situs Gondang dapat meningkatkan
pemahaman terhadap nilai Peninggalan Sejarah siswa kelas IV SD Muhammadiyah
Branjang Karangmojo Gunungkidul.
Thursday, August 27, 2015
Peningkatan Pemahaman Nilai Peninggalan Sejarah Situs Gondang Melalui Pendekatan Karya Wisata Siswa Kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul: Pendahuluan
Pengantar Admin sekaligus peneliti PKP, PTK dan Karya Ilmiah:
Berikut ini saya posting Bab I Pendahuluan dari Karya Ilmiah dan Laporan PKP yang telah saya susun tahun 2014 sebagai tugas dari mata kuliah PKP dan Karya Ilmiah Universitas Terbuka pada Program Studi BI PGSD. Karya Ilmiah telah saya unggah Pada Aplikasi Karya Ilmiah UT tahun 2014. Pembimbing penulisan Laporan PKP dan Karya Ilmiah ini adalah Drs. Wisnu Giyono, M. Pd. Bab ini juga saya posting di blog saya joraazzashifa.wordpress.com.
Latar Belakang Masalah
Identifikasi Masalah
Pemahaman nilai peniPenggalan sejarah sangatlah dibutuhkan oleh para siswa. Pengertian pemahaman menurut Purwanto (dalam: megasiana.com/pedulipendidikan/pemahaman-siswa-dalam-proses-belajar/, diakses tanggal 7 September 2014 ) adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Sedangkan menurut Suharsimi (dalam: megasiana.com/pedulipendidikan/pemahaman-siswa-dalam-proses-belajar/, diakses tanggal 7 September 2014 ) menyatakan bahwa pemahaman (comprehension) adalah bagaimana seorang mempertahankan, membedakan, menduga( estimates), menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan memberikan contoh, menuliskan kembali dan memperkirakan.
Peninggalan sejarah memiliki nilai yang sangat tinggi bagi suatu negara. Melalui peninggalan bersejarah inilah, para generasi muda, penerus bangsa, bisa menyaksikan bukti peradaban yang tinggi dan pernah mewarnai perjalanan sejarah bangsa. Peninggalan sejarah ( dalam: serbasejarah.wordpress.com/2013/07/09/warisan-sejarah/, diakses tanggal 7 September 2014 ) merupakan warisan yang berdaya guna bagi generasi manusia selanjutnya
Sayangnya peninggalan sejarah tersebut terkadang tidak terawat, dicuri, dijual dan rusak. Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran warga negara terhadap nilai peninggalan sejarah. Ketika menyaksikan berita bahwa ada pencurian dan penjualan aset peninggalan sejarah bangsa, maka banyak yang mempertanyakan mengapa hal itu terjadi. Apakah pengelolaan yang tidak baik ataukah karena kesadaran dari sumber daya manusia yang masih rendah. Oleh karenanya, dalam usia yang masih belia, anak kelas IV SD khususnya, perlu dikenalkan contoh peninggalan sejarah di lingkungan sekitarnya serta pelestariannya. Tujuannya agar kelak ketika sudah dewasa mereka tidak terjebak dengan perbuatan yang merugikan pelestarian peninggalan sejarah.
Dalam pembelajaran pun pemahaman akan nilai peninggalan sejarah masih rendah. Ketika membaca teks pada Buku Siswa tentang Situs Trowulan ( Kemendikbud, 2014: 61), para siswa SD Muhammadiyah Branjang yang sudah bisa memahami dengan baik dengan nilai B- baru 27% dari 18 siswa. Sedangkan 73% dari 18 siswa kebanyakan mendapatkan nilai C. Mereka menemukan jawaban dengan mudah hanya pada pertanyaan nomor 1 dan 3. Sedangkan pada nomor 2, 4 dan 5 para siswa agak kesulitan menjawabnya karena memang materi pertanyaan tidak akan ditemukan dalam bacaan teks secara teksbook.
