Showing posts with label Cerita Anak. Show all posts
Showing posts with label Cerita Anak. Show all posts

Sunday, June 11, 2023

Cerita Anak| Semangka Biji Emas

 

Ilustrasi: dokpri
Ilustrasi: dokpri 

Teman-teman pasti ingat kisah Timun Emas. Di mana Timun Emas adalah seorang anak perempuan yang berasal dari biji timun. Timun Emas dirawat oleh seorang perempuan yang mendambakan kehadiran seorang anak. Ternyata perempuan itu mendapatkan timun emas setelah bermimpi bertemu dengan raksasa.

Si raksasa meminta perempuan itu untuk menyerahkan Timun Emas saat usia menginjak dewasa. Timun Emas dewasa akan dimakan raksasa.

Perempuan itu menyanggupi. Namun pada akhirnya perempuan itu ingin terus bersama Timun Emas. Timun Emas menemui petapa tua untuk membebaskannya dari ancaman raksasa.

Oleh Petapa, Timun Emas diberi empat bungkusan yang berisi biji timun, garam, jarum dan terasi. Bungkusan itu digunakan untuk bebas dari raksasa.

Saat raksasa ingin menangkap Timun Emas, dilemparkannya biji timun. Dengan cepat, biji tumbuh menjadi tumbuhan di mana tumbuhan itu bisa melilit raksasa. Namun, raksasa bisa bebas dan mengejar Timun Emas.

Timun Emas melempar garam ke arah raksasa. Dan ajaib! Garam itu menjadi lautan. Lagi-lagi raksasa bisa melalui lautan dan mengejar Timun Emas.

Merasa ancaman masih mengintainya, Timun Emas melempar jarum. Jarum itu menjadi pohon yang lancip dan mengenai kaki raksasa.

Raksasa terus mengejar Timun Emas. Lalu Timun Emas melempar terasi. Terasi itu menjadi lautan lumpur. Nasib Raksasa berakhir di lumpur tadi.

Seru ya ceritanya!

Lalu sekarang aku akan ceritakan tentang Semangka Emas. Simak baik-baik ya!

Seorang anak dengan pakaian lusuhnya berjalan menyusuri hutan kayu putih. Dibawanya satu bongkok (ikat) kayu bakar kering. Kayu-kayu itu diperoleh dari hutan jati yang jatuh di sekitar sana.

Saat berjalan itu, tiba-tiba dia melihat seorang nenek yang berada di depan rumah sederhana.

"Hai, anak baik hati," sapa nenek tadi.

"Iya, nek. Ada apa ya?" Tanya anak itu sambil mendekati nenek.

"Aku mau memasak lauk untuk cucu-cucuku. Tetapi kayu bakarku habis. Bolehkah aku mengganti kayu bakar yang kau bawa itu dengan semangka?" Tanya nenek itu dengan suara pelan.

Anak itu kebingungan. Dia harus melakukan apa. Di rumah, persediaan kayu bakar juga menipis. Tetapi ada nenek yang membutuhkan kayu bakar. Sementara dia mendengar anak-anak menangis.

"Dengarlah, nak. Tangisan itu adalah suara cucu-cucuku yang kelaparan," ucap nenek itu.

Nenek itu lalu ke dalam rumah. Kemudian keluar dengan membawa semangka yang cukup besar. Anak itu membayangkan betapa segarnya kalau makan semangka setelah makan nasi. Tetapi, dia ingat akan persediaan kayu bakar di rumah yang sedikit. 

"Bukankah aku bisa mencari kayu bakar lagi besok?" Batin anak itu.

Akhirnya anak itu merasa tak tega dengan suara anak-anak yang dia kira seusia dengan adik bungsunya. Anak itu menerima tawaran nenek-nenek itu untuk menukar kayu bakar dengan sebuah semangka.

Nenek itu sangat bahagia dan berterima kasih kepada anak itu.

"Sebelum kamu pulang, tolong ingat pesan nenek ya, nak. Semangka ini jangan sampai kau jual. Kamu harus bawa semangka ini sampai rumah. Nanti kalau kau memotong semangka ini, biji-bijinya kamu kumpulkan. Lalu tanamlah semua biji semangka di sekitar rumahmu. Akan ada satu semangka berbiji emas di antara semangka yang berbuah dari tanaman semangkamu nanti. Itu bisa kau gunakan untuk kebutuhanmu dan keluargamu," nasehat nenek itu.

"Ya, nek. Saya pamit dulu ya. Keburu Maghrib," anak itu bersalaman dengan si nenek dan bergegas pulang.

***

Malam harinya, di rumah, anak itu berkumpul dengan ibu dan adiknya. Bapak belum pulang dari surau.

Sambil menunggu bapak pulang dan makan malam, anak itu bercerita tentang kejadian saat pulang dari hutan jati di kampung sebelah.

"Apa benar kalau nanti akan tumbuh semangka berbiji emas ya, Bu?"

Ibu tersenyum. 

"Tak perlu dipikirkan, nak. Semangka kalau bijinya ditanam lagi ya akan tumbuh semangka yang kamu peroleh."

"Tapi, nenek itu berpesan agar tidak menjual semangka ini, Bu".

"Ya maksud nenek itu, kita disuruh makan semangka dan mengumpulkan bijinya. Lalu ditanam. Kalau sudah tumbuh dan berbuah, semangka itu dijual. Baru bisa digunakan untuk membeli emas".

