Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Friday, July 14, 2023

Belajar Bersahabat dengan Alam


Gemericik air Sungai Branjang terdengar dari arah utara, memanjakan telinga yang lama terpolusi deru debu jalanan, kembali memberikan kenyamanan dan ketenangan, saat menyusuri hutan kayu putih.

Suara cicit burung mengiringi gemericik di Sungai Branjang kilometer dua, semakin rianglah hati, bersamai para penerus bangsa, menikmati dinginnya air dan sejuknya angin yang berhembus.

Suara-suara kecil anak-anak beradu dengan suara para guru, yang ingatkan untuk berhati-hati saat turun dan menyeberangi sungai, tawa riang tetap terlontar dari mereka. Beberapa tangan kecil mengulurkan tangan untuk meminta tolong, dengan senang hati disambut teman lainnya atau guru.

Duduk di bebatuan sungai, membuka bekal yang disiapkan bunda, terasa nikmat ditemani suasana sungai yang debit airnya sedikit berkurang di bulan Juli ini. "Sampahnya disimpan di tas masing-masing. Nanti di sekolah baru kalian buang sampah di tempat sampah!"

Di Sungai Branjang ini mereka menikmati kesejukan dan keindahan alam, belajar bersahabat dengan alam, agar alam bisa ramah kepada manusia.


Branjang, 14 Juli 2023

Thursday, September 26, 2019

Ayah- Bunda, Jauhkan Benda Berbahaya dari Jangkauan si Kecil

Screenshot akun Kompasiana/ Zahrotul Mujahidah

Lihat juga di sini
Ketika sore tiba, anak- anak berlarian ke rumah seorang warga. Seperti biasa, jika mereka sengaja gojek atau bercanda di rumah orang lain maka akan kami peringatkan. Mereka boleh ke rumah orang lain tapi harus tetap menjaga kesopanan.

"Dito bawa sabit, bu…"

Saya merasa heran dan prihatin, Dito, masih balita, belum dua tahun usianya tapi kenapa bisa bermain sabit? Di tengah pertanyaan yang berkecamuk dalam kepala saya, seorang teman menanggapi laporan itu.

"Iya. Saya juga tahu. Ibunya sendiri yang memberikan sabit itu…"

Lagi- lagi saya tercengang. Tak habis pikir. Kenapa ada seorang ibu yang memberikan benda berbahaya untuk bermain. Kalau sabit dilemparkan pada orang lain, bisa melukai. Atau kalau mengenai si anak itu sendiri maka si ibu juga malah mencari perkara sendiri.

"Sabitnya sudah tumpul kok…" cerita sang ibu ketika teman saya menceritakan tentang laporan anak- anak yang tengah asyik bermain.

Sang ibu memang kalau sudah memiliki sebuah pendapat maka tak mau mendengarkan omongan orang lain. 

**
Bocah cilik ora duwe duga kira

Bermain bagi balita memang sudah menjadi sebuah kewajaran. Namun dalam dunia anak dan psikologi sendiri sudah ada aturannya untuk memberikan mainan kepada buah hati.

Tak sembarang mainan boleh diberikan kepada si balita. Bahkan kalau kita perhatikan ketika membeli sebuah produk mainan maka akan ada peringatan, mainan untuk usia tertentu.

Sungguh berbahaya jika memberikan mainan seperti sabit atau gunting meski kita anggap tumpul bagi anak di bawah 2 tahun. Bocah cilik ora duwe duga kira ---anak- anak tidak bisa mengira- ira sebab akibat ---jika bermain dengan benda tertentu. Tumpul untuk memotong daging atau rumput dan tanaman lainnya, bukan berarti itu tak akan melukai orang lain atau bahkan melukai si anak. Apalagi kalau sabit sudah berkarat, jika melukai maka akan berbahaya juga.

Pilih Mainan yang Merangsang Kreativitas sekaligus Aman

Dari theasianparents.com menyatakan bahwa ketika memilih mainan untuk anak maka bisa mempertimbangkan beberapa hal, yaitu mainan harus dapat dicuci, mainan yang diberi cat harus bebas dari logam timah serta mainan untuk karya seni harus berlabel tidak beracun.

Pertimbangan tersebut perlu dipikirkan demi keamanan anak ketika bermain. Tak sekadar membuat si anak diam atau senang saja. 

Hal yang terpenting ketika anak bermain, permainan tetap bisa membuat anak tetap kreatif. Paling tidak, orangtua mendorong anak untuk bereksplorasi, tidak over protectif, tidak disiplin otoriter, membiarkan anak berimajinasi sesuai usianya.

Memilihkan mainan yang bisa mengeksplorasi kreativitas anak harus memperhatikan usianya. Pada usia 1 sampai 2 tahun, permainan yang meningkatkan keterampilan motorik kasar bisa dieksplorasi. Merangkak, naik- turun tangga, menari, mendorong mainan dan sebagainya. 

Menjimpit benda- benda kecil juga bisa dilatihkan. Perlu pengawasan jika menjimpit benda kecil ini, agar tak tertelan.  

Masuk usia 2 sampai 3 tahun, melompat, bergelayutan, berjingkat bisa dieksplor. Keterampilan lain yang melatih keterampilan motorik halus bisa dilatihkan juga seperti menggunting kertas, bermain plastisin. Bisa juga anak diajak membuat rumah- rumahan dari selimut tebal. Memukul panci untuk "bermain musik" juga cukup mengasyikkan.

Anak usia 3 sampai 4 tahun, anak bisa diajak meloncat dengan satu kaki, melempar dan menangkap bola, meniti jembatan. Meronce ---dengan potongan sedotan misalnya--- untuk meningkatkan keterampilan motorik halusnya juga bisa dicoba pada anak usia ini.

Memasukkan bola ke keranjang, bermain kelereng bisa dilatihkan untuk anak usia 4 sampai 5 tahun.

Permainan yang menyenangkan, merangsang kreativitas dan aman harus menjadi prioritas utama dalam memilihkan mainan untuk anak. Agar tumbuh kembang anak bisa normal, sesuai perkembangan usianya. 

Jadi stop memberikan benda- benda berbahaya untuk si kecil! 

**
Tulisan ini menjadikan pengingat bagi diri saya sendiri. Semoga bermanfaat juga bagi pembaca.

Wednesday, May 22, 2019

Memanusiakan Manusia dalam Bersosmed

Sebagai makhluk sosial, maka manusia selalu membutuhkan orang lain dalam kesehariannya. Berbagai urusan melibatkan orang di sekelilingnya.

Karena terlibat dengan orang lain, pastinya terjalin komunikasi. Komunikasi dua arah. Komunikasi pada awalnya terjalin secara tatap muka. Satu sama lain bertemu dan berbincang. Kemudian berkembanglah komunikasi lewat surat dan telepon.

Perkembangan teknologi komunikasi lebih berkembang hingga komunikasi berlangsung seperti saat ini. Berbincang dan komunikasi tertulis sudah bisa melalui jaringan internet. SMS yang tadinya merajai dunia komunikasi tergeser oleh BBM dan WA. Bicara dengan orang lain pun tak hanya lewat telepon tapi berkembanglah video call.