Pertanyaan selengkapnya dalam buku Siswa kelas IV, adalah sebagai berikut :
Pertanyaan- pertanyaan : (1) Di manakah letak Trowulan ? Apa saja yang ada di sana ?, (2) Hal penting apa yang kamu temukan dalam teks tersebut?, (3) Apakah pembangunan situs Trowulan bisa dikerjakan oleh satu orang saja? Jelaskan alasanmu.!, (4) Bagaimana cara kamu menghargai peninggalan sejarah?, (5) Apa manfaat menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah? ( Kemendikbud, 2014: 62)
Dari jawaban para siswa maka peneliti mengubah cara pembelajaran karena jika pembelajaran hanya terpaku pada panduan pada Buku Guru maka para siswa akan kesulitan menjawab pertanyaan cara menghargai peninggalan sejarah dan manfaat menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah. Padahal hal ini sangat penting bagi generasi muda agar bisa paham dan seterusnya bisa ikut menjaga kelestarian peninggalan sejarah karena mengingat manfaat dari peninggalan tersebut. Apalagi jika dibandingkan dengan nilai ketuntasan minimal yang ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih sangat jauh dari standar.
Melihat kurangnya pemahaman nilai peninggalan sejarah maka peneliti harus kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran yang tertuang dalam kurikulum. Peneliti dapat memanfaatkan peninggalan sejarah yang ada di sekitar sekolah yaitu dengan studi wisata ke situs- situs bersejarah terdekat. Sejarah menurut Anggar Kaswati (dalam: http://sejarah-sman1-tmg.blogspot.com/2013/03/pembelajaran-sejarah-dengan-metode.html, diakses tanggal 30 Agustus 2014 ) adalah rekonstruksi masa lalu dan apa yang direkonstruksikan adalah apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan dan dialami oleh manusia. Untuk merekonstruksi sejarah, langkah yang paling mudah dan tidak membutuhkan dana yang banyak adalah karya wisata di lokasi terdekat dengan sekolah, yaitu Situs Gondang yang berjarak sekitar 2 km dari sekolah.
Analisis Masalah
Ada ungkapan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan, atau menghargai sejarah bangsa. Atau bila mengutip pidato Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ir. Soekarno, beliau mengungkapkan jasmerah atau jangan sekali- kali melupakan sejarah dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-21, tanggal 17 Agustus 1966.
Menurut AH Nasution, Jasmerah adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno. Presiden memberi judul pidato itu dengan Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku "Jangan sekali- kali Melupakan Sejarah". (dalam: http://id.wikipedia.org/wiki/Jangan_Sekali-kali_Meninggalkan_Sejarah, diakses tanggal 30 Oktober 2014)
Dalam kenyataannya para siswa sulit memahami nilai- nilai peninggalan sejarah yang dimiliki bangsa Indonesia. Hal ini cukup memprihatinkan dan membutuhkan solusi atau penyelesaian agar para generasi muda bisa memahami sejarah bangsa. Jangan sampai ketidakpahaman terhadap nilai sejarah menyebabkan kerugian negara. Tentunya kita tidak ingin mendengar lagi ada berita tentang hilangnya peninggalan sejarah/ warisan sejarah bangsa. Untuk itu sejak anak- anak generasi harus dibekali dengan penting dan manfaat dari peninggalan sejarah tersebut melalui karya wisata di situs- situs sejarah yang dekat dengan lingkungan sekolah atau lingkungan rumah.
Yang perlu diingat ketika mengajarkan sejarah, adalah guru memahami tugas sejarah itu sendiri, bagaimana guru menciptakan pembelajaran yang efektif dan baik agar pembelajaran terkesan hidup dan tidak membosankan. Tugas sejarah ( dalam: serbasejarah.wordpress.com/2013/07/09/warisan-sejarah/, diakses tanggal 7 September 2014 ) bukan hanya sekedar "mengadili masa lalu" akan tetapi harus bisa "mengajar bagi masa kini, untuk masa depan". Agar pembelajaran di sekolah, termasuk pembelajaran sejarah, Setyosari ( Setyosari dalam : http://sejarah-sman1tmg.blogspot.com/2013/03/pembelajaran-sejarah-dengan-metode.html, diakses tanggal 30 Agustus 2014 ) berpendapat bahwa penggunaan media pembelajaran merupakan bagian yang sangat menentukan dalam efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan pembelajaran.