Masuk akal juga ucapan ibu tadi.

Tak berapa lama bapak sampai rumah. Mereka segera mengaji dan dilanjutkan makan malam. Setelah makan malam, semangka tadi dipotong-potong ibu.

Seperti bayangan anak tadi, semangka itu sangat segar dan manis. Ibu, ayah dan adik-adiknya sangat menyukainya. Anak itu sangat bersyukur karenanya. Tak lupa anak itu mengumpulkan biji-biji semangka. Dia mau menanamnya di tanah sekitar rumah. Biar kalau berbuah, mereka bisa menikmati lagi.

***

Beberapa bulan kemudian, pekarangan di sekitar rumah anak itu sudah tumbuh subur tanaman semangka. Bahkan sudah mulai berbunga dan berbuah dengan ukuran kecil. 

Anak itu sangat senang melihat tanamannya subur. Dia berharap, semangka nanti bagus panennya. Bisa dijual di pasar.

Sayangnya saat buah semangka semakin besar, dia merasa buah-buah semangkanya berkurang satu demi satu. Entah siapa yang mengambilnya. Tentu saja anak itu sedih. Keluarga mereka belum menikmati buah hasil budidaya mereka, malah dicuri orang.

"Sudahlah, nak. Nggak apa-apa. Kalau rezeki, kita akan menikmatinya," nasehat ibu lembut.

"Tapi harusnya bisa kita jual kan, Bu?" Anak itu sedikit protes. Dia tidak terima kalau buah semangka keluarganya diambil orang tanpa izin.

"Biar yang nyuri dapet dosanya ya, nak".

Anak itu mengangguk. Dilihatnya beberapa buah semangka besar yang tersisa.

"Semangka-semangka yang tersisa kita panen saja ya, Bu."

Ibu menyetujui usul anak itu. Semangka itu tidak dijual, tetapi mau dimakan sekeluarga.

"Apa semangka kita dicuri karena tersiar kabar kalau ada satu buah semangka emas yang tumbuh dari tanaman kita ya, Bu?" Memang di kampung mereka ada kabar kalau semangka di kebun anak itu ada yang berbiji emas. Entah siapa yang mendengar obrolannya dengan keluarga.

"Bisa saja seperti itu, nak. Tapi selama beberapa hari ini tidak ada kabar kalau ada yang punya emas dari semangka kan?"

Anak itu membenarkan ucapan ibunya.

***

Sampai tersisa satu buah semangka, anak itu beserta keluarga juga tak menemukan biji emas di antara buah-buah semangka yang dimakannya. Biji-biji semangka juga sama wujudnya seperti biji-biji semangka yang ditanamnya dahulu.

Anak itu semakin yakin kalau memang sebenarnya semangka biji emas hanya ungkapan saja kalau mereka bisa mendapat kemuliaan dari semangka itu karena mau berusaha dan bisa menjualnya.

Anak itu yakin kalau nanti saat menanam semangka lagi, nantinya akan menjual semangka ke kota. Dia dan keluarganya bisa mendapatkan emas atau kemuliaan dari kegiatan itu.  

***

Saat malam tiba, mereka akan memotong semangka lagi setelah makan malam. Mereka tak merasakan kecewa lagi karena kehilangan buah semangka yang cukup banyak.

Ibu mengambil semangka yang tersisa. Lalu dipotongnya buah semangka menjadi dua bagian. Dua bagian itu dipotong lagi dengan ukuran kecil.

Ibu merasa agak aneh dengan semangka terakhir. Kalau dilihat warna semangkanya memang merah merona, seperti semangka sebelumnya. Tetapi yang agak aneh, bijinya berwarna kuning keemasan.

Ibu segera memanggil ayah dan anak itu.

Ayah dan anak itu juga sangat terkejut melihat biji semangka terakhir milik mereka. Warnanya kuning keemasan.

"Allahuakbar. Ini benar-benar emas, Bu! Alhamdulillah" seru bapak.

Sejak saat itu, mereka lebih rajin dalam merawat tanaman semangka yang ditanam dari biji-biji yang dikumpulkan. Mereka tak berharap mendapat semangka berbiji emas lagi. Mereka sadar, bisa saja besok saat memanen lagi, semangka akan berwujud semangka seperti pada umumnya.



Branjang, 10-11 Juni 2023


Thursday, September 01, 2022

Kumpulan Cerita Anak tentang Hewan Peliharaan Materi Tema 3 Kelas IV SD Karanganom II

                                 


Kucing dan Ikan

Karya: Arvel

Aku memiliki kucing. Jenisnya yaitu kucing Persia. Namanya Poci. Jika kakakku pergi sekolah dan belum pulang, aku yang memberi makan dan minum. Warnanya hitam dan putih.

Aku juga memiliki ikan. Aku punya ikan banyak. Kuberi makan pelet atau cicak, jangkrik, cacing, dan lainnya.


Aku dan Dua Kucingku

Karya: Anggun


Aku mempunyai dua kucing yang sangat imut. Milo dan Meli namanya. Aku sayang kucingku. Aku selalu memberikan makan dan minum karena aku sayang. 


Milo bertingkah laku baik kepadaku. Kucingku itu berwarna hitam, coklat dan Oren, putih. 


