Showing posts with label Serba- serbi Agama. Show all posts
Showing posts with label Serba- serbi Agama. Show all posts

Saturday, March 16, 2024

Ramadan Momentum Hadirkan Allah, Kenapa?

Edit gambar dengan Canva. Dokpri
Gambar diolah dengan Canva. Dokpri 


Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah tentu saja harus taat dan patuh kepada Allah. Beriman dan bertaqwa. Hal itu bisa dibuktikan dengan semua amalannya selama hidup. Sayangnya, manusia sering khilaf, ajaran agama ditinggalkan. 

Oleh karenanya, tidak ada salahnya jika pada bulan Ramadan kali ini, manusia memiliki tekad kuat untuk menjadikannya sebagai bulan Ramadan yang terbaik di tahun ini. Hal ini karena manusia tidak ada yang tahu sampai kapan hidup di dunia. Manusia tidak tahu, apakah tahun depan masih bisa dipertemukan lagi dengan bulan mulia ini ataukah tidak.

Ramadan sangat penting bagi manusia untuk kembali mengisi ulang lahir batin dengan kebaikan yang sering terlupa di bulan-bulan lainnya. Apalagi saat ini di Indonesia baru saja menyelenggarakan pesta demokrasi. Sudah barang tentu terdapat pro kontra antar pendukung dan elit politiknya.

Sudah saatnya di bulan suci Ramadan ini semua memperbaiki diri. Menghilangkan segala penyakit hati yang sempat ada. Mulai diisi dengan kemuliaan hati. 

Bagaimana pun, Ramadan mengajarkan kepada manusia untuk menghadirkan Allah SWT dalam setiap langkah, dalam setiap hela napas. Segala aktivitas atau kegiatan, termasuk dalam cakupan berbangsa dan bernegara, harus ada Allah yang membersamai. Efeknya, manusia akan selalu merasa diawasi atau dikontrol. Manusia akan lebih mawas diri, dan berusaha untuk tidak merugikan kepentingan orang banyak.

Berpuasa di bulan Ramadan, tidak seperti ibadah shalat. Ibadah shalat harus didirikan tanpa melakukan aktivitas lainnya. Tidak ada manusia yang menjalankan ibadah shalat sambil menulis, memasak dan sebagainya.

Sedangkan puasa adalah ibadah yang bisa dilaksanakan berbarengan dengan aktivitas lain. Selama aktivitas lain tersebut tidak membatalkan puasa. Orang berpuasa masih bisa bekerja, melakukan hobi, dan sebagainya.

Ketika mengerjakan puasa dan aktivitas tadi, Allah selalu ditempatkan di hati. Karena bisa jadi, sebelum bulan Ramadan, Allah hanya diletakkan di tempat-tempat ibadah sehingga urusan duniawi dicapai dengan segala cara. Entah cara halal maupun haram.

Padahal sebagai orang Indonesia, dalam Pancasila sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, menegaskan bahwa prinsip Ketuhanan menjadi dasar pertama bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Penerapan sila pertama Pancasila dan menghadirkan Allah menjadi prinsip hidup, harus terus diterapkan. Harus menjadi aksi nyata dalam keseharian. Keduanya saling melengkapi. Antara ajaran agama dan Pancasila harus seiring sejalan.

Manusia harus menyandarkan diri pada ajaran agama. Orang-orang yang selalu memegang teguh agama, adalah orang yang tidak melupakan dasar negaranya. Pada akhirnya, orang-orang seperti ini akan menjadi orang yang bertaqwa di ujung Ramadan. Ketaqwaan ini ditandai dengan bergetar hatinya jika disebut nama Allah. Hatinya selalu tersangkut dan terpaut kepada Allah.

Tak ada salahnya pada bulan Ramadan ini menjadi momentum bagi manusia untuk menjadi individu yang berpribadi baik dan menjadi warga masyarakat serta Warga Negara Indonesia yang baik. Upaya menghadirkan Allah ini tentunya harus bisa dilaksanakan secara konsisten agar menghasilkan pribadi kuat yang bisa membangun bangsa dan negara.


___


Branjang, 4 Ramadan 1445 H/14 Maret 2024

Wednesday, May 22, 2019

Sedekah Tak Sekadar Harta Benda

Bersedekah atau berbagi kepada sesama manusia sangat dianjurkan dalam ajaran agama. Dari sedekah ini ada banyak hal yang bisa diambil hikmahnya. Orang akan lebih saling menyayangi dan menghormati satu sama lain akibat praktik sedekah.

Bersedekah bisa dibiasakan sejak dini. Peran orangtua sangat besar bagi terbentuknya kebiasaan sedekah atau berbagi ini. Berbagi makanan kepada saudara, tetangga perlu dilatih dan itu bisa dicontoh dari perilaku manusia. Pada dasarnya anak itu selalu mencontoh orang dewasa di sekelilingnya. Meminjami alat tulis, atau peralatan lain pun termasuk sedekah.

Fenomena di perkotaan, di mana sering terlihat para pengemis. Dalam kondisi tersebut maka tak ada salahnya anak diajak untuk peka terhadap penderitaan atau kesulitan orang lain. Anak bisa diajak bersedekah sesuai dengan kemampuannya. Caranya dengan menyisihkan uang jajan dan sebagainya.

Namun sebenarnya ada praktik sedekah yang bisa jadi malah sering diremehkan oleh manusia. Sekalipun mereka hidup di Indonesia dimana orang Indonesia dikenal sebagai orang yang ramah kepada orang lain. Ya.. Tersenyum, menyapa orang lain ketika bertemu di jalan sering ditepikan. Apalagi di perkotaan. Satu sama lain sering cuek jika bertemu satu sama lain.

Meski merupakan sedekah yang paling mudah dan murah, jika hidup di lingkungan perkotaan maka akan jarang ditemukan. Saling bertemu di jalan pun tak ada senyum dan sapa satu sama lain.

Kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Sebagai orang Indonesia sepertinya telah kehilangan jati diri manusia yang ramah. Padahal jika kita belajar agama kita akan mendapatkan pengetahuan bahwa senyum adalah sedekah.

Akan berbeda jika hidup di pedesaan atau kampung. Jangan tanya dampaknya jika Anda tak menyapa dan tersenyum kepada orang yang berada di jalan atau tengah di beranda rumah. Pastinya akan dinilai tidak etis. Jiwa sosial di kampung lebih kental. Jadi paling tidak bunyikan klakson, kemudian tersenyum atau sekadar menganggukkan kepala. Anda akan disenangi orang sekitar kampung itu.

“Senyummu di depan saudaramu, adalah sedekah bagimu” (Sahih, H.R. Tirmidzi no 1956).

Senyum adalah bentuk dari sedekah yang paling mudah dan murah. Meski demikian tersenyum ketika berjumpa dengan orang lain perlu dibiasakan. Tersenyum termasuk salah satu kebaikan yang harus dilestarikan. Banyak kebaikan yang tercipta dari senyuman.

Lebih detail Rasulullah Muhammad saw  mengingatkan lewat sabdanya, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri”. (H.R. Muslim no 2626).

Tak bermuram durja, perbanyak senyuman ketika bertemu dengan orang lain memiliki banyak kebaikan. Bahkan jika kita tak mampu bersedekah harta benda, paling tidak kita bersedekah senyuman.

Senyuman akan menunjukkan rasa kasih sayang. Tentunya hal tersebut menyenangkan hati orang lain. Jika kita bisa menyenangkan orang lain maka pahala akan terus mengalir kepada kita. Disamping itu orang akan mendapatkan energi positif dari senyuman itu.

“Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia dengan hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu.” (H.R. al-Hakim (1/212)

Yuk tebar kebaikan dan senyuman untuk sesama agar menjadi damai, tenteram.

Thursday, May 17, 2018

Guidebook Ramadhan for Kids

Marhaban ya Ramadhan...

Selamat datang bulan yang mulia...

Bulan Ramadhan ini bisa kita manfaatkan untuk melatih dan membiasakan anak-anak kita untuk berpuasa. Untuk menambah semangat berpuasa, ibu bapak bisa menggunakan Guidebook Ramadhan for Kids. Layout dan content: Ragwan M Al-Aydrus. Email:gwan.aydrus@gmail.com

Buku ini berisi Tips untuk orangtua, penanda harian, check list ibadah, topik ngobrol harian(selama 30 hari) dan ide quality time.

Contoh isi bukunya seperti ini,
Check list harian

Check list ibadah

Materi obrolan setiap hari (30hari)

Yuk... download Guidebook Ramadhan for Kids. Biar anak ceria menjalani ibadah puasanya.

Guidebook Ramadhan for Kids. Download

Semoga bermanfaat untuk penanaman nilai--nilai puasa buah hati kita. Aamiin.

Wednesday, May 16, 2018

Penetapan Awal Ramadhan: Maklumat dari Muhammadiyah


Marhaban ya Ramadhan...
Selamat datang bulan mulia
Mari kita siapkan hati untuk menjalankan dan mengamalkan ibadah puasa dan amalan lainnya di bukan penuh berkah ini.

Berikut ini Maklumat dari Muhammadiyah tentang penetapan Awal Ramadhan

Selamat berpuasa semuanya.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Friday, December 05, 2014

Haramkah Mengucapkan Selamat Natal ?

Tulisan ini pernah saya posting di blog saya yang lain di joraazzashifa.wordpress.com  sekitar setahun yang lalu.
Setiap tanggal 25 Desember, umat Nasrani sedunia merayakan hari natal. Nah, bagi umat Islam ada larangan untuk memberikan ucapan selamat natal kepada para Nasrani. Bahkan ada  yang mengHARAMkan ucapan selamat natal dan ucapan- ucapan yang senada dengan itu. Meskipun larangan tersebut dinilai jauh dari toleransi beragama yang dikembangkan dan digembar-gemborkan para tokoh demokrasi, ada baiknya kita mengkaji, mengapa ada larangan tersebut.
Ada pula golongan ulama yang secara umum menyatakan bahwa memberikan ucapan selamat natal hukumnya diperbolehkan. Bagaimanakah dalilnya ?
DALIL QURAN DAN HADITS ULAMA YANG MENGHARAMKAN UCAPAN SELAMAT NATAL
Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang dalil yang menyatakan haramnya ucapan selamat natal, kita perlu paham bahwa umumnya yang mengharamkan ucapan selamat Natal adalah ulama Wahabi yang terinspirasi dari fatwa Ibnu Taimiyah dan  muridnya, Ibnul Qayyim. Inti alasan dari ulama yang mengharamkan adalah karena mengucapkan selamat pada perayaan orang non-muslim sama dengan mengakui kebenaran agama mereka dan itu bertentangan dengan Quran QS. Al-Zumar: 7; QS. Al-Maidah: 3.
1. Ibnu Taimiyah
2. Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah
3. Fatwa Syeikh Al-'Utsaimin (ulama Wahabi)
4. Seluruh ulama Wahabi Salafi.
5. Seluruh aktifis dan simpatisan Wahabi Salafi di Indonesia.
Berdasarkan fatwa dari Ibnu Taimiyah dan ulama Wahabi Muhammad bin Shalih Al Uthaimin, berikut dalil yang dikemukakan.
- QS Al-Furqon 25:72 "Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya."
- QS Az-Zumar 39:7: "Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu."
- QS Al-Maidah 5:48 "Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang."
- QS Al-Maidah 5:3 "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."
- QS Ali Imran 3:85 "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi."
- Hadits مَنْ تشبّه بقوم فهو منهم (Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia menjadi bagian darinya).

DALIL QURAN DAN HADITS ULAMA YANG MENGHALALKAN UCAPAN SELAMAT NATAL
- QS Al-Mumtahanah 60:8 "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." 
- QS Al-Baqarah 2:83: "...serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" 
- QS An-Nahl 16:90: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..."
- QS An-Nisa' 4:86 "Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)."

Tokoh yang memiliki pendapat ini antara lain
1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi (Ahli Fiqih asal Mesir paling berpengaruh saat ini).
2. Dr. Ali Jumah (Mufti Mesir saat ini)
3. Dr. Ali Tantawi (Syekh Universitas Al Azhar Mesir)
4. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq (mantan Menteri Wakaf Mesir)
5. Dr. Mustafa Ahmad Zarqa' 
6. Dr. Wahbah Zuhayli (Ahli Fiqih asal Syria)
7. Dr. M. Quraish Shihab (Ahli Tafsir asal Indonesia)
8. Fatwa MUI (Majlis Ulama Indonesia) dan Buya Hamka
9. Dr. Din Syamsuddin 
10. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah
11. Dr. Syaraf Qudhat pakar hadits dari Fakultas Syariah Universitas Yordani
Sumber bacaan :



Sunday, March 09, 2014

Teori Asal Usul Agama

Manusia dan agama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Agama merupakan gejala/ fenomena universal dalam kehidupan manusia. Menurut Fransisco J. Morino, umur agama setua umur manusia. Sedangkan menurut Max Muller menyatakan bahwa sejarah umat manusia adalah sama sejarah agama.

Manusia dan agama merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Agama merupakan gejala/ fenomena universal dalam kehidupan manusia. Menurut Fransisco J. Morino, umur agama setua umur manusia. Sedangkan menurut Max Muller menyatakan bahwa sejarah umat manusia adalah sama sejarah agama. Berbeda lagi pendapat dari Rasyidi yang menyatakan bahwa agama adalah problem of ultimate concern. Nilai- nilai mutlak ini diperlukan manusia sebagai pegangan dalam kehidupannya, menurut Milton Yinger.

Hal yang pertama kali membuat manusia beragama adalah dorongan rasa takut ketika menghadapi gejala alam yang dahsyat baik yang bersifat internal maupun eksternal. Gejala yang bersifat internal misalnya kematian, sedangkan gejala yang bersifat eksternal misalnya wabah penyakit, bencana, dll. Dari gejala- gejala tadi manusia merasa bahwa memang ada kekuatan gaib yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga agar manusia bisa selamat dari berbagai gejala alam maka harus ada hubungan dengan yang gaib tadi melalui perilaku seperti member sesaji, semedi, dll.

Dalam berhubnan dengan yang gaib maka berkaitan dengan dimensi waktu yang berulang- ulang/ permanen serta tempat yan disucikan/ dianggap keramat. Akibatnya hubungan manusia dengan yang gaib menjadi hal yang baku/ wajib dilakukan.

Adapun Teori Evolusi Agama menurut E. B. Taylor meliputi:
1.       Animisme yaitu percaya pada roh- roh halus.
2.       Politheisme merupakan personifikasi makhluk halus dalam bentuk tertentu sehingga dalam berbagai aspek kehidupan pasti ada yang menguasai.
3.       Monotheisme , terdapat dewa tertinggi yang mengauasai dewa- dewa yang lain.


Menurut  J.G. Frazer dalam beragam terdapat “magi” yaitu pemanfaatan makhluk halus oleh manusia. R. R.  Marret ada istilah “mana” yaitu menyerap kekuatan gaib dan disimpan dalam benda- benda praktis. Sedangkan Andrew Hang nenyatakan bahwa monotheisme mutlak bagi manusia.

Friday, January 17, 2014

Shalat Dengan Menggendong Bayi

Memiliki anak yang masih kecil, tentu saja membuat para ibu sibuk membagi waktu. Bahkan untuk shalat pun harus dilaksanakan secara " tidak lazim ", begitu pendapat saya ketika baru saja memiliki anak balita. Tidak jarang saya shalat sambil menggendong anak dengan menggunakan selendang panjang dari rakaat pertama hingga rakaat terakhir. 
Nah, hari ini, saya baru saja mendapat informasi penting, bahwa memang orangtua yang memiliki anak balita/ bayi diperbolehkan shalat sambil menggendong si kecil asalkan kebersihan dan kesucian tetap terjaga. 
Hanya saja, ternyata cara menggendong dalam shalat yang dulu saya lakukan terhadap anak- anak saya berbeda dengan artikel dari islampos.com. Seperti yang saya ceritakan tadi, dulu saya menggendong anak ketika shalat dengan menggunakan selendang panjang dari rakaat pertama sampai rakaat terakhir, tanpa meletakkan si kecil di lantai ketika melakukan gerak sujud, misalnya. Wallahu'alam, shalatnya dulu sah atau tidak.
Ini gambar yang saya dapat dari islampos.com mengenai gerakan shalat sambil menggendong anak.

Semoga sharing dari saya bermanfaat bagi para orangtua yang memiliki buah hati usia balita/ bayi.