Sayangnya manusia sering kurang bijak dalam memanfaatkan alat komunikasi dan bermedia sosial. Media social digunakan dengan cara yang tidak bijak. Media sosial yang pada awalnya untuk menghubungkan dan mempererat silaturahmi malah membuat runyam sebuah hubungan. Pertengkaran, perundungan, perselingkuhan, perceraian terjadi karena media sosial. Miris sebenarnya.

Media Social merupakan kebutuhan pokok dalam berkomunikasi
Saat ini berkomunikasi melalui media sosial menjadi kebutuhan pokok. Jika tak terpenuhi make akan terasa kurang. Bahkan urusan kantor baik milik pemerintah maupun swasta membutuhkan media sosial untuk mengkomunikasikan berbagai kebijakan dan kegiatannya.

Kecepatan dan ketepatan sasaran menjadi salah satu alasannya. Di era revolusi industri 4.0 ini menuntut segalanya Cepat. Jadi mau tak mau media sosial menjadi salah satu yang harus terpenuhi.

Media Social bahkan bisa dimanfaatkan


Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, dibekali akal dan pikiran, malah mengedepankan nafsu. Hati gelap oleh sesuatu yang dianggapnya baik.

Menjaga hati dan pikiran memang tidaklah mudah namun bukan berarti tidak mungkin. Berpegang pada komitmen bahwa komunikasi adalah untuk menyambung tali silaturahmi. Bukan penghancur silaturahmi.

Perlu ingat juga ada banyak hati yang harus dijaga. Jangan sakiti hati mereka karena kita pun tak mau disakiti juga.

Dalam hal perpolitikan pun kadang juga menyebabkan pemanfaatan media sosial bukan untuk menjaga silaturahmi. Banyak ujaran kebencian, berita bohong yang muncul dan memperkeruh situasi sehingga menjadi Panas suasana.

Kata-kata tak pantas pun  kerap muncul ---baik di dunia nyata maupun dunia maya--- ketika pandangan politik berbeda. Kata kasar, ungkapan binatang untuk sebutan manusia sungguh memprihatinkan. Kata-kata yang tak layak keluar dari mulut manusia namun meluncur begitu saja tanpa memikirkan hal itu menyakiti orang lain atau tidak.

Perbedaan memang lumrah karena Allah menciptakan manusia itu tak ada yang sama. Perbedaan itu diciptakan agar manusia bijak dalam menggunakan akal pikirannya.

Akal pikiran dan hati harus bisa mengendalikan tangan dan mulut agar bijak menggunakan media social, baik selama bulan puasa maupun bulan lainnya. Menebar kebaikan tak hanya bisa dilakukan selama bulan Ramadan.

Yuk bijak menggunakan media sosial kita agar hidup damai terasa.

Salam hangat dan salam damai untuk semua.

Friday, January 04, 2019

Hati-hati Men-Share Pernyataan yang Mengatasnamakan KHA Dahlan tentang Musibah

Beberapa hari yang lalu setelah berbagai musibah terjadi di Indonesia, saya mendapatkan kiriman gambar (meme) dari teman tentang pernyataan KHA Dahlan berkaitan dengan musibah dan pemimpin.

Isinya kurang lebih seperti ini,  “PESAN KH. AHMAD DAHLAN 1 ABAD YANG LALU” tersebut menyatakan, “Perhatikanlah alam dan bangsamu, jika disuatu bangsa yang beriman, mereka mengaku sebagai pemimpin yang baik, namun jika terjadi kerusakan akibat bencana alam yang berturut-turut, maka itu pertanda rusak pemimpin mu. Jika rusak pemimpin mu maka rusaklah tatanan masyarakat mu, mereka saling memfitnah, saling menghujat, saling mencela tak bisa terhindarkan, di saat itu Allah memberi peringatan bagimu dengan berupa musibah yang tiada henti.

Teman saya menanyakan itu hoax atau bukan. Saya sendiri  kurang tahu tentang pernyataan KHA Dahlan tersebut. Saya tak berani mengatakan itu benar atau tidak. Meski saya menjadi guru di persyarikatan Muhammadiyah dan pernah belajar di program studi Sejarah tapi saya belum pernah membaca pernyataan tersebut.

Akhirnya  saya browsing di internet. Alhamdulillah saya mendapatkan  link dari Suara Muhammadiyah. Dari link yang terposting pada tanggal 12 Oktober  2018 pukul 16:12 saya mendapatkan beberapa informasi.

Pertama, adanya penafsiran yang mengatasnamakan KHA Dahlan bahwa Indonesia  diberi peringatan oleh Allah karena banyak berita hoax yang saling menfitnah dan mencela satu sama lain.

Prof Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih dan Tajdid, menegaskan bahwa pernyataan tersebut belum terverifikasi keluar dari mulut KHA Dahlan. Yunahar kemudian mengutip sebuah hadits riwayat Bukhari. Dalam hadits tersebut, Nabi Muhammad menyatakan jika amanat telah disia- siakan, tunggu saja kehancuran terjadi. Tetapi kehancuran yang dimaksud di sini adalah dalam artian luas. Tidak secara spesifik menyatakan bencana alam. Kerusakan atau kekacauan di semua bidang, menurut sunnatullah, terjadi ketika sesuatu tidak sebagaimana mestinya prinsip keharmonisan semesta.

Beberapa waktu sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan bahwa bencana alam bisa saja terjadi karena keadaan alam yang mengharuskan terjadinya pergerakan yang tidak seperti biasanya. Hal itu dapat dijelaskan menurut sains secara objektif.

Kedua,  Pernyataan yang Benar dari Kiai Dahlan dan Konteksnya. Dalam buku karya KRH Hadjid, Pelajaran Kiai Haji Ahmad Dahlan 7 Falsafah & 17 Kelompok Ayat Al-Qur’an (2018), terbitan Suara Muhammadiyah.  Pada halaman 59 buku tersebut, Kiai Hadjid mengutip pernyataan Kiai Dahlan sebagai berikut;

Apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu baik, maka baiklah alam; dan apabila pemimpin-pemimpin negara dan para ulama itu rusak, maka rusaklah alam dan negara (masyarakat dan negara).” Kalimat di dalam kurung seolah menegaskan bahwa alam yang dimaksud adalah alam sosial atau masyarakat.

Konteksnya, sebagaimana dijelaskan Kiai Hadjid, terjadi pada bulan Maulud tahun 1335 Hijriyah. Waktu itu di hadapan para penghulu, ketib (khatib), ulama, kiai, dan tokoh agama di serambi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Kiai Dahlan menerangkan kitab Hidayatul Bidayah karangan Imam Ghozali, tentang kerusakan umat Islam dan sifat-sifat ulama suu’ (ulama yang busuk).

Kiai Dahlan mengajak para pemuka agama yang hadir untuk melakukan instrospeksi diri. Tidak saling menuduh dan menunjuk tokoh agama selain dirinya sebagai ulama suu’ dan menganggap dirinya sendiri sebagai orang suci. Kiai Dahlan melanjutkan uraiannya dengan mengutip pernyataan Imam Ghozali, bahwa kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para raja atau pemimpin, dan kerusakan pemimpin adalah karena kerusakan ulama. Kerusakan ulama ini terjadi ketika ulama sudah menjilat dan tidak lagi berani memberi nasehat kepada pemimpin yang telah melenceng. Lalu Kiai Dahlan mengajak para ulama dan pemuka agama yang hadir untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.

Sekali lagi, kiai Dahlan berbicara di hadapan pemuka agama supaya mereka sebagai pemimpin agama bisa memperbaiki diri dan masyarakatnya, termasuk di dalamnya memberi nasehat secara santun dan bijak kepada para pemimpin bangsa.

Dalam buku tersebut  Kiai Hadjid menyatakan, “Kiai Dahlan mengajak untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mengajak orang lain, atau sambil mengajak orang lain dan sambil memperbaiki masyarakat, mulai dari mendidik perseorangan serta membersihkan dirinya sendiri. Itulah cara yang dikerjakan oleh beberapa atau para rasul (yang ditiru oleh Kiai Dahlan).”

Jadi ada baiknya kita tak menshare yang belum tentu benar. Agar tidak menyebabkan polemik di kalangan masyarakat atas musibah yang terjadi.

Tuesday, November 20, 2018

Perubahan Sosiologis dalam Masyarakat Jawa


Perubahan Sosiologis dalam Masyarakat Jawa

Sejak abad ke-17 sampai 19 di Jawa mengalami proses perfeodalan. Pergaulan hidup di Jawa terdiri dari raja dan kaum bangsawan dengan rakyat tani. Proses perfeodalan terjadi tidak lepas dari politik isolasi terhadap dunia luar. Bangsa Eropa yang datang ke nusantara sangat berpengaruh kuat di Jawa. Akibatnya terjadi ketegangan ekonomi, krisis ketatanegaraan dan militer. Raja Mataram melarang rakyatnya melakukan pelayaran sehingga Jawa tidak mempunyai budaya pulau yang terbuka dari pengaruh laut. Pengasingan diri terhadap dunia luar merupakan lahan subur bagi perkembangan perfeodalan yang aristokratis dan berat sebelah karena tidak dikenal golongan penduduk perkotaan.

Meski menutup diri tetapi peradaban di Jawa tidak statis. Pigeaud membuktikan bahwa kebudayaan wayang mengalami pertumbuhan selama beberapa abad. Sekitar 1800 kebudayaan Jawa disebut kebudayaan pahlawan karena kebudayaan ini menghormati bentuk hidup kebangsawanan. Kebudayaan ini berakar pada kebudayaan wayang yang memiliki arti keagamaan, bisa menghalau bahaya/ penyakit serta bisa menjadi teladan dan pelajaran dari sikap dan gerak badannya.

Peradaban Jawa digambarkan oleh Hiuzinga bahwa manusia tidak merasa puas dengan kenyataan sehari- hari di mana saja dan setiap waktu ia memimpikan hidup yang lebih tinggi dan lebih inah. Untuk mencapai impian dapat melalui tiga jalan. Dan ternyata peradaban Jawa mengikuti jalan yang ketiga yaitu jalan seni hidup. Di sini hidup diwarnai dengan cita- cita yang indah, cita- cita pahlawan, kesaktian serta kebijaksanaan atau kehidupan dalam alam dan kehidupan sesuai kodrat alam.

Kebudayaan Jawa juga disebut peradaban ksatria. Kebudayaan diwarnai dengan cita- cita ksatria kuno sebagai bentuk yang mulia ( luhur ), penghormatan kepada pahlawan, tornoi dan menjunjung cita- cita ksatria sederajat dengan etika dan agama, serta dihiasi dengan kkeindahan dan kemuliaan. Kekuasaan seseorang dapat dilihat dari kemuliaannya karena banyaknya pengikut yang setia dan penghormatan yang khidmat, pengabdian dan kemuliaan. Di sini juga terdapat tingkatan pakaian dan warna yang bisa memperlihatkan kekuasaan.

Menurut Rouffaer, dalam periode Kartasura ( 1688- 1744 ) tata cara keraton dan bahasa keraton Jawa yang baru memperoleh kesempurnaan dan keutamaannya. Sebelum tahun 1600 pemakaian tingkat- tingkat bahasa Jawa tidaklah dalam jumlah dan bentuk seperti sekarang. Selain itu wayang juga mengalami kemajuan baik dalam susunan, bentuk lakon, music yang bermacam- macam dan lain- lain. Seni batik berkembang dan bertambah dalam keanekaragaman warna serta coraknya setelah tahun 1500. Menurut Rouffaer khusus periode Kartasura muncul sekolah seni rupa di daerah Solo- Yogyakarta dengan keasliannya, suasana sopan dan semangat kebangsawanan.

Isolemen kebudayaan tidak seimbang karena kedatangan Eropa di nusantara. Pigeaud menerangkan meski bahasanya berbeda tetapi peradaban kalangan atas serta kesenian suku Sunda dan Madura sangat dipengaruhi unsur- unsur ke-Jawa-an. Pengaruh Jawa di Madura lebih kuat daripada di Jawa Barat karena banyaknya titik perhubungan di kota- kota pantai. Pengaruh di Madura dating dari Jawa Timur dan pesisir utara Jawa Tengah. Pengaruh- pengaruh Jawa tersebut terutama dalam penggunaan bahasa Jawa, sedang kebudayaan wayang tidak begitu kuat pengaruhnya di Madura dan Jawa Barat. Lain halnya di Jawa Tengah, di mana kebudayaan wayang Jawa kuno sudah menjadi kebudayaan rakyat.

Seperti disebutkan di atas, pergaulan hidup di Jawa terdiri dari raja dan bangsawan dengan bawahan mereka yang terdiri dari rakyat tani. Struktur feudal di Jawa berbeda dengan struktur feudal di Eropa pada abad pertengahan. Pertama, struktur feudal Eropa berhubungan dengan system pinjam tanah ( lein stelsel ) dan milik tanah besar ( tuan tanah ) di Jawa tidak demikian. Kedua, kebangsawanan Eropa bersifat trun temurun, sedang di Jawa tergantung pada keturuna raja hingga derajat keempat. Sedangkan persamaan struktur feodal di Eropa dan Jawa adalah mengenai hubungan antara kaum bangsawan yang memerintah dengan kaum petani yang diperintah.

Wednesday, September 12, 2018

Yuk... Kita Mengenal Sungai Cheonggyecheon Korsel yang Bersih dan Indah

Sungai ini ternyata merupakan sungai buatan. Dana untuk revitalisasi sungai sangat fantastis. Revitalisasi dimulai dengan penghancuran jalan tol yang ada di atas singai.

Untuk lebih detailnya, silakan baca Mengenal Sungai Cheonggyecheon

Nah... Sekarang sudah tahu kan?

Sunday, September 02, 2018

Ragam Artikel

Berikut saya share beberapa artikel dengan tema dan topik yang beragam. Semoga bermanfaat.

* Jilbab Versus Suara Sumbang. Lihat di Sini

* Adakah Hubungan Prestasi Olahraga Terhadap Tingkat Kemajuan Negara. Lihat di Sini

* Hati-hati dengan Jarum Pentul. Lihat di Sini

* Guru Sebuah Panggilan Suci untuk Negara. Lihat di Sini

* Belajar di Penjara Suci. Lihat di Sini

* Sedih? Apa yang Harus Dilakukan? Lihat di Sini

* Tips cerdas memilih paket data. Lihat di Sini

* Kokok Ayam Jantan di Malam Hari. Lihat di Sini

* Mengapa Bahagia? Lihat di Sini

* Apa yang Kamu Banggakan dari Jilboobs- mu? Lihat di Sini

* Pelajaran Berharga dari Ibu Hebat. Lihat di Sini

* Calistung dalam Beribadah Lail. Lihat di Sini

* Uang Keluarga. Lihat di Sini

* Masih Tahap Rumah Tinggal. Lihat di Sini

* Guru Hebat Bukan Guru yang Cepat Menyelesaikan Materi Pelajaran. Lihat di Sini

Demikian share artikel gado-gado dari saya. Lain waktu saya share artikel lainnya. Terimakasih.


Thursday, May 10, 2018

Pengalaman Mengajar Siswa ABK: Pengalaman Seru dan Menantang

Tiga belas tahun mengajar di sebuah sekolah dasar swasta tentu banyak hal yang ku hadapi. Sekolah kami berada di tiga kilometer dari ibukota kecamatan.
Berbagai pengalaman, baik suka maupun duka menjadikan cambuk untukku lebih baik dan maju dalam melayani siswa dan wali siswa.
Jumlah siswa di sekolah kami tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit. Siswa kami berasal dari beberapa dusun di sekitar sekolah serta beberapa daerah di Jawa Tengah. Mengapa siswa bisa berasal dari luar DIY? Ya...mereka sebenarnya santri pondok Al Hikmah Branjang.
Siswa dengan berbagai tabiat dan karakter hingga membuat guru-guru kewalahan. Pendidikan keluarga mempengaruhi karakter siswa ketika berinteraksi di sekolah. Mulai dari siswa yang berasal dari keluarga broken home, siswa pindahan yang agak nakal dan masih banyak lagi. Tantangan semakin besar ketika guru, yang ku istilahkan sebagai teman belajar berhadapan dengan siswa berkebutuhan khusus atau siswa difabel.
Aku sendiri sebagai teman belajar masih awam dalam hal menghadapi siswa berkebutuhan khusus atau difabel tersebut.
Dahulunya siswa berkebutuhan khusus biasa disekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB). Tetapi dalam perkembangan akhir- akhir ini, semua sekolah harus dan dituntut mau menerima anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama teman-temannya. Istilahnya semua sekolah harus bisa memberikan pendidikan asesmen kepada anak berkebutuhan khusus (ABK).
Berkaitan dengan program pendidikan untuk siswa berkebutuhan khusus (ABK) atau difabel, sekolah kami sudah memiliki gedung yang menunjang,hasil rehab dari DAK tahun 2014an.
Kebetulan beberapa tahun aku menjadi teman belajar yang kelasnya terdapat siswa ABK. Sebut saja siswa ABK itu Pur. Sebagai orang yang buta pendidikan ketunaan, aku sering bertanya pada saudara yang mengajar di SLB. Tak jarang juga berkomunikasi dengan teman sejawat ketika jam istirahat di kantor. Teman sejawat yang juga menghadapi siswa ABK sebut saja Bu Har. Kami saling sharing agar perangkat pembelajaran lengkap dan proses pembelajaran asesmen bisa lancar.
Menjadi teman belajar bagi siswa berkebutuhan khusus atau difabel tentu banyak tantangannya. Apalagi ini merupakan hal baru untukku. Pertama kali memberikan pendidikan asesmen, rasanya luar biasa capeknya. Hal ini karena guru sebagai teman belajar harus menyiapkan dua materi dalam satu mata pelajaran. Satu materi untuk siswa reguler, satu lagi untuk siswa  difabel, Pur. Materi untuk siswa difabel selalu disesuaikan dengan kemampuannya. Ini berlaku untuk tiga mata pelajaran yang diUNkan. Sebenarnya akan lebih baik apabila seluruh mata pelajaran materinya dibedakan.
Bisa dibayangkan betapa repotnya menyiapkan materi dan tentunya semua perangkat pembelajaran yang menunjang kegiatan pembelajaran.  Terkadang saking repotnya  menyiapkan berbagai perangkat, aku lupa memberikan materi pelajaran untuk siswa difabel. Saat itu aku masih awam tentang bagaimana membuat perencanaan pembelajaran serta materinya. Akibatnya mau tak mau secara dadakan ku berikan materi yang sama dengan materi sebelumnya untuk Pur. Sudah memberikan materi  yang sama pun, aku harus siap dan sabar apabila ternyata si Pur tadi lupa cara mengerjakan atau lupa  penjelasannya. Lelah, geli, gemas sering ku alami ketika menghadapi kenyataan tersebut. Fikiran pun bercabang karena memikirkan bagaimana untuk menyampaikan materi untuk siswa reguler yang selalu dikejar target selesai sesuai kurikulum serta mengasesmen siswa berkebutuhan khusus(ABK) atau difabel. Dalam awal proses pembelajaran dengan program asesmen, komunikasi dengan para siswa reguler saya kemukakan terlebih dahulu. Saya jelaskan dan minta pengertian dari para siswa ketika melihat materi pelajaran siswa yang berkebutuhan khusus atau difabel lebih mudah dibandingkan mereka. Jangan sampai iri, intinya begitu. Alhamdulillah mereka memaklumi Pur. Mereka sudah mengetahui bahwa Pur berbeda dengan mereka. Apalagi mereka juga melihat bahwa di Kelas VI pun ada siswa yang diasesmen. Siswa kelas VI yang diasesmen sebut saja dengan nama Budi. Ketika para siswa kelas VI mengikuti UN, Budi tidak termasuk peserta UN. Budi  dibuatkan soal sesuai kemampuannya. Letak perbedaan antara siswa kelas VI yang ikut UN dan yang asesmen, kalau siswa peserta UN setelah lulus mendapat Ijazah dan Surat Tamat Belajar. Sedangkan siswa asesmen hanya mendapat Surat Tanda Telah Menempuh Pelajaran SD tetapi siswa yang bersangkutan tetap bisa melanjutkan sekolah di SMP yang memiliki program asesmen.
Kembali ke pengalaman belajar mengajar di kelasku. Ketika pelajaran, si Pur yang merupakan penyandang tuna grahita, lupa materi yang ku sampaikan, aku selalu membandingkan dengan siswa reguler yang juga sering lupa akan materi yang bahkantelah dijelaskan.
Memang mengajar dan mendidik haruslah memanusiakan anak didik. Cara mentransfer pengetahuan pun disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Tidak semua siswa mampu belajar matematika, pun tidak semua suka pelajaran IPA Sains. Pastilah ABK diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Kalau kita sering menyaksikan tayangan di televisi bahwa anak difabel memiliki kelebihan di bidang tarik suara, hafiz, membuat desain gaun dan sebagainya, maka saya melihat Pur yang berkebutuhan khusus atau difabel juga memiliki kelebihan, terutama dalam bidang agama. Pengetahuan keagamaan lebih banyak dibandingkan pengetahuan umum. Yang mencengangkan ketika pelajaran non UN nilai Pur malah kadang lebih tinggi dibandingkan temannya. Meskipun kemungkinan hal itu karena kebetulan. Tapi bagiku itu termasuk kejadian luar biasa.
Tahun ini Pur kelas VI. Sebentar lagi akan mengikuti Ujian Sekolah seperti Budi 2 tahun yang lalu. Semoga ke depannya Pur bisa melanjutkan belajar di jenjang pendidikan di atasnya.

Sunday, April 29, 2018

Hardiknas: Memotivasi Diri untuk Menjadi Pendidik yang Lebih Baik

Tinggal dua hari lagi kita akan memperingati Hardiknas(Hari Pendidikan Nasional). Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan untuk negeri khatulistiwa ini?

Pendidik atau guru selalu menjadi sorotan tajam ketika terjadi aksi kriminal di lingkungan sekolah. Kita tentu ingat bahwa beberapa waktu lalu banyak guru dilaporkan ke polisi karena dianggap melakukan kekerasan fisik terhadap muridnya. Pun ada pula guru yang harus meregang nyawa akibat amukan siswa.

Berbagai reaksi muncul dari netizen yang selalu update berita-berita tadi. Banyak yang menyayangkan guru kok bisa dilaporkan ke polisi. Berbagai sharing pengalaman belajar semasa sekolah terlontar dari mereka. Ada yang cerita dimarahi atau dilempari penghapus papan tulis dll tapi tak berani cerita ke orangtuanya karena pasti malah akan disalahkan orangtuanya tadi. Tak seperti anak didik zaman now, sedikit-sedikit lapor ke orangtua kalau dimarahi guru. Orang tuanya pun tidak croscek dulu, mengapa anaknya dimarahi guru ehhh malah tanpa ba-bi-bu langsung menghajar si guru.

Sungguh berat jadi pendidik zaman now. Selalu berhadapan dengan issue HAM Anak. Kalau dianggap agak kasar, guru atau pendidik dah mikir takut kalau dilaporkan ke polisi. Beratnya mendidik para siswa masih ditambah lagi dengan beban membuat berbagai administrasi dan status guru misal masih non PNS. Lengkap sudah beban berat guru. Guru PNS saja kadang masih merasa bebannya berat apalagi yang non PNS.

Terlepas dari berbagai beban guru, ada baiknya sebagai pendidik paling tidak kita bisa jadi contoh yang baik bagi siswa, terutama sikap perilaku, ucapan, ibadah. Memang menjadi contoh yang baik pun tidak mudah, mengingat keterbatasan kita sebagai manusia. Saya sendiri juga masih perlu banyak belajar agar bisa sabar mendidik, bertingkah laku, berbicara, berpakaian. Harus diingat guru kencing berdiri murid kencing berlari. Nah mengingat sampah negatif dari sisi negatif kita, sudah sepantasnya kita lebih berhati-hati. Agar para siswa selalu mengingat kita sebagai guru yang pantas jadi suri tauladan. Biar nama kita mereka kenang dengan sisi baik kita.

Ing ngarsa sung tuladha
Ing madya Mangun karsa
Tutwuri handayani

Semangat selalu para guru Indonesia!!! 💪💪💪

Saturday, April 21, 2018

Teks Pidato Apel/ Upacara dalam Rangka Peringatan Hari Kartini

Selamat Hari Kartini
Untuk seluruh wanita di Indonesia
Semoga selalu semangat menjalani tugas setiap harinya.

Dalam kesempatan ini, saya mencoba untuk memposting teks apel/upacara dalam rangka memperingati hari Kartini.




Thursday, July 20, 2017

Bijak dalam Menggunakan Jejaring Sosial

Beberapa hari ini, kita mendengar berita hangat bahwa beberapa jejaring sosial akan diblokir oleh pemerintah, dengan alasan dipergunakan untuk tindakan yang membahayakan persatuan bangsa dan pluralitas bangsa. Entah itu benar ataukah karena alasan politis.
Kita memang mudah membuat akun media sosial, tapi sebagai manusia yang beretika maka sudah sepantasnya kita memanfaatkan untuk kebaikan. Bukan malah digunakan untuk menebar kebencian, provokasi maupun menilai kebudayaan ataupun agama yang berbeda. Perbedaan lumrah terjadi. Bahkan saudara sekandung dan kembar pun pasti berbeda. Kita yang beragama Islam memiliki prinsip bagaimana dalam memperlakukan umat beragama lain. Pun umat agama lain memiliki ajaran-ajaran sendiri, yang tidak akan pernah ketemu kalau diperdebatkan. Maka sudah selayaknya jika kita tidak boleh menilai keburukan ajaran agama lain meski dalam hati keyakinan bahwa agamanya yang paling benar tetap ada. Tak usah memancing-mancing emosi umat lain.
Itu dalam beragama. Sekarang mengenai perbedaan suku bangsa. Kita maklum kalau suku bangsa yang beragam pastinya juga memiliki kekhasan budaya, ciri fisik, dll. Tak perlu menghina satu sama lain. Toh kita semua diciptakan dalam kondisi yang memang tak sama. Bagi umat Islam, mengenai suku bangsa sudah tercantum dalam kitab suci.
Nah, mengingat kebhinnekaan di Indonesia maka ketika menggunakan ya musti hati-hati. Boleh jadi status yang kita buat di media sosial bisa memancing kemarahan orang lain. Dampaknya jangan sampai melunturkan nilai-nilai persatuan. Ingat semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.
Berikutnya, selain harus menjaga persatuan bangsa kita juga harus bijak ketika bermedia sosial, demi menjaga instansi kerja, keluarga, tetangga, anak-anak, dll. Kita bisa bayangkan apabila seseorang yang misalnya merupakan seorang pegawai negeri tapi pada jam kerja malah online terus, membuat status terus membalas komentar tiada henti, pasti di benak orang yang baca ya akan muncul pertanyaan dia kerja serius ataukah tidak. Kalaupun tak ada pertanyaan seperti itu, nanti pihak atasan juga bisa menilai buruk kinerja pegawainya. Nanti bisa susah kalau diturunkan jabatannya apalagi berujung dipecat.😁😁😁
Membuat status di jejaring sosial atau media sosial memang dirasa asyik, bisa melampiaskan kebahagiaan, rasa sedih, rasa tak suka, rasa benci, mangkel, dll. Tapi tetap harus hati-hati. Jangan sampai menimbulkan rasa sakit hati, lunturnya persaudaraan, lunturnya persahabatan, saling memusuhi satu instansi dengan instansi yang lain. Di manapun manusia memiliki privasi yang tidak ingin diketahui orang lain. Bisa jadi kita membuat status bahagia tapi sebenarnya kondisi kesehatan, hati, repot luarbiasa baik karena tuntutan kerjaan dinas tapi juga urusan keluarga, terutama anak, bagi yang sudah memiliki anak. Curhat colongan ibu-ibu ini...😜😜😜
Seorang yang kerja di sebuah instansi/kantor/pwrusahaan pun juga musti hati-hati lho. Oke kalau antar instansi pasti punya persaingan tapi kalau bersaing yang sehat. Tak perlu menjelekkan instansi/kantor/perusahaan lain demi keuntungan dan egonya sendiri. Toh kalau membuat status "menyerang" instansi, kantor, perusahaan lain bisa-bisa malah membuka aib sendiri.😝😝😝
So...Yuk berusaha bijak menggunakan jejaring sosial/media sosial. Yuk memanusiakan orang lain, seperti kita memanusiakan diri sendiri.😄😄😄

Terinspirasi beberapa peristiwa di negara dan lingkungan ini...
Semoga bermanfaat untuk saya sendiri n orang yang membacanya...
😊😊😊

Tuesday, June 13, 2017

Lunturnya Makna Bhinneka Tunggal Ika

Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia sepertinya kurang memahami makna bhinneka tunggal ika. Entah karena sentimen terhadap golongan tertentu ataukah kekurangberhasilan pendidikan sejarah bangsa dan pancasila.
Jargon yang muncul dalam rangka harlah istilah Pancasila pun seakan menampakkan bagaimana pemahaman sejarah dan juga penggunaan kata yang tidak tepat. Akibatnya terjadi kesalahan arti dari jargon itu sendiri.
Ketika saya melihat jargon Saya Indonesia saya Pancasila terus terang kurang respek. Sebagai lulusan dari jurusan Pendidikan Sejarah dan sedikit ilmu tentang kebahasaan, kok sepertinya kurang pas.
Ternyata, kekurangrespekan saya juga banyak disikapi dengan terang-terangan dan ada juga yang hanya disampaikan dalam obrolan-obrolan di lingkungan sekolah dan masyarakat.Tentunya sikap dan obrolan itu tidak bermaksud apa-apa dan tidak begitu keras seperti yang dilontarkan Permadi.
Beberapa hari yang lalu saya membaca pendapat dari Permadi yang begitu keras memprotes jargon tersebut sebagai sebuah kebodohan yang sangat membahayakan bagi generasi muda. Jika ditilik secara sekilas jargon tersebut kurang pas dari segi pemilihan kata-katanya.
Alangkah baiknya jika jargon lebih lengkap Saya orang Indonesia mengajak semua rakyat Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila.
Heheeee...
Tapi saya selalu ingat bahwa sejak SD sampai kuliah sebenarnya praktik mengenai bagaimana menyikapi kebhinnekaan itu harus seperti apa. Dan tanpa memihak pada salah satu politisi, pemahaman saya tentang sejarah dasar negara ya tidak berubah. Sampai saat Piagam.Jakarta harus menghilangkan 7 kata demi kelangsungan Indonesia yang saat itu sudah beragam suku bangsa dan agama. Ya...7 kata dalam Piagam Jakarta yang dihilangkan demi persatuan dan kesatuan Indonesia. Ini sekali lagi fakta sejarah. Bukan sekedar berita hoals yang serin muncul di era sekarang.
Para pembaca bisa browsing atau mempelajari bagaimana jalannya Pancasila bisa menjadi dasar negara. Dan bila tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai harlah Pancasila, dan istilah Pancasila diusulkan oleh Ir. Soekarno tapi bukan berarti ide Soekarno yang sesuai 100%.
Semoga ke depannya tidak muncul jargon yang aneh-aneh lagi. Karena memang nantinya para generasi muda merasa tidak perlu belajar sejarah kalau ada jargon Saya Indonesia saya Pancasila. Jangan-jangan nanti para generasi bangsa memahami kalau dirinya negara dan dasar negara. Haduhhh...bisa gawat... Kita tidak bisa menganggap diri sendiri sebagai negara Indonesia.dan kita tidak bisa menyamakan diri sendiri dengan dasar negara.
Mungkin ada baiknya sejarah bangsa memang mendapat jam pelajaran yang lebih di bangku sekolah. Materi pelajaran sejarah jangan terlalu luas, apalagi untuk siswa SD. Tujuannya agar anak-anak tidak menganggap bahwa selama tahun 1945-2016 tidak ada toleransi beragama maupun penghargaan terhadap suku bangsa yang berbeda.

Monday, October 06, 2014

Tips Penanganan Daging Hewan Qurban

Tips Penanganan Daging Hewan Qurban
Oleh : Drh. Supriyanto
(Dokter Hewan Rumah Pemotongan Hewan Kota Yogyakarta)


1. Daging prengus
Prengus atau tidaknya daging bergantung dari adanya cemaran pada saat hewan disembelih dan penanganan setelahnya. Kambing jantan mempunyai kelenjar bau yang terletak di daerah sekitar tanduk, Kelenjar bau inilah yang meyebabkan daging bau prengus. Meskipun terdapat pada pangkal tanduk, namun bau prengus biasanya juga terdapat pada kulit dan kaki karena secara alamiah kambing biasa menggosokkan kepalanya pada tubuh atau kakinya. Tukang jagal yang membantu memegang kambing saat disembelih, yang memegang kaki atau kepala kambing kemudian melakukan proses pengulitan tanpa mencuci bersih tangannya, sangat mungkin menyebabkan cemaran bau prengus ini ke daging.
Tidak seperti pada kambing, sapi tidak mempunyai kelenjar bau. Daging sapi bau prengus biasanya disebabkan dicampurnya daging sapi dan kambing pada sebelum dimasak atau waktu memasak. Bisa juga disebabkan adanya cemaran dari jagal dan pisau (setelah menyembelih dan menangani kambing kemudian mengangani penyembelihan sapi tanpa mencuci bersih pisau dan tangannya terlebih dahulu).
Jadi tips untuk menghindari daging prengus adalah:
jagal yang menangani penyembelihan harus menjaga kebersihan tangan dan pisaunya, serta tidak mencampur daging sapi dan kambing sewaktu mengemas dan memasak.
2. Daging sebaiknya dicuci atau tidak?
Daging pada dasarnya bisa dikatakan bersih dari kuman atau hanya mengandung sedikit kuman. Perlakuan pada waktu pemotongan seperti pengulitan, pengeluaran jerohan, pengirisan daging bisa menyebabkan adanya cemaran bakteri ke permukaan daging.
Pencucian daging memang terbukti mengurangi jumlah kuman dalam daging. Namun pencucian yang dilakukan dengan air mengandung kuman (misalnya air sungai) justru akan menyebakan beratmbahnya jumlah kuman. Pencucian yang dilakukan pada daging kemudian tidak langsung dimasak juga terbukti bisa menyebakan pertambahan jumlah kuman, karena air yang bercampur dengan daging adalah media yang sangat baik bagi kuman untuk berkembang biak.
Jadi sebaiknya dicuci atau tidak? Boleh dicuci tapi harus segera dimasak atau disimpan dalam lemari beku suhu di bawah 0 C (beberapa kuman mungkin tidak mati oleh suhu dingin tapi terhambat untuk berkembang biak). Seandainya tidak dicuci, pastikan bahwa proses pemotongan dan penanganan daging dilakukan dengan bersih.
3. Bagaimana cara menyimpan daging di Kulkas/freezer?
a. Pastikan daging tidak dicampur antara sapi dengan kambing, selain menghindari bau prengus, juga meminimalkan jumlah cemaran kuman.
b. daging yang memar dan kotor sebaiknya diiris dan tidak dicampur dengan daging yang baik.
c. Hindari mencampur daging, tulang dan jerohan putih (usus, babat) karena jerohan bisa mengandung lebih banyak kuman.
d. simpan dalam tempat sesuai porsi masak, misalnya mempunyai daging 1 kg dengan jumlah keluarga 3 orang, dengan porsi sekali masak 200gram, maka daging sebaiknya dibagi menjadi 5 bagian (per 200gram) dan disimpan dalam 5 tempat khusus yang dipisah, misalnya plastic, atau tupper ware. Penyimpanan per porsi masak memudahkan dalam melakukan thawing (mencairkan daging beku).
e. Menyimpan daging dalam bentuk pipih akan lebih mudah untuk di Thawing daripada bentuk bulatan.
f. Tandai dengan kode dan tanggal penyimpanan, hal ini dilakukan untuk menghindari tercampur dengan daging baru atau mengingatkan tanggal simpan. system FIFO (first in first out) bisa diterapkan. Pada dasarnya daging yang disimpan dalam suhu dingin (<00C) dengan cara yang benar bisa tahan sampai 6 bulan atau bahkan lebih.
4. Bagaimana cara thawing(mencairkan daging beku dan keras) dari lemari beku?
Cara Thawing berpengaruh pada kualitas daging yang dimasak. Daging yang dimasak masih dalam keadaan dingin dan keras menyebabkan proses matang yang tidak sempurna, bagian luar daging mungkin sudah matang tapi bisa saja bagian masih mentah. Dalam kondisi tersebut bisa saja daging bagian dalam masih mengandung kuman yang bisa menyebabkan sakit.
Men "Thawing" daging dalam air atau dalam ruangan terbuka beresiko tercemar dan terjadi perkembangbiakan kuman. thawing dalam air juga menyebabkan larutnya kandungan zat2 penting dalam daging. Pastikan apa yang akan anda masak dan tentukan daging dari jenis apa, bagian mana dan jumlah berapa yang akan dimasak. Thawing yang aman adalah menyimpannya dalam chiller lemari es atau dengan microwave.
terimakasih, semoga bermanfaat.
dari pengalaman dan berbagai sumber

Top of Form

Thursday, October 02, 2014

BENCANA BANJIR: Penyebab, Dampak dan Solusinya

Penyebab Banjir
Pada suatu ekosistem manusia, manusia menjadi komponen yang sangat penting yaitu sebagai konsumen dan sekaligus menjadi pengatur serta pengganggu lingkungan.( Nursid, 1980: 83)
Dalam peristiwa banjir, maka peran manusia di dalamnya baik sebagai penyebab maupun sebagai korban sangatlah besar. Banjir sering melanda daerah- daerah di Indonesia. Banjir tidak terjadi secara tiba- tiba, reflek dan tanpa penyebab. 
Namun jauh sebelum peristiwa banjir terjadi telah ada berbagai factor dan komponen penyebabnya.
1.       Penebangan hutan secara liar
Indonesia terkenal dengan hutannay yang hijau dan lebat, namun akhir- akhir ini hutan di Indonesia banyak yang gundul. Dengan demikian air sudah tidak dapat lagi tertahan di tanah. Akibatnya jika curah hujan tinggi dan debit air terlalu banyak maka air langsung meluncur ke daerah- daerah di bawah kawasan hutan.
2.       Pengerasan lahan yang kurang terencana
Ketika air mulai menggenangi wilayah-wilayah dataran rendah maka seharusnya ir itu dapat meresap ke dalam tanah dan sebagian mengalir ke sungai. Namun sekarang ini tanah- tanah di pemukiman maupun perkotaan sudah disemenisasi atau diaspal. Dengan begitu air tidak dapat meresap ke tanah
3.       Sampah
Kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempatnya masih rendah. Mungkin untuk daerah pedesaan masih banyak lahan untuk pembuangan sampah yang dibuat dengan melubangi tanah dan sampah itu akhirnya bisa menjadi pupuk. Lain halnya dengan perkotaan, lahannya sangat terbatas untuk embuangan sampah sehingga mereka membuang sampah sembarangan di sungai, dll. Akibatnya sungai menjadi dangkal dan jika terjadi hujan air tidak dapat tertampung di daerah aliran sungai dan menyebabkan air masuk ke pemukiman.
4.       Tata kota yang kurang terencana
Factor pembangunan yang kurang terencana bisa berdampak kurang menguntungkan bagi lingkungan. ( Ismail Ariyanto, 1988: 113)
Penerapan teknologi yang tidak tepat dapat menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Kebijakan- kebijakan pembangunan pemerintah memang kurang memperhatikan factor AMDAL terutama di perkotaan. Banyak kawasan perkotaan yang dulunya berfungsi untuk resapan air beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman elit.

Dampak banjir
a.       Dalam bidang ekonomi
Aktivitas ekonomi menjadi terhambat karena barang- barang dan bahan produksi telah hanyut terbawa air. Di pasar- pasar tradisionla pun aktivitas ekonominya terganggu. Barang- barang produksi tidak ada dan manusianya pun tidak sempat menyelamatkan barang miliknya. Pabrik- pabrik, para tenaga kerjanya menjadi sedikit sehingga produksi yang ditargetkan menjadi berkurang.
b.      Dalam bidang social
Sebagian penduduk akan mengungsi ke tempat- tempat yang aman sehingga kegiatan rutin seperti sekolah- sekolah akan tergenang air. Akibatnya aktivitas belajar mengajar serta sarana prasaran tidak berfungsi dengan baik.
c.       Dalam bidang politik
Kegiatan pemerintah menjadi terganggu karena pembangunan menjadi semakin banyak dan otomatis kegiatan pembangunan tertuju pada sarana prasarana yang rusak akibat serbuan banjir.
d.      Lingkungan hidup
Luapan air yang berlebihan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Sampah yang menumpuk dan terkena banjir mengakibatkan pencemaran air dan udara. Penyakit pun lebih mudah terjangkit pada kalangan masyarakat seperti leptoporosis, diare, . lingkungan hidup yang tidak seimbang akibat banjir mengakibatkan ketidakseimbangan lingkungan.

Solusi Penanganan Bencana Banjir
Beberapa solusi yang dapat ditempuh untuk meminimalisir bahaya banjir antara lain:
1.       Pengelolaan sampah yang benar
2.       Pengoptimalan program reboisasi
3.       Penyuluhan dan penerangan kepada masyarakat tentang pentingnya hidup sehat dan pengelolaan lingkungan yang sadar lingkungan
4.       Perencanaan tata kota yang berwawasan lingkungan

5.       Analisis mengenai dampak lingkungan

Sunday, July 27, 2014

Apa dan Bagaimana Agama Baha'i itu ?

Sejarah Kemunculan Baha’i

Berdasarkan sumber Wikipedia, bahwa Agama Bahá’í (bahasa Arab: ﺑﻬﺎﺋﻴﺔ ; Baha’iyyah) adalah agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia. Agama Baha’i lahir di Persia (sekarang Iran) pada abad 19. Pendirinya bernama Bahá’u’lláh. Pada awal abad kedua puluh satu, jumlah penganut Bahá’í sekitar enam juta orang yang berdiam di lebih dari dua ratus negeri di seluruh dunia.
Dalam ajaran Bahá’í, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan, yang disebut para “Perwujudan Tuhan”. Bahá’u’lláh dianggap sebagai Perwujudan Tuhan yang terbaru. Dia mengaku sebagai pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam agama Kristen, Islam, Buddha, dan agama-agama lainnya. Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan pondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan keadilan, yang dipercayai umat Bahá’í pasti akan datang.
Mendasari ajaran Bahá’í adalah asas-asas keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat manusia. Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran kerohanian dan sosial lainnya dalam agama Bahá’í. Misalnya, orang-orang Bahá’í tidak menganggap “persatuan” sebagai suatu tujuan akhir yang hanya akan dicapai setelah banyak masalah lainnya diselesaikan lebih dahulu, tetapi sebaliknya mereka memandang persatuan sebagai langkah pertama untuk memecahkan masalah-masalah itu. Hal ini tampak dalam ajaran sosial Bahá’í yang menganjurkan agar semua masalah masyarakat diselesaikan melalui proses musyawarah. Sebagaimana dinyatakan Bahá’u’lláh: “Begitu kuatnya cahaya persatuan, sehingga dapat menerangi seluruh bumi.” Iman Baha’i adalah agama Abrahamik.
“Pengikut Baha`i meyakini ajaran yang dianutnya paling benar dan universal yang dibawa oleh seorang nabi dan rasul Allah bernama Baha`ullah. Mereka menjadikan buku “Himpunan Petikan Tulisan Suci Bah`ullah” sebagai pedoman utama. “
Baha’i di Indonesia
Baha’i masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Dalam situs resmi agama Baha’i di Indonesia, dijelaskan, agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Namun, berapa jumlah pemeluk Baha’i di Indonesia hingga saat ini tidak diketahui dengan pasti.
Pada tanggal 24 Juli 2014, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan melalui akun Twitternya bahwa ia tengah mengkaji Baha’i apakah bisa diterima sebagai agama baru di Indonesia atau tidak. Kajian ini dilakukan setelah Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengirimkan surat yang mempertanyaan perihal Baha’i ini(Wikipedia.org)
Baha’iyah bukan Islam
Baha’iyah atau baha’isme ini menyatukan atau menggabungkan agama-agama: Yahudi, Nasrani, Islam dan lainnya menjadi satu. Hingga aliran ini jelas-jelas dinyatakan sebagai non-Islam. Aliran ini berasal dari Syi’ah Itsna ‘Asyariyah yang Pendirinya adalah Mirza Ali Muhammad al-Syairazi (sang Bab) lahir di Iran 1252H/ 1820M. Dia menyerukan bahwa dirinya adalah potret dari nabi-nabi terdahulu. Tuhan pun menyatu dalam dirinya (hulul), risalah Nabi Muhammad SAW bukan risalah terakhir.
Mirza Ali dibunuh pemerintah Iran tahun 1850, saat berumur 30 tahun. Yang pada akhirnya dimakamkan di Haifa, Israel. Sebelum mati, Mirza memilih dua muridnya, Subuh Azal dan Baha’ullah. Keduanya diusir dari Iran. Subuh Azal ke Cyprus, sedang Baha’ullah ke Turki. Pengikut Baha’ullah lebih banyak, hingga disebut Baha’iyah atau Baha’isme, dan kadang masih disebut aliran Babiyah, nama yang dipilih pendirinya, Mirza Ali. Kemudian kedua tokoh itu bertikai, Subuh Azal diusir dari Turki. Baha’ullah diusir ke Akka Palestina. Di sana ia memasukkan unsur syirik dan menentang Al-Quran dengan mengarang Al-Kitab Al-Aqdas (yang lebih suci) diakui sebagai wahyu, Ia menganggap agamanya universal, semua agama dan ras bersatu di dalamnya. Rumah ibadah Bahá’í di New Delhi, India. (arifmaulana.com)
Berikut ini beberapa ajaran/ritual agama Baha’i sebagaimana kami rangkumkan dari berbagai sumber:
1.       Kaum Baha’i melakukan puasa selama 19 hari sebelum merayakan Hari Raya Naurus yang jatuh setiap 21 Maret. Puasa dipandang sebagai periode persiapan spiritual dan regenerasi untuk tahun baru di depan. Dalam kalender Barat, periode ini terjadi antara tanggal 2 dan 21 Maret.
2.       Bahaullah merekomendasikan bahwa umat Baha’i harus bermeditasi setiap hari, berpikir tentang apa yang mereka lakukan pada siang hari dan pada apa tindakan mereka yang layak. Baha’i percaya, bahwa melalui meditasi pintu pengetahuan yang lebih dalam dan inspirasi dapat dibuka, tetapi mereka menghindari takhayul dalam meditasi.
3.       Baha’i tidak menerima syariat zakat, yang menurut penilaian mereka sebagai perbuatan boros. Karenanya, dalam setiap acara kegiatan sosial, kendurian misalnya, mereka memilih mengundang sedikit orang, dengan alasan tidak melakukan pemborosan.
4.       Dalam Baha’i ada ketentuan sembahyang wajib. Bahá’u’lláh membuat doa sehari-hari pribadi kewajiban agama bagi semua Baha’i dari usia 15 ke atas. Setiap hari, salah satu dari tiga sembahyang wajib harus dikatakan:Doa pendek dibacakan sekali setiap 24 jam antara siang dan matahari terbenam;
Doa menengah diucapkan tiga kali sehari, di pagi hari, pada siang hari dan di malam hari;
Doa panjang yang harus dibacakan sekali dalam setiap 24 jam setiap saat – idealnya ketika dalam keadaan kagum dan hormat.
5.       Wudhu harus dilakukan sebelum sembahyang wajib. Doa dilakukan di tempat yang bersih, dan menghadap ke arah kuil Bahaullah. Hanya mereka yang sakit atau tua (lebih dari 70) dibebaskan dan mereka mungkin malah membacakan ayat tertentu dari kitab suci mereka 95 kali selama periode 24-jam
6.       Dalam sembahyangnya, Baha’i berkiblat ke Gunung Karmel atau Karamel di Israel.
7.       Baha’i tidak mengenal adanya sembayang wajib yang harus dilakukan secara berjamaah. Pengecualiannya adalah sembayang wajib yang dilakukan secara berjamaah untuk jenazah. Jadi, hanya jenazah saja yang wajib disembahyangkan secara berjamaah.
8.       Iman Baha’i tidak memiliki pendeta atau sakramen, dan hampir tidak ada ritual. Hanya ada tiga ritual Baha’i:- Doa harian wajib
- Membaca doa untuk orang mati di pemakaman
- Ritus pernikahan sederhana
9.       Ada dua alasan Baha’i menghindari ritual:- Ritual mudah berubah dan menjadi tidak berarti, sehingga orang membawa mereka keluar demi ritual dan melupakan tujuan spiritual di belakang mereka.- Ritual dapat menjadi bentuk imperialism budaya, memaksakan ritual yang sama pada budaya yang berbeda dan menghancurkan keragaman mereka.
10.    Hari-hari Suci Baha’i:Hari raya Sembilan belas
Naw-Ruz
Deklarasi dari Bab
Hari Raya Ridwan
Lahirnya Bab
Hari Lahir Bahaullah
Kenaikan Bab
Wafatnya Bahaullah

11.    Tahun Baha’i terdiri dari 19 bulan yang masing-masing 19 hari (361 hari), dengan penambahan “hari-hari kabisat” antara bulan kedelapan belas dan kesembilan belas untuk menyesuaikan kalender dengan tahun matahari. Bulan yang bernama setelah sifat-sifat Allah.

sumber : http://nyatnyut.com