Dulunya kucingku kecil. Sekarang dia menjadi besar karena aku memberikan makan dan minum. Aku selalu memandikannya agar selalu bersih dan wangi.


Walaupun kucingku kucing Jawa tapi aku sayang kucingku. Aku selalu membersihkan kotorannya. 


Kucingku selalu tidur bersamaku. Akupun selalu merawatnya dengan baik dan kasih sayang. Kadang Milo nakal tapi selalu tidur bersamaku dan jika dimandikan selalu marah. Kalau Meli sopan dan jika dimandikan selalu marah juga. Tapi aku selalu membelikan makanan untuk dua kucingku.


Kucingku

Karya: Aisyah


Aku punya dua kucing. Warna kucingku putih dan belang. Ibuku selalu memberi makan kucing dengan teratur. Kucingku selalu naik di atas genteng dan mengejar tikus. Lalu tikusnya ditangkap oleh kucingku. Terkadang kucingku mengambil lauk di meja lalu dimakan oleh kucingku. Dan kucingku selalu bermain dengan kucing tetangga.


Kucingku Mungil

Karya: Anisa


Aku menguras, memberi makan kucing dan membersihkan kotoran kucing.


Aku dan Kucingku

Karya: Vigi


Aku mempunyai seekor kucing. Namanya Jenie. Dia sangat imut dan lucu. Aku selalu memberi makan, minum dan tempat tinggal. Aku menyayanginya seperti keluarga. Dia sangat lincah dan lucu. Setiap hari aku mengajaknya bermain. Kucingku berwarna putih, abu-abu dan coklat. Aku sangat sayang padanya. Dia suka berburu tikus. Setiap malam dia tidur bersamaku. Setiap hari dia menungguku saat aku sekolah. Sepulang sekolah, aku dan dia selalu bermain.


Jenie selalu melompat-lompat seperti kelinci. Aku sangat menyayanginya. Dia sangat suka dielus perutnya dan dia suka bermain kejar-kejaran. Dia sangat lincah. Dia lucu dan suka makan makanan khusus kucing.


Aku merawatnya dengan senang hati. Jenie adalah kucingku yang imut. Bulunya lembut dan lebar. Kucingku sangat imut dan cantik. Aku merawatnya dengan baik. Aku selalu membersihkannya. Aku dan ibuku memandikannya seminggu sekali dengan menggunakan air hangat. Aku sangat bahagia bersama Jenie.


Aku dan Olaf

Karya: Yuena


Aku sudah lama ingin mempunyai hewan peliharaan. Beberapa hari kemudian ayahku membelikan kucing. Kuberi nama Olaf.


Dia berwarna abu-abu dan putih di bawah hidung.

Kucingku ada kumis berwarna abu-abu. Karena kucingku jantan dan dia terlihat tua. Aku sering bertengkar dengan Olaf karena Olaf sangat nakal.


Kucingku sangat menyukai es krim rasa coklat dan stroberi. Di malam hari aku dan Olaf tidur bersama. Saat Olaf tidur tiba-tiba pipis di kasurku. Saat aku bangun, aku terkejut dan aku harus bertanggung jawab untuk membersihkan kasur. Dan aku berpikir untuk membuat rumah kucing yang terbuat dari kardus. Akupun membuatnya.


Aku dan Pipi

Karya: Ayu


Aku memiliki kucing. Kuberi nama Pipi. Pipi itu betina. Ia sedang hamil. Ia sudah hamil beberapa hari.


Kulit bulunya berwarna abu-abu, kuning, putih dan coklat. Setiap hari kuberi makan dan minum. Kumandikan setiap hari. Aku pun membersihkan tempat tidurnya. Aku selalu tidur bersama kucingku.


Kucing

Karya: Rara


Aku punya peliharaan kucing. Kucingku berwarna abu-abu dan putih. Nama kucingku Brayen. Bulu kucingku sangat halus. Aku merawat dengan baik. Aku memberi makan dan minum, membersihkan keranjang tidurnya. Aku selalu membersihkan kotorannya.

Aku juga selalu memandikan kucingku. 



Melikan, 1 September 2022

Friday, October 08, 2021

Nasib Kepompong dan Kupu-kupu


Ilustrasi: rahasiabelajar.com


Lela tampak sedih. Ketika pulang sekolah tadi, dia melihat banyak orang yang sedang mencari enthung atau kepompong.


Lela tahu, pasti kepompong atau enthung itu akan dijual atau dimasak dan dimakan sebagai lauk. Orang-orang, termasuk teman-teman di sekitar Lela, memang sangat menyukai menu kepompong saat musim kepompong tiba.


Kalau tidak dimakan, kepompong itu dijual dengan harga yang sangat mahal. Lebih mahal daripada harga ayam. Tentu sangat menggiurkan.


Makanya mereka rela pergi ke daerah lain yang juga banyak pohon-pohon jati yang daunnya habis dimakan ulat. Berburu kepompong demi uang atau makan mereka.


Lela ingat dari penjelasan Bu guru di sekolah kalau kepompong yang nantinya akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah serta bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup. Makanya harus dilestarikan.


Kepompong berasal dari telur kupu-kupu. Telur kupu-kupu berubah menjadi ulat, baru menjadi kepompong dan dua mingguan kemudian akan menjadi kupu-kupu.


Dari informasi yang dibaca Lela, kupu-kupu, selain indah dilihat, juga termasuk bangsa serangga yang membantu penyerbukan bunga. Lalu bunga-bunga itu akan berkembang menjadi buah-buahan yang bisa dimakan manusia.


***

"Lel, kepompong enak dimakan lhooo," ucap Leo.


"Bener. Aku kemarin juga nyicipi sedikit gorengan kepompong, rasanya emmmm...yummmy!" Kelakar Bintang.


"Kata bapak, rasanya nggak kalah sama daging sapi," timpal Leo.


"Tapi 'kan tadi Bu guru…"


"Ah… cueki aja omongan Bu guru. Yang penting diiyain aja kalau di kelas. Hahahah," sahut Bintang. Lela sebal sekali dengan omongan teman-temannya. 


Bagaimanapun ulat, kepompong dan kupu-kupu harus dilestarikan. Biar pohon buah yang ditanam ayah bisa berbuah dengan bantuan kupu-kupu.


Lela sangat senang ketika melihat kupu-kupu yang sangat banyak hinggap di pekarangan di sebelah Utara rumah. Warna-warni sayapnya. Kupu-kupu itu menari-nari dengan indahnya.


Kupu-kupu mencari madu pada bunga kelengkeng yang sedang banyak-banyaknya. Sedangkan bunga yang diambil madunya itu kelak akan berbuah. Buahnya bisa Lela makan bersama keluarga, saudara dan tetangganya.








Friday, October 01, 2021

Hobiku di Rumah

Ilustrasi: journal.sociolla.com

Bau harum dari dapur tercium. Biasanya ibu yang memasak. Tapi kali ini aku yang memasak sendiri.

Aku tadi buka kulkas. Ada tahu putih, teri kecil, telur, sayuran. Aku ambil saja tahu putih. 

Pada dasarnya aku ini suka makan dan suka bereksperimen. Cara membuat slime dari odol hingga memasak.

Aku tadi sempat kaget saat ibu muncul dari balik pintu ruang tengah yang menghubungkan dengan dapur.

"Kamu bikin apa, nak?"

Aku konsentrasi membuat bumbu untuk memasak tahu. Garam dapur kutaburkan ke tahu.

"Kaget aku, Bu." Jawabku singkat.

"Kukira tadi kamu dolan. Ternyata di dapur."

"Aku mau goreng tahu, Bu." Kataku sambil tersenyum.

Biasanya tahu putih kuhancurkan, kuberi bumbu bawang putih garam, lalu kumasukkan telur. Baru kuaduk rata dan kugoreng. Tapi kali ini, aku tak menggunakan telur. 

"Tahunya diiris tipis saja, nak. Biar bumbunya meresap." Nasehat ibu.

***

"Mmmm...yummmmiiii!" Aku mencicipi tahu goreng buatanku. Ya meski tak seenak masakan ibu. Tapi aku senang sekali bisa masak sendiri.

"Kalau sudah selesai masaknya, alat-alat dan bumbu-bumbu dikembalikan ke tempat semula ya, nak!" 

Aku memang memiliki kebiasaan jelek, tak mau mengembalikan aneka bumbu, atau alat-alat memasak setelah selesai masak. Karena itu ibu sering kesal padaku.

Ya...aku tahu kalau ibu capek. Aku akan berusaha lebih tertib lagi lain kali. Aku sayang ibu. Kasihan juga kalau ibu kecapekan.




Thursday, September 16, 2021

Aku Sudah Vaksin

Aku sudah vaksin. Foto: Zahrotul Mutoharoh

Hai… aku Azza. Sekarang ini aku duduk di kelas VI. Hobiku bermain plastisin, menggambar dan membaca buku.

Aku memiliki dua adik. Shifa kelas IV dan Raffa masih balita. Kalau kami berkumpul pastilah ramai dan ribut. Ada saja yang membuatku kesal. Tapi kalau tak bertemu mereka, rasanya sepi juga.

Aku sering tidur di rumah Simbah. Menemani Simbah dan bulikku. Di rumah Simbah, aku diajak hafalan surat-surat pendek. 

Kalau bosan, aku biasanya menonton televisi. Tayangan berita, dan tayangan berbau pengetahuan sangat aku sukai.

Dari menonton televisi itu aku tahu berbagai berita. Termasuk berita vaksinasi untuk menekan dan mencegah kena covid.

Aku sering bertanya kepada ibu, kapan aku bisa vaksin. Ya karena aku sudah berusia dua belas tahun bulan Juli kemarin.

"Di berita tivi itu sudah ada vaksin buat anak usia 12 tahun. Lalu aku kapan, Bu?"

Ibu sudah paham kalau aku pasti sering menanyakan hal itu. 

"Tunggu kabar dari puskesmas ya, ndhuk…" begitu kata ibu.

**

"Za, ibumu mendaftarkan kamu vaksin. Mau nggak?" Tanya Bulik.

"Yang bener, Bulik?" Tanyaku.

"Iya. Vaksinnya di Balai Desa. Tanggal 14 September."

Rasanya aku tak sabar untuk vaksin.

**

Tanggal 14. Aku mandi dan sarapan. Lalu bersiap-siap untuk ke Balai Desa. 

Oh iya. Untuk vaksin kali ini aku diantar Bulik. Soalnya ibu mau periksa ke dokter. 

Aku ke Balai Desa pukul delapan lebih. Sesampai di sana, banyak sekali orang yang mendaftar dan mengikuti vaksin. Oleh Bulik aku diantrikan. Nomor antriku 154. 

Lama juga menunggu vaksinnya. Setelah mendaftar, suhu tubuh dicek. Tensi juga. Baru setelah cek suhu dan tensi, aku disuntik oleh pak dokter.

Setelah disuntik vaksin, aku dan orang yang ikut vaksin menunggu kartu vaksin. Selama 30 menit. Untuk mengetahui reaksi tubuh setelah vaksin.

Selama menunggu 30 menit, seorang dokter mengumumkan kalau vaksin merupakan salah satu usaha untuk sehat. Bukan berarti divaksin lalu tidak kena covid. Tetapi orang yang divaksin itu kalau kena covid maka tidak akan parah.

***

Setelah 30 menit, namaku disebut oleh petugas. Lalu ditanya, apa yang kurasakan setelah divaksin.

"Lenganku pegal-pegal," jawabku.

Lalu petugas memberikan kartu vaksin kepadaku. Kartu itu kuserahkan kepada Bulik, setelah berfoto di Balai Desa dengan memegang kartu vaksinku.

Alhamdulillah. Aku sudah vaksin meski masih SD. Semoga aku, adik-adik, ibu, bapak dan semua keluargaku sehat. 


Sekolah Lagi

Ilustrasi: rosyidaaulia.wordpress.com


Siang hari ini aku baru saja menyelesaikan tugas dari Bu guru. Pelajaran Tematik. 

Tugas itu segera kulaporkan kepada Bu guru lewat pesan pribadi WhatsApp. Tak lama kemudian ada pesan masuk dari Bu guru ke grup Paguyuban Orang Tua kelasku.

Assalamu'alaikum.

Berdasarkan rapat sekolah hari ini, saya sampaikan informasi bahwa mulai Minggu ini akan diadakan pembelajaran tatap muka.

Adapun jadwal PTM sebagai berikut:

Kelas I dan V masuk hari Rabu

Kelas II dan VI masuk hari Kamis

Kelas III dan IV masuk hari Jumat

Pembelajaran dimulai pukul 07.30-10.00 WIB.

Demikian pengumuman dari sekolah.

Wassalamu'alaikum.


Catatan: siswa bersekolah mengenakan pakaian rapi. Tidak perlu berseragam terlebih dahulu dan wajib mengenakan masker,cuci tangan, jaga jarak, dan jangan jajan sembarangan.

***

Setelah membaca pesan itu melonjak-lonjak kegirangan. Aku bahagia sekali. Sampai-sampai ibu yang baru saja sampai rumah heran melihatku begitu gembira.

"Besok Jumat aku sekolah, buuu!" Teriakku sambil berlarian. Lalu mendekati dan memeluk ibu.

"Oh ya? Kamu tahu dari mana, ndhuk?"

Segera kuserahkan handphone kepada ibu. Lalu ibu memeriksa pesan-pesan yang masuk, termasuk pesan dari Bu guruku.

"Alhamdulillah. Akhirnya kamu kembali sekolah, ndhuk…"

"Tapi cuma sehari dalam seminggu," gerutuku.

"Eits...nggak boleh begitu, ndhuk. Pasti ada alasan sekolahmu sekali dalam seminggu. Di sekolah sebelah juga masuk sekolahnya baru sekali kok dalam seminggu…"

Oh iya ya. Kan aku punya teman yang sekolah di sekolah negeri di dusun sebelah. Nah kalau aku sekolah di sekolah swasta. SD Muhammadiyah.

"Berarti sama ya, Bu…"

Ibu mengangguk. 

"Kita harus hati-hati kalau mau ke mana saja, termasuk ke sekolah, ndhuk. Semoga pandemi ini segera berlalu."

"Aamiin…" aku mengaminkan ucapan ibu.


**

Di kamar, aku mencari seragamku. Setelah beberapa waktu, akhirnya ketemu juga seragam HWku. HW itu kependekan dari Hizbul Wathan, gerakan kepanduan di sekolah Muhammadiyah. Kegiatannya sebenarnya sama dengan Pramuka.

Ah...kembali ke cerita seragamku saja ya. Seragamku lama tak terpakai. Satu tahun lebih. Seragam HW dikenakan pada hari Jumat.

Aku coba kenakan seragam itu lagi. Dan sekarang sudah tak muat lagi. Celanaku juga cingkrang. Aduh ..aku jadi bingung!

Segera kutemui ibu yang sedang mengangkat jemuran pakaian. 

"Aku dibelikan seragam lagi ya, Bu! Sepatu juga …"

Sesaat ibu diam. 

"Insyaallah, ndhuk."


***

Sambil menunggu ibu membelikan seragam baru, aku menyetrika seragam lamaku. Ibu mengarahkan bagaimana cara menyetrika pakaian. Aku tak mau merepotkan ibu terus. Makanya aku belajar menyetrika baju.

"Kalau misalnya nggak muat beneran, nggak seragaman dulu juga nggak apa-apa kan, ndhuk…"

Ibu mengingatkan kalau pesan dari Bu guru, para siswa masuk sekolah dengan mengenakan pakaian rapi, mengenakan masker, dan patuh pada protokol kesehatan. 

"Iya, Bu. Seadanya dulu. Beli seragamnya kalau sudah punya uang saja."




Friday, September 03, 2021

Ibuku, Guruku

ilustrasi: origami.co.id


Duduk di kelas IV selama dua bulan ini tentu membuatku sangat bahagia. Ya... meski hampir satu semester pembelajaran secara online atau PJJ, aku bisa naik kelas. Alhamdulillaah.

Aku yakin teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Tidak masuk sekolah setiap pagi tentu membuat kami bahagia. Tetapi itu hanya pada awal pembelajaran online. Lama-lama aku bosan sekali.

Setiap hari hanya bertemu kakak perempuan dan adikku. Kakakku sekarang kelas VI. Sedang adikku sekarang harusnya sudah masuk sekolah di PAUD.


***

"Tugasnya segera dikerjakan, Fa." suara itu mengagetkanku. Maklum, aku baru konsentrasi menonton televisi. Setiap pagi aku menonton film kartun kesukaanku. Mulai dari Omar Hana, Riko sampai Adit Sopo Jarwo.

"Iya, bu. Nanti..."

Aku selalu menunda waktu untuk mengerjakan tugas. Tugas dari guruku sebenarnya tidak banyak. Tetapi justru itulah yang membuatku semakinsenang menunda-nunda pekerjaan.

Setelah puas menonton televisi, aku minta uang untuk jajan. Nah...kalau sudah dikasih uang jajan, aku mampir di rumah simbah. Biasanya aku di rumah simbah sampai sore.

Lagi-lagi aku menonton televisi di rumah simbah. Tak ada bosan-bosannya aku menonton televisi. Apalagi kalau mbak Lis, saudara sepupuku ke rumah simbah juga. Atau Kekey menyusulku. Tambah semangatlah aku dalam menonton televisi.

***

Suatu sore, di rumah simbah.

"Fa, gurumu siapa?"tanya simbahku.

Kebetulan ibu ke rumah simbah juga bersama adikku. Ibu mengawasi adik yang berlarian ke sana-kemari.

"Ibu," kujawab singkat pertanyaan simbah.

"Lha gurunya ibumu sendiri. Terus kamu sudah mengerjakan tugas apa belum?"

Aku tak menjawab. Hanya isyarat gelengan kepala.

Simbah hanya tertawa. Tak lama simbah menasehatiku.

"Kalau gurumu di sekolah itu ibumu sendiri, harusnya kamu lebih rajin. Setiap hari kan ketemu dan diajari bu gurumu," begitu nasehat simbah.

Ibu yang tadinya wira-wiri mengikuti adikku mengomentari perkataan simbah.

"Kalau Ifa ngeyel ya nggak dinaikkan ke kelas V, mbah," ucap ibuku.

Aku masih belum paham. Kenapa aku nggak bisa naik kelas? Bukankah aku tetap mengerjakan tugas? Meski tugas itu kukerjakan sore hari, kalau bapak pulang kerja. Aku paling takut kalau bapak marah karena aku belum mengerjakan tugas.

"Yang dinilai itu bukan hanya pekerjaan setiap mata pelajaran, Fa," kata ibu.

Ah...aku merasa ibu berbohong padaku.

"Kalau nggak percaya, tanya sama bulik saja."

***

"Fa, kalau bulik menilai dan menulis nilai di rapor itu juga ada nilai sikap. Nilai sikap itu ada macam-macam. Kedisiplinan, ketertiban dan masih banyak lagi. Kalau nilainya nggak baik pasti murid bulik nggak naik kelas. Makanya kamu harus tertib kalau mengerjakan tugas. Jangan lupa, bantu ibu dan bersikap yang baik sama ibu-bapak di manapun," terang bulik.

Aku memang suka ngeyel. Malah kadang marah kalau diingatkan ibu untuk membantu, merapikan kamar, membereskan mainan adik.

"Kamu pingin pinter dan naik kelas nggak," tanya bulik kemudian.

Aku mengangguk.

"Berarti kamu harus melakukan yang bulik bilang tadi..."


***

Keesokan paginya.

"Bu, sudah ada tugas apa belum?" aku bertanya kepada ibu.

"Belum. Sebentar lagi ya, Fa."

Mulai sekarang, aku akan lebih disiplin dan tertib kalau mengerjakan tugas. Juga akan menghilangkan kebiasaan marah-marahku kepada ibu. Aku sayang ibu, yang juga menjadi guru kelasku saat ini.




Friday, February 26, 2021

Cernak "Ibu Jangan Sakit" Difilmkan, Surprise!!!

Selama saya memiliki hobi menulis, ada banyak tulisan baik karya ilmiah maupun ulasan materi kuliah dan pelajaran dimanfaatkan oleh para pengunjung blog. 

Tentu saya pribadi merasa senang karena tulisan saya bermanfaat. Namun secara tak sengaja saya menemukan sebuah cerita pendek untuk anak-anak difilmkan.

"Ibu Jangan Sakit" telah saya posting di Kompasiana beberapa bulan yang lalu. Tak saya sangka cernak ini diangkat dalam sebuah film pendek dengan durasi 1 menit 30 detik. 

Surprise! Ya karena selama ini saya merasa cerpen, terutama cernak, masih banyak kekurangan. 

Saya pribadi mengucapkan terimakasih kepada Nur Bani Sa'idah atas apresiasi cernak saya. Nur Bani Sa'idah, seorang mahasiswi dari Universitas Pendidikan Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Berikut film "Ibu Jangan Sakit". Selamat menyaksikan.




Wednesday, November 11, 2020

Persahabatan di Dunia Rusa -9

Ilustrasi: dongengceritarakyat.com

Bermain Bersama Sahabat Baru

Memiliki sahabat baru tentu sangat menyenangkan. Ya meski harus beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan kebiasaannya yang asing.


Sahabat baru di hutan ada Rusa Timor dan Timorensis atau Rensis. Keduanya bersaudara. Rusa Timor adalah rusa pemberani. Sedangkan Rensis pemalu dan penakut. Karenanya Rusa Timor sering melindungi Rensis.


"Kamu sangat menyayangi Rensis ya, Timor…" 


"Tentu. Aku akan menjaganya sampai kapan pun."


Rusa-rusa sangat mengagumi Timor. Tetapi Timor tidak sombong karenanya. Dia tetap bersikap baik pada siapapun.


**

"Kamu kok diam saja, Rensis?" Pudu menyapa Rensis yang menyendiri.


Rensis tersenyum. Pudu segera duduk di samping Rensis.


"Kamu mbok cerita sama aku…"


Rensis menggelengkan kepala. 


"Mmm… ya sudah. Kalau begitu kita main kejar-kejaran yuk!" Ajak Pudu.


"Aku nggak mau. Aku pasti kalah dan malu."


***

Pudu dan Rensis akhirnya bermain kejar-kejaran di taman hutan. Baik Rensis dan Pudu tertawa riang.


Tak lama kemudian mereka sampai garis finish.


"Tuh kan, kamu menang Rensis. Kamu hebat!"


"Ah… nggak, Pudu. Aku biasa saja…"


"Itulah hebatnya kamu. Kamu nggak sadar kalau kamu hebat dan rendah hati. Nggak sombong akan kehebatanmu…"


"Benarkah?"


"Iya. Sikapmu baik. Aku senang berteman denganmu."


Rensis tersenyum senang.


"Kalau begitu aku boleh jadi temanmu ya, Pudu?"


"Loh...kan kita memang temenan…" sahut Pudu sambil tertawa riang. 


"Nah… kami semua juga temanmu, Rensis!" Ucap Rusa Ekor Putih.


"Iya. Besok kita main bersama ya…" ajak Sika.


***


Bersambung

#cernakjora #fabel jora #seri binatang #kpb #dunia rusa #persahabatan #rusa



Tuesday, November 10, 2020

Persahabatan di Dunia Rusa -8

Rusa Timor betina. (Gambar: animalpicturesarchive)

Dua Sahabat Baru di Dunia Rusa

Hari menjelang siang, taman hutan ramai seperti biasa. Rusa-rusa masih bermain mumpung hari cerah. Mereka berkejar-kejaran sambil menikmati udara segar. 


Dari kejauhan rusa-rusa melihat Elk tengah berjalan ke arah mereka. Di belakang Elk ada dua binatang yang mirip dengan mereka.


Rusa-rusa yang tengah bermain sejenak berhenti dan berkumpul di tanah yang agak lapang. Mereka penasaran dengan binatang berwarna coklat. Salah satunya bertanduk dan satu lagi tak bertanduk.


"Elk, siapa mereka?" Tanya Rusa Merah.


"Oh, mereka sahabat baru kita…"


Rusa-rusa semakin penasaran. Mereka menunggu Elk dan dua sahabat barunya bicara.


Elk mempersilakan kedua sahabat itu untuk memperkenalkan diri.


"Hai, teman-teman. Perkenalkan, kami dua bersaudara. Aku Rusa Timor. Adikku bernama Timorensis. Kami dari Nusa Tenggara Barat…"


"Selamat datang Timor dan Timorensis," sapa rusa-rusa kompak.


Elk tersenyum.


"Selamat bergabung dengan kami, Timor dan Timorensis…"


***

Malam harinya di gua.


"Huhuuu… Aku takut…" 


Terdengar suara Timorensis di dekat Pudu.


"Cup...cup… jangan nangis, Rensis. Kamu takut apa?" Tanya Pudu yang matanya terlihat menahan kantuk.


"Gelap sekali, Pudu. Lagipula aku biasanya tidur di dekat Timor. Sekarang nggak lagi. Huhuuuu…"


Timorensis menangis sesenggukan. 


"Sebentar ya, Rensis…"


Pudu meninggalkan Timorensis dan menuju tempat berebah Rusa Tutul. Rusa Tutul kebetulan juga belum tidur.


"Ada apa, Pudu? Kamu belum mengantuk?" Tanya Rusa Tutul.


"Aku ngantuk, Tutul. Tapi baru saja mau tidur, Rensis menangis ketakutan…"


"Lho kenapa?"


Pudu menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum.


"Sama sepertiku dulu, Tutul. Hehe…"


"Takut di tempat gelap?"


Pudu mengangguk.


***

"Terimakasih, Tutul. Kamu mau mengalah demi Rensis. Kamu baik sekali," ucap Pudu.


"Kamu juga baik banget, Pudu. Hoaaaamm. Yuk kita tidur biar bangunnya nggak kesiangan…"

***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -7

Rusa Air dari Cina, sumber gambar: zoochat.com

Perselisihan Rusa Air dan Rusa Tutul

Rusa Air atau sering disapa Sair terlihat cemberut. Tak seperti biasanya. Kesehariannya Sair sangat riang dan ramah meski dia memiliki taring tajam. Sair memang unik. Mungkin merupakan jenis rusa satu-satunya yang bertaring.


Karena bertaring, teman-teman Sair selalu berhati-hati dalam berbicara atau bersikap pada Sair. 


"Selama kalian baik, aku tidak akan marah atau menggigit kalian, teman." Sair menjelaskan tentang kebiasaannya.


"Tapi kalau aku kesal, aku bisa saja menggigit kalian…"


"Iya, Sair. Kami akan tetap berteman denganmu," ucap Rusa Sika. Rusa Sika memiliki ciri khas pada kaki dan kepalanya. Kaki kecil dan kepala Rusa Sika yang sangat kecil.


"Terimakasih!" Sair tertawa sambil berteriak riang.


***

"Sair, kamu kenapa?" Tanya Elk.


"Aku sebal sama Tutul!"


Elk menatap Sair. Elk maklum pada Sair karena Rusa Tutul memang belum sepenuhnya berubah. Kadang masih saja sombong atau mengejek teman-temannya meski Rusa Tutul sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Kamu sabar ya, Sair. Aku nanti akan ingatkan Tutul."


"Benar ya, Elk. Aku nggak mau kalau aku diejek karena punya gigi yang beda dengan kalian…" 


"Kamu tenang saja, Sair. Kami tetap menyayangi kamu kok. Kan kamu juga baik hati…" hibur Rusa Merah.


***

Matahari sudah berada di atas kepala. Meski panas tetapi rusa-rusa bermain di taman hutan. Mumpung belum mendung atau turun hujan.


Kalau mendung atau hujan, pasti mereka mengamankan diri di gua. Selain menghindari hujan angin, mereka juga menghindari petir yang mengerikan.


Di sudut taman hutan, Rusa Tutul menjerit kesakitan. Dia juga menangis. Lehernya mengeluarkan darah meski tak banyak.


Di depannya berdiri Sair dengan nafas terengah-engah. Dia terlihat marah kepada Rusa Tutul.


Sementara rusa-rusa lainnya menuju tempat Rusa Tutul dan Sair berdiri.


**

"Ayo, sekarang kalian bersalaman!" Seru Elk.


Dengan ragu Rusa Tutul dan Sair bersalaman.


"Kalian ingat-ingat, kalian tidak boleh bertengkar lagi seperti tadi. Paham kalian?"


Rusa Tutul dan Sair mengangguk.


"Iya, Elk. Aku janji, nggak akan mengejek Sair lagi…"


"Bagus! Kalau kamu ulangi lagi, kamu akan mendapat hukuman. Membersihkan tempat tinggal darurat kita!"


"I--iya, Elk…"


Sair yang tadi terlihat kesal, sekarang sudah mulai tenang.


"Aku juga nggak akan marah dan menggigitmu lagi, Tutul. Maafkan aku ya…"


Elk lega. Sair dan Rusa Tutul rukun. 


"Semua makhluk hidup pasti ada sisi baik dan jelek. Nggak ada yang sempurna. Yang baik ya diteruskan. Tapi kalau jelek ya nggak boleh dilanjutkan. Oke ya!"

***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -6

Ilustrasi: erabaru.net


Usulan Elk

"Jadi benar kamu mau tidur di pojokan lagi?" Tanya Elk di depan pintu gua. Elk meyakinkan bahwa Pudu memang sudah berani tidur di tempat yang agak gelap.


Pudu mengangguk dengan cepat.


"Boleh aku tahu, alasannya apa?" 


"Mmmm… kasihan Tutul, Elk. Rumahnya hancur tertimpa batu dan pohon…"


"Baiklah kalau begitu…"


Rusa Tutul yang sedari tadi diam, menyela pembicaraan Elk.


"Harusnya yang tidur di pojokan itu aku, Elk. Jadi biarlah aku saja yang di pojokan nanti malam…" 


***

Elk bingung dengan pendirian dua temannya itu. Dia mondar-mandir di depan Rusa Tutul dan Pudu.


"Mmm… begini saja. Kalian bergantian tidur di pojokan guanya. Biar adil…"


"Maksudmu?" Tanya Pudu dan Rusa Tutul hampir bersamaan.


"Tadi malam kan Pudu yang tidur di pojokan gua. Nah...nanti malam gantian Tutul. Terus besok Pudu yang tidur di pojokan dan seterusnya…"


Rusa Tutul dan Pudu mengangguk, tanda setuju usul Elk.


Elk senang karena Rusa Tutul sudah mulai bisa belajar mengalah dan tidak sombong. Elk berharap Rusa Tutul bisa mengubah kebiasaan jeleknya dan menjadi anak yang baik pada siapapun.


***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -5

Ilustrasi: agussas.wordpress.co

Rumah Rusa Tutul

Rusa Tutul segera pergi dari gua, tempatnya tidur semalam. Dia merasa tubuhnya nyaman karena semalam bisa tidur nyenyak dan hangat.


"Aku pulang sekