Showing posts with label Serba-serbi Cerita Anak. Show all posts
Showing posts with label Serba-serbi Cerita Anak. Show all posts

Tuesday, October 08, 2019

Si Burung Surga

Ilustrasi: kumpulberita.com

Aku sering dijuluki sebagai burung surga. Aku termasuk salah satu hewan khas dari Indonesia bagian Timur, tepatnya dari tanah Papua. Akulah Cenderawasih. Pasti teman- teman tahu tentang burung cenderawasih sepertiku. Kami sangat dikenal karena keindahan warna bulu kami.

Dahulu kala, keindahan kami diabadikan sebagai gambar dalam koin mata uang di Indonesia. Teman- teman pasti belum pernah melihat mata uang itu. Uang itu sudah tidak diedarkan dan tidak berlaku lagi sebagai alat tukar pembayaran.

Gambar mata uang bergambar cenderawasih. Gambar: tokopedia

Dilihat dari tipeya, aku adalah hewan bertipe Australis. Warna buluku indah. Warna biru pada sayap dan badanku, sementara bulu kepalaku berwarna hitam. 

Temanku yang lain ada yang warna dominan merah berpadu kuning dan paruhnya biru. Ada juga yang warna bulu terdiri dari warna coklat,kuning dan putih. Elok sekali bukan?

Warna- warna buluku dan teman- temanku tadi menandakan pengelompokan jenis kami. Kami biasa tinggal di hutan yang berada di daerah dataran rendah. Nyaman sekali di hutan. Sejuk, segar dan teduh. Kami berharap hutan yang kami tinggali tetap lestari. Agar kami bisa hidup dan berkembang biak dengan baik.

Akan tetapi meski hutan kami terjaga, bukan berarti kami bisa hidup nyaman di hutan. Tangan- tangan manusia yang jahil menjadi ancaman kelestarian hidup kami.

Perburuan dan penangkapan liar mengancam keberadaan kami. Manusia memperdagangkan kami untuk kepentingan mereka. Bulu- bulu kami dijadikan sebagai penghias topi wanita di Eropa. Kalau ditanya apakah kami sedih, pasti kami menjawab sedih, bahkan marah. Kami tidak bisa hidup bebas seperti dahulu. Kami tak bisa berbuat apa- apa. Benar- benar tak berdaya.

Akibat penangkapan dan perburuan liar itu, kami menjadi jenis satwa yang dilindungi. Oh iya jenis kami sangat banyak. Ada cenderawasih kuning kecil, cenderawasih botak, cendrawasih raja, cenderawasih merah dan toowa.

Harapan kami saat ini adalah manusia tak mengganggu kami. Biarkan kami tetap lestari dan selalu dikenal sebagai kebanggan seluruh bangsa Indonesia. Bukan sekadar menjadi sejarah bahwa di Indonesia dulu pernah hidup burung surga yang keindahannya tiada duanya. 

Selamatkan dan lestarikan kami ya, teman- teman!

Tuesday, September 10, 2019

Fabel| Aku Jera


Ilustrasi: pngdownload.id

Aku merasa kesal sekali. Allah menciptakanku sebagai hewan yang menjijikkan. Lihat saja tempat hidupku, di tanah yang basah. Tak seperti ulat yang hidup di daun, ayam yang bisa bermain di atas tanah. Mereka diciptakan sungguh enak. Bisa melihat keindahan alam dan udara yang segar.

Sementara aku, aku yang adalah cacing. Aku sangat tersiksa dengan kondisiku. Ingin sekali kumelihat keindahan dunia seperti teman- temanku lainnya. Burung, monyet, ulat, kupu- kupu, capung, kucing. 

"Bu, aku ingin bermain bersama ulat itu. Boleh kan, bu?" kuutarakan keinginanku untuk bermain di luar rumah.

"Aduh, nak. Jangan. Nanti kamu kepanasan…"

Aku semakin kesal, ibuku tak mengizinkanku pergi. Padahal aku dan Ulat sudah janjian ketemu di bawah pohon tomat yang ada di atas tempat tinggal kami. 

"Ahh… ibu jahat! Masa aku main dekat rumah saja nggak boleh…"

Ibu hanya tersenyum melihatku cemberut. 