Ketika peneliti mengikuti langkah- langkah dalam Buku Guru, ternyata para siswa belum dapat memahami sepenuhnya tentang nilai- nilai sejarah dan pelestarian peninggalan sejarah. Hal ini ditambah dengan cakupan materi di Buku Siswa tidak detail. Siswa dituntut mencari sendiri informasi tentang nilai peninggalan sejarah, padahal sarana dan prasarana di sekolah kurang memadahi.
Banyak pendekatan yang dapat ditempuh peneliti dalam usaha perbaikan pemahaman nilai peninggalan sejarah. Pertama, pendekatan keluarga. Sejarah memiliki konsep dasar waktu, Rochiati ( dalam Sardjiyo, dkk, 2010: 2.14) menganjurkan cara pendekatan melalui pendekatan keluarga. Dengan menggunakan pendekatan ini para siswa akan mudah dalam memahami konsep waktu tentang masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Kedua, pendekatan diskusi. Ketiga, pendekatan jigsaw. Keempat, pendekatan kolaboratif. Kelima, pendekatan karya wisata.
Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran banyak sekali metode yang dapat diterapkan. Terdapat dua pandangan filosofi yang digunakan para guru dalam mengembangkan metode pembelajaran, yaitu behaviorisme dan konstruktivisme.
Melihat ciri yang dicapai anak usia Sekolah Dasar maka untuk meningkatkan pemahaman nilai peninggalan sejarah di Indonesia peneliti mengajak siswa belajar secara langsung di situs peninggalan sejarah yang letaknya tidak jauh dari sekolah melalui karya wisata. Karyawisata adalah kunjungan ke suatu tempat atau objek dalam rangka memperluas pengetahuan dalam hubungan dengan pekerjaan seseorang atau sekelompok orang. Menurut Sri Anitah ( dalam: gurukelas.com/2011/07/metode-karyawisata-field-trip.html,, diakses tanggal 24 Agustus 2013) menyatakan bahwa metode karyawisata hampir sama dengan pembelajaran outdoor yaitu aktivitas pembelajaran sama-sama dilaksanakan di luar kelas.
Menurut pendapat Roestinah teknik karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut :
Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanyajawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran ataupun pengetahuan umum. ( Roestinah dalam: http://65nurulhidayat.blogspot.com/2014/01/metode-pembelajaran.html, diakses tanggal 7 September 2014 )
Karya wisata memiliki kelebihan dan kelemahan ketika digunakan sebagai metode pembelajaran materi sejarah. Selain membutuhkan waktu yang lama, tidak jarang pula karya wisata membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu dalam berkarya wisata, peneliti hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengajak dan menghubungkan materi pelajaran dengan peninggalan sejarah yang akan digunakan untuk karya wisata. Tujuannya agar materi pelajaran bisa ditangkap oleh siswa dengan mudah dan penyampaian nilai- nilai peninggalan sejarah akan lebih mudah diingat oleh siswa karena mereka melihat secara langsung wujud peninggalan sejarah tersebut.
Dalam mengatasi kelemahan metode karya wisata peneliti mengambil waktu pelaksanaan pembelajaran siklus kedua pada sore. Selain itu, peneliti akan memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap kreativitas siswa, mengambil lokasi peninggalan sejarah terdekat yang berjarak kurang lebih 2 km dari sekolah, yaitu di Situs Gondang. Situs ini beralamat di Gondang Ngawis Karangmojo Gunungkidul. Sementara itu pada kelemahan nomor 4 peneliti tidak melihat unsur rekreasi yang terlalu menonjol.
Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut : Bagaimanakah peningkatan pemahaman nilai Peninggalan Sejarah Situs Gondang melalui metode karya wisata siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul ?
Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah menguji manfaat karya wisata di Situs Gondang dalam meningkatkan pemahaman terhadap nilai peninggalan sejarah kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul.
Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1. Bagi Siswa
2. Bagi Guru
3. Bagi Kepala Sekolah
4. Bagi Peneliti yang lain
Sunday, August 23, 2015
Contoh Format Halaman Pengesahan PKP UT
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESI
Nama Mahasiswa
|
:
|
|
NIM
|
:
|
|
Program Studi
|
:
|
|
Tempat Mengajar
|
:
|
|
Jumlah Pembelajaran
|
:
|
|
|
Tempat dan tanggal Pelaksanaan
|
:
|
|
Masalah yang merupakan fokus dari PKP :
1.
2.
3.
Wonosari, September 2014
|
Menyetujui,
Supervisor
..............................
|
Penyusun
.......................................
|
ABSTRAK KARYA ILMIAHKU DI UT TAHUN 2014
Dalam kesempatan ini akan saya posting karya ilmiah saya yang sebelumnya telah saya unggah di UT Pusat pada tahun 2014. Adapun karya ilmiah lengkap akan saya posting beberapa waktu yang akan datang, untuk menjaga keaslian karya ilmiah saya. Semoga dari abstrak ini akan memberikan manfaat bagi para pembaca yang akan melakukan perbandingan pembelajaran IPS maupun akan melakukan PTK.
PENINGKATAN PEMAHAMAN NILAI PENINGGALAN SEJARAH
SITUS GONDANG MELALUI PENDEKATAN KARYA WISATA
SISWA KELAS IV SD MUHAMMADIYAH BRANJANG KARANGMOJO GUNUNGKIDUL
Oleh :
Zahrotul Mujahidah
822429432
ABSTRAK
Pemahaman siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang terhadap nilai peninggalan sejarah sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil capaian siswa ketika mengerjakan soal yang berkaitan dengan peninggalan sejarah Trowulan. Dari 18 siswa yang nilainya di atas KKM adalah 5 siswa. KKM yang ditentukan dalam Kurikulum 2013 adalah 66-70. Untuk mengatasi kurangnya pemahaman nilai peninggalan sejarah siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul maka peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan karya wisata di Situs Gondang.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Metode pengumpulan data yang menggunakan observasi tes. Penelitian ini dilaksanakan di SD Muhammadiyah Branjang Karangmojo Gunungkidul dengan subjek siswa kelas IV yang berjumlah 18 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan dibantu oleh Ibu Inti Sukawati, S.Pd.I selaku teman sejawat. Siklus I dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Agustus 2014 dengan pencapaian nilai di atas KKM adalah 33% dari seluruh siswa. Sedangkan penelitian Siklus II dilaksanakan pada hari Senin, 25 Agustus 2014.
Hasil perolehan nilai siswa yang di atas KKM pada siklus kedua meningkat menjadi 94% dari seluruh siswa. Melihat hasil perolehan nilai pada dua siklus tersebut, peneliti mengambil kesimpulan bahwa pemahaman siswa kelas IV SD Muhammadiyah Branjang meningkat melalui pendekatan karya wisata di Situs Gondang Karangmojo Gunungkidul.
Peneliti memberikan saran agar guru sebaiknya lebih banyak menerapkan pendekatan karya wisata peninggalan sejarah di sekitar untuk materi yang berkaitan dengan materi sejarah. Selain itu, peneliti juga memberikan saran kepada siswa lebih peka terhadap peninggalan sejarah yang ada di sekitar sekolah maupun lingkup daerah lain.
Kata kunci : pemahaman, peninggalan sejarah, karya wisata
Saturday, May 16, 2015
Proposal PTK-ku untuk Tugas PLPG Tahun 2013: Penggunaan Teknik Student Team's Achievement Division ( STAD ) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Materi Kerajaan- Kerajaan yang Bercorak Hindu- Budha di Indonesia Siswa Kelas V SD Muhammadiyah Branjang Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/ 2014
Dalam kesempatan ini saya akan menampilkan proposal PTK saya yang saya buat untuk pembuatan proposal PTK dalam program PLPG tahun 2013 di Kaliurang.
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN
KELAS
PENGGUNAAN TEKNIK STUDENT TEAM’S ACHIEVEMENT DIVISION (STAD )
UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATERI KERAJAAN- KERAJAAN YANG BERCORAK
HINDU- BUDHA DI INDONESIA SISWA KELAS V SD MUHAMMADIYAH BRANJANG SEMESTER GENAP
TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014
Oleh :
Zahrotul Mujahidah
No Urut 08
PLPG RAYON
111
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2013
BAB I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pelajaran IPS Sejarah dirasakan sangat sulit
bagi siswa karena cakupan materi yang banyak
sehingga cenderung malas untuk balajar. Akibatnya siswa tidak bisa
memahami konsep sejarah dan hasil belajar pun tidak baik. Banyak siswa yang
nilai ulangan harian maupun ulangan akhir semester/ ulangan kenaikan kelas
jelek. Siswa menganggap materi IPS sejarah harus banyak menghafal mulai dari
tanggal, tokoh, tempat dan kejadian masa lalu.
Dari kurangnya pemahaman konsep sejarah mengakibatkan siswa menganggap materi
pelajaran IPS Sejarah tidaklah penting. Apalagi materi IPS umumnya dan Sejarah
pada khususnya tidak termasuk mata pelajaran yang di UNAS kan. Dari fakta ini
menyebabkan makin buruknya kesadaran cinta tanah air dan bangsa. Padahal kita
diingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa sejarah/
jasa para pahlawannya.
Terlepas
dari kebijakan pemerintah yang tidak memasukkan materi IPS Sejarah sebagai mata
pelajaran UNAS, guru harus kreatif agar siswa senang dan dapat memahami konsep.
Untuk itu guru bisa menerapkan teknik Student
Teams Achievement Division ( STAD ). Dari teknik ini siswa dibagi menjadi
enam kelompok, dan diberi tugas untuk membuat makalah kerajaan yang bercorak
Hindu- Budha. Melalui kegiatan ini siswa mau tidak mau sudah mambaca materi
terlebih dahulu. Setelah makalah jadi, maka dipresentasikan di kelas. Siswa
dari kelompok lain bisa mengajukan pertanyaan ke kelompok yang mempresentasikan
makalah. Siswa yang mempresentasikan makalah bisa bekerjasama dalam menjawab
pertanyaan. Kemudian guru meluruskan jawaban- jawaban yang diungkapkan. Jadi,
siswa tidak hanya mengandalkan guru IPS untuk memahami materi pelajaran.
B.
Rumusan Masalah
Berdasar
latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut :
Apakah teknik Student Team’s Achievement Division ( STAD ) dapat
meningkatkan pemahaman konsep materi Kerajaan- kerajaan yang bercorak Hindu-
Budha di Indonesia siswa kelas V SD Muhhammadiyah Branjang semester genap tahun
pelajaran 2013/ 2014 ?
C.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian ini adalah :
a. Siswa lebih mencintai dan menghargai
sejarah bangsa pada umumnya dan materi pelajaran IPS Sejarah pada khususnya.
b. Menguji manfaat Student Team’s Achievement
Division ( STAD ) dalam meningkatkan pemahaman konsep Kerajaan- kerajaan
yang bercorak Hindu- Budha di Indonesia siswa kelas V SD Muhammadiyah Branjang
semester genap tahun pelajaran 2013/ 2014.
D.
Manfaat Hasil Penelitian
a. Bagi siswa
·
Siswa
lebih senag mempelajari IPS Sejarah
·
Siswa
lebih aktif dan kreatif dalam belajar
·
Siswa
bisa berinteraksi dengan teman dan guru
·
Prestasi
belajar meningkat
b. Bagi guru
·
Meningkatkan
keterampilan dalam mengelola kelas
·
Meningkatkan
keterampilan dalam inovasi pembelajaran
·
Meningkatkan
ilmupengetahuannya
c. Bagi Kepala Sekolah
·
Mengetahui
kreatifitas dan prestasi guru dalam kegiatan belajar mengajar di kelas
·
Mengetahui
prestasi siswa dalam proses belajar mengajar IPS Sejarah
BAB II. KERANGKA TEORITIK DAN
HIPOTESIS TINDAKAN
a.
Kerangka Teoritik
Penelitian
ini dilakukan dengan memperhatikan teori- teori tentang pentingnya materi
sejarah bagi siswa serta dasar teknik STAD. Pada akhir sejarah terdapat tujuan
yang memberi makna kepada sejarah. (Sartono
Kartodirjoh 1986, hal 108 ).
Makna sejarah sendiri tergantung pada masanya. Sejarah yang mendapat
dukungan Romantisisme menciptakan sistem
dan masyarakat politik yang lebih dikenal sebagai “Negara Nasional” ( Sartono,
hal. 112 ). Dalam hal ini tugas sejarah pada umumnya dan pelajaran sejaran pada
khususnya mengarah pada kepentingan negara nasional Indonesia.
Mengingat
pentingnya sejarah, guru IPS memiliki tugas penting untuk selalu mengingatkan
siswa bahwa sejarah bukan hanya untuk syarat naik kelas atau kelulusan. Oleh
karena itu, pekerjaan rumah bagi guru IPS adalah menjadi sarana bagi siswa
untuk bisa memahami konsep sejarah mulai dari masa pra aksara sampai sejarah
Hindu- Budha, masa Islam, masa memperjuangkan kemerdekaan dan masa
mempertahankan kemerdekaan.
Agar siswa dapat memahami
konsep sejarah dengan baik guru dapat menerapkan berbagai macam metode/ teknik
pembelajaran. Mengingat berbagai kesulitan dari metode- metode yang ada,
peneliti berusaha menerapkan metode/ teknik yang sekiranya membuat siswa
belajar menemukan fakta sejarah dari buku- buku literatur yang relevan dengan
silabus IPS Sejarah. Peneliti mencoba menguji metode/ teknik Student Team’s Achievement Division ( STAD)
dalam pemahaman konsep sejarah bagi siswa kelas V. Penerapan
metode ini menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran, seperti pendekatan
kooperatif, kontekstual, dan konstruktif. (Herdian,S.Pd. M.Pd.)
Penerapan metode STAD terdiri atas siklus pembelajaran yang membawa siswa
pada suasana kerja sama yang diharapkan. Siklus kegiatan pembelajaran tersebut
adalah:
1.
Mengajar: menyajikan pembelajaran,
2. Belajar dalam
tim: siswa bekerja dalam tim dengan dipandu oleh lembar kegiatan untuk
menuntaskan materi pelajaran,
4.
Penghargaan tim: skor tim dihitung berdasarkan skor
peningkatan anggota tim, laporan berkala kelas. Papan pengumuman digunakan
untuk memberi penghargaan kepada tim yang berhasil mencetak skor tinggi.
(Herdian,S.Pd.
M.Pd.)
b.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini adalah penggunaan teknik Student Team’s Achievement Division ( STAD ) dapat meningkatkan pemahaman
konsep materi Kerajaan- kerajaan yang bercorak Hindu- Budha di Indonesia siswa
kelas V SD Muhammadiyah Branjang semester genap tahun pelajaran 2013/ 2014.
BAB III. RANCANGAN PENELITIAN
A.
Setting Penelitian
Tempat
|
:
|
SD
Muhammadiyah Branjang
|
Waktu penelitian
|
:
|
6 bulan ( Januari- Juni 2014 )
|
Subyek penelitian
|
:
|
Siswa kelas V SD Muhammadiyah Branjang
|
B.
Rancangan Tindakan
Adapun rancangan tindakan yang akan
dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tahap Awal
Pada tahap ini peneliti melkukan
penjajagan yaitu dengan memfokuskan pada permasalahan yang ada, kemudian
menganalisisnya. Selanjutnya merumuskan masalah yang relevan dan dapat
dijadikan sebagai rumusan masalah yang akan diteliti dan dipecahkan melalui
STAD yang akan dilaksanakan.
2. Tahap Penyusunan Rencana Tindakan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada,
peneliti menyusun dan mengembangkan rencana/ skenario tindakan yang akan
dilakukan, sehingga siswa kelas V SD Muhammadiyah Branjang dapat memahami
konsep materi kerajaan- kerajaan yang bercorak Hindu- budha di Indonesia.
3. Tahap pelaksanaan/ Implementasi
Tindakan
Adapun langkah yang akan dilakukan
dalam STAD sebagai berikut :
-
Guru
membagi kelas menjadi 6 kelompok
-
Kelompok
diberi tugas membuat makalah tentang kerajaan Tarumanegara, Mataram Hindu-
Budha, Singasari, kediri, Sriwijaya dan Majapahit.
-
Masing-
masing kelompok mempresentasikan makalahnya.
-
Siswa
dari kelompok lain mengajukan pertanyaan ke kelompok yang mempresentasikan
makalah.
-
Kelompok
yang mempresentsikan makalah saling bekerjasama dalam menjawab setiap
pertanyaan yang diajukan.
-
Guru
mengoreksi, meluruskan pertanyaan dan jawaban dari para siswa.
-
Guru
dan siswa membuat kesimpulan dari materi yang dipresentasikan.
4. Tahap Observasi
Peneliti melakukan observasi terhadap
kegiatan belajar mengajar dari awal sampai akhir kegiatan. Peneliti mencatat
kejadian- kejadian selama pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan cermat.
5. Tahap Refleksi
Menganalisis data, mengevaluasi
apakah pelaksanaan STAD menghasilkan apa yang peneliti harapkan. Apakah ada
kekurangan, kelebihan, di mana letak
kekurangannya sebagai dasr untuk perlu tidaknya dilakukan kegiatan
ulangan atau untukmenyusun rencana kegiatan bverikutnya sehingga hasil akhir
PTK benar- benar memuaskan.
C.
Data dan Teknik Pengumpulannya
1. Bentuk dan Analisis Data
Data berbentuk kualitatif, sehingga
data dianalisis secara kualitatif. Meski demikian dari segi frekuensi, apa yang
dilakukan oleh guru dan siswa termasuk hasilnya dapat berupa kuantitatif (
angka- angka).
Tentunya pengujian terhadap hipotesis
bahwa penggunaan teknik Student Team’s
Achievement Division ( STAD ) dapat
meningkatkan pemahaman konsep materi Kerajaan- kerajaan yang bercorak Hindu-
Budha di Indonesia siswa kelas V SD Muhammadiyah Branjang semester genap tahun
pelajaran 2013/ 2014 tersebut dinyatakan dalam bentuk kualitatif. Artinya
terjadi peningkatan atau tidak terjadi peningkatan pemahaman konsep bagi siswa
kelas V SD Muhammadiyah Branjang dengan metode STAD.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan
dengan beberapa cara yaitu observasi, interview, dokumen dan metode lain yang
disesuaikan dengan keadaan di lapanngan saat melakukan kegiatan.
Adapun instrumen pengumpul data yang digunakan peneliti antara
lain :
-
Lembaran
observasi
-
Pedoman
interview
-
Daftar
pertanyaan yang diajukan para siswa ketika dilakukan kegiatan
-
Dokumen
( foto )
-
Check
list, dll.
JADWAL PENELITIAN
NO
|
KEGIATAN
|
Bulan 1
|
Bulan 2
|
Bulan 3
|
Bulan 4
|
Bulan 5
|
Bulan 6
|
1
|
Identifikasi
masalah
|
M1
|
|||||
2
|
Pengadaan
ATK
|
M1
|
|||||
3
|
Penyusunan
proposal
|
M1-2
|
|||||
4
|
Design
instrumen
|
M3-4
|
|||||
5
|
Pelaksanaan
STAD dan pengumpulan data
|
M1-4
|
M1-4
|
M1-4
|
|||
6
|
Analisis
data
|
M4
|
M1-4
|
||||
7
|
Penyusunan
laporan
|
M4
|
M1
|
||||
8
|
Seminar
hasil penelitian
|
M2-3
|
|||||
9
|
Revisi
laporan ( bila perlu )
|
M3
|
|||||
10
|
Pengiriman
laporan
|
M4
|
DAFTAR PUSTAKA
Herdian. 2010. Ada apa
dengan Student Team’s Achievement Division (STAD).
IGAK Wardani, Kuswaya
Wihardit, Noehi Nasution. 2006. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka
Nur Azizah. 2010. Penerapan STAD ( Student Team’s Achievement Divisionn) pada Pembelajaran Persamaan Garis
Lurus untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII. SKRIPSI Jurusan Matematika - Fakultas MIPA UM
Sartono Kartodirjo. 1986.
Ungkapan- ungkapan Filsafat Sejarah Barat dan Timur. Jakarta : PT Gramedia
BIODATA PENELITI
Nama
|
:
|
Zahrotul
Mujahidah, S. Pd.
|
NIP
|
:
|
-
|
Tempat
Tanggal Lahir
|
:
|
-
|
Pangkat/
golongan Ruang
|
:
|
-
|
Pendidikan
terakhir
|
:
|
S
1 Pendidikan Sejarah UNY 2004
|
Pekerjaan
|
:
|
Guru
Tetap Yayasan
|
Subscribe to:
Posts (Atom)