***
Siang harinya. Seperti biasa ibu menyuruhku untuk tidur siang. Aku hanya mengiyakan saja. 

Di hatiku aku bersorak, karena ibu pasti juga beristirahat kalau siang hari. Aku bertekad tak akan memejamkan mata. Jadi ketika ibu sudah terlelap, aku bisa menyelinap untuk pergi dan bermain dengan Ulat sahabatku.

Aku berada di samping ibu dan berpura- pura tidur. Sementara ibu sudah mulai terlelap. Dengan mudah aku meninggalkan rumah, menuju tempat tinggal Ulat. Aku bahagia sekali.

Pelan- pelan aku menuju rumah Ulat. Hawa panas terasa di kulitku. Namun tak kupedulikan. Aku ingin bertemu dan bermain dengan Ulat. 

Kulihat Ulat telah menungguku. Aku mempercepat langkahku. 

"Kok lama banget sih, Cing…" gerutu Ulat.

"Maaf, aku menunggu ibuku tidur dulu…"

**
Aku merasa kelelahan setelah bermain dengan Ulat. Badanku terasa kering dan panas. Kepalaku berkunang-kunang ketika dalam perjalanan pulang. Sampai di depan rumah, aku tak tahan lagi. Pandanganku terasa gelap.

***
Mataku terbuka. Namun kurasakan kepalaku terasa berat, mata pedih dan sekujur tubuhku perih. 

"Alhamdulillah kamu sudah siuman, nak. Kamu pingsan lama sekali…"

"Siuman?"

"Iya, nak. Kamu tadi pingsan di depan rumah…"

Lalu ibu menceritakan bahwa ibu dan bapak menggotong tubuhku. 

"Kamu dari mana saja, nak? Tubuhmu sampai terlihat kering begitu…"

Aku terpaksa menceritakan semua yang kulakukan kepada ibu dan bapak.

" Lain kali kamu dengarkan ibu, nak. Kamu tak boleh bermain di udara terbuka dan panas biar tubuhmu tak kering dan perih…"

"Iya. Benar kata bapak, nak. Kita memang diciptakan untuk hidup di tanah yang basah. Karena dari situlah kita bisa bisa mudah bernafas dan tubuh kita selalu lembab. Kalau di udara terbuka dan panas, kita akan kesulitan bernafas. Tubuh juga bisa kering atau perih…"

Ibu menjelaskan dengan sabar. Aku pun sadar bahwa tingkah lakuku tadi siang sangat berbahaya. Aku sudah merasakan sendiri akibatnya. 

"Maafkan aku, bu- pak. Aku janji nggak akan ulangi lagi…" 

Fabel| Tak Akan Bersedih Lagi

Pngtree

Hari ini Siput sangat sedih. Tak pernah dia merasa sesedih ini. Ada apa dengannya?

Hari ini dia mengikuti perlombaan dalam rangka hari ulang tahun Negeri Dongeng. Biasanya dia diam saja ketika diejek teman- temannya. Iya dia diejek karena leletnya saat dia berjalan serta lendirnya yang sangat menjijikkan. Bahkan itu sering dialaminya. Namun kali ini dia merasa dipermalukan oleh Monyet di depan binatang- binatang lainnya.

"Hahah... ngapain kamu ikut lomba dengan kami. Jelas kami bisa mencapai garis finish dengan cepat. Kalau kamu mana bisaaaa...hahahha..."

Ucapan Monyet itu disambut tawa binatang lainnya. Seolah Siput itu binatang yang benar- benar buruk dan tak pantas dihargai.


Mendengar perkataan Monyet dan tawa bintang lainnya, Siput segera pergi meninggalkan garis finish arena perlombaan lari para bintang Negeri Dongeng.

Tak henti- hentinya Siput menangis dan merutuki nasibnya. Dia merasa sedih. Bahkan dia merasa bahwa Allah tak adil padanya.

Sampailah Siput di sebuah pohon Tomat. Karena merasa lelah, Siput beristirahat sebentar di bawah pohon Tomat itu. Selama beristirahat, Siput masih terus merutuki nasibnya.

"Hai, Put. Aku perhatikan dari tadi kamu kelihatan kesal dan sedih. Ada apa hai, Put?"

Daun Tomat menyapanya dengan lembut. Siput merasa tubuhnya menjadi lebih sejuk karenanya.

"Iya, Daun Tomat. Aku sedih. Aku diejek Monyet. Aku lelet dan menjijikkan katanya. Lalu teman lain menertawakan aku..."

Siput menangis. Daun Tomat membiarkan Siput menangis sepuasnya. Barulah dia menyampaikan sesuatu ke Siput setelah Siput lebih tenang.

"Mereka tak mengetahui kelebihanmu, jadi mereka mengejekmu..."

"Kelebihanku...?"

"Iya, Put. Apa kamu tak tahu kelebihanmu?"

Siput menggelengkan kepala. Daun Tomat yang baik itu tersenyum.

"Lendir yang ada di tubuhmu itu sangat bermanfaat untuk kami. Untuk menghancurkan daun- daun seperti kami..."

Siput masih menyimak penjelasan Daun Tomat.

" Lendirmu itu menghancurkan kami, lalu mempermudah proses penguraian kami di tanah. Kamu tahu nggak Put, apa manfaat penguraian kami bagi tanah?"

"Apa  manfaatnya hai, Daun baik?"

"Kalau kami hancur di tanah maka tanah bisa subur. Kalau tanah subur, tanaman bisa tumbuh baik dan bermanfaat untuk sapi, kambing dan hewan yang makan daun..."

" Ooo...begitu?"

"Iya. Ada lagi kelebihanmu. Rumah cangkangmu...!"

"Kenapa dengan Rumah Cangkangku? Kadang aku merasa berat membawa cangkangku..."

Daun Tomat tersenyum manis.

" Rumah cangkangmu itu membuat tubuhmu aman kalau ada hewan predator yang mengancammu. Kamu bisa bersembunyi di balik rumah itu kan...?"

"Iya, Daun baik..."

"Nah, kamu itu punya kelebihan, Put. Kamu harus mensyukuri karunia Allah. Tak boleh merasa kalau Allah tak adil padamu. Allah Maha adil, Put..."

Siput menyetujui penjelasan Daun Tomat. Dia harus mensyukuri segala kelebihannya. Karena Allah menciptakan makhlukNya pasti ada kelebihan dan kekurangan. Dia sendiri pernah mendengar tausiyah itu dari Ustadz di Masjid Negeri Dongeng saat mengikuti pengajian anak-anak ---TPA---. Lebih baik menjadi makhluk yang selalu bersyukur ketimbang protes pada Allah bukan?

Siput juga berjanji tak akan sedih dan kesal. Dia hanya perlu bersabar untuk saat ini. Pasti nanti teman- temannya akan menyadari kesalahannya. Dia juga sudah memaafkan kesalahan teman- temannya. Allah saja Maha Pemaaf, mengapa Siput tak mau memaafkan? Pasti sombong sekali kalau dia tak memaafkan sesamanya.


Fabel| Kin dan Rum



Hai, kenalkan. Aku Kinjeng. Biasa dipanggil Kin. Aku hidup di Jawa. Aku adalah hewan yang sangat senang hidup di lingkungan berair. Orang- orang mengenalku sebagai bangsa capung. Tahu kan?

Oh iya. Capung itu banyak macamnya. Aku sendiri adalah capung yang seperti pada umumnya, bertubuh relatif besar. Aku bisa menjelajah tempat yang jauh. Tubuhku termasuk kuat.

Aku punya teman yang ukuran tubuhnya lebih kecil. Dia adalah Capung Jarum. Dia terlihat kurus, seperti jarum. Aku biasa memanggilnya dengan nama Rum. 

Berkebalikan denganku, Rum lemah ketika terbang. Jarak jelajahnya pun tak bisa jauh sepertiku. 

Meski kami berbeda fisik dan kebiasaan tetapi kami tetap bersahabat. Kami berdua bersahabat sejak kecil. Kami bermain di hutan, kebun, sawah, sungai, danau dan sebagainya. Sekiranya tempat itu nyaman untuk kami.

Sayangnya Rum temanku tak bisa menempuh perjalanan yang jauh dalam waktu yang cepat. Padahal aku ingin sekali selalu bersamanya, kemanapun. Jadi aku menahan keinginanku.

Namun dua hari lalu dia memaksaku untuk bermain ke hutan. Padahal letaknya sangat jauh dari tempat tinggal kami. Akibatnya saat ini Rum kelelahan. Makanya hari ini dia menolak ketika aku mengajak ke taman di kampung sebelah. 

"Kamu main saja, Kin. Aku tinggal di rumah dulu. Aku kecapekan setelah dua hari lalu kita main di hutan itu…"

Aku tak tega meninggalkan Rum yang kelelahan dan pegal- pegal tubuhnya. Rum  beristirahat di daun pisang teduh yang sejak dia menjadi nimfa. Nimfa itu salah satu dari siklus hidup capung seperti kami. Daun pisang yang lebar itu menjadi tempat tinggalnya. 

Aku hanya bermain di sekitar tempat tinggal Rum. Iya...hari ini aku berencana mengajaknya ke taman di kampung sebelah. Ternyata Rum baru tak enak badan.

Rum terlihat pucat. Sesekali aku terbang ke daun eceng gondok di kolam dekat pisang, tempat tinggal Rum. Aku bermain sambil mengawasi Rum. Rupanya dia tertidur.

Ketika bermain dan mengawasi Rum, aku teringat ibuku yang tiga bulan lalu meninggal. Ibuku berpesan agar aku selalu menyayangi teman- temanku. 

Aku juga ingat, ibuku pernah marah padaku karena hampir mencelakakan Rum. Waktu itu aku mengajak Rum bermain di air terjun. Karena tubuh Rum tak sekuat aku, Rum pingsan di perjalanan pulang. 

Saat itu aku panik sekali. Aku terbang cepat ke rumah, minta bantuan ibu. Dengan menahan rasa takut, aku melaporkan kondisi Rum. Ibu terlihat menahan marah.

Ibuku mencari ibu Rum. Mengajak ibu Rum ke dekat air terjun yang kami tuju untuk bermain. Dengan pelan dan sesekali beristirahat kami ke tempat Rum tergeletak. 

Oh iya. Ibu Rum juga kurus. Maklum mereka capung yang memang diciptakan seperti jarum. Tubuh ibu Rum juga tak sekuat ibu dan aku. Makanya aku dan ibu tetap sabar menunggu ibu Rum.

Akhirnya, setelah lama menuju tempat pingsan Rum, sampai juga kami di sana. Ibu Rum dan ibuku dengan sabar merawat Rum sampai pulih. 
Sejak kejadian dulu aku selalu hati- hati kalau mengajak Rum bermain. 
***
Aku masih menunggu Rum yang sedang beristirahat. Setelah lama beristirahat, kemudian Rum terbangun. Dia langsung terbang. Entah dia mau ke mana.

"Kau mau ke mana, Rum?"

Aku terbang mengejar Rum yang kecil dan kurus itu. Tak butuh waktu lama untuk mengejarnya. Rum menengok ke arahku. Dia tersenyum melihatku.

"Aku mencarimu, Kin. Kukira kamu sudah pergi ke taman itu…"

Aku tersenyum dan terbang di samping temanku itu.

"Nggak, Rum. Tamannya jauh. Aku tak tega melihatmu kelelahan. Kita main di dekat sini saja…"

"Aku nggak apa-apa kok, Kin. Kalau istirahat cukup pasti juga sudah baikan…"

"Hehehe… sesekali saja main jauhnya ya, Rum…"

Aku dan Rum berkejar- kejaran di sekitar kolam dekat rumah Rum. Senang sekali bisa bermain bersama teman seperti dia.

---
Ilustrasi gambar: gadis.co.id

Friday, August 31, 2018

Fabel: Angsa Putih

Belajar membuat fabel membutuhkan imajinasi yang cukup tinggi. Dengan segala keterbatasan saya mencoba membuatnya.

Semoga pembaca menikmati fabel ini.

Angsa Putih (1). Lihat di Sini

Angsa Putih (2). Lihat di Sini

Angsa Putih (3). Lihat di Sini

Angsa Putih (4). Lihat di Sini

Semoga bermanfaat. Terimakasih. 🙏😊

Saturday, August 25, 2018

Kumpulan Fabel untuk si Kecil

Di tengah perkembangan zaman ini, tak ada salahnya kita memberikan edukasi yang mendidik bagi si kecil lewat cerita-cerita anak. Di sana ada banyak amanat positif yang tersirat dan baik diajarkan kepada mereka.

Nah...ini beberapa kumpulan cerita fabel yang dapat dibacakan untuk si kecil.

Singa yang Baik Hati (1). Lihat di Singa (1) atau lihat di Sini

Singa yang Baik Hati (2). Lihat di Singa (2)

Keluarga Kupu-kupu. Lihat di Kupu-kupu

Semoga bermanfaat! 🙏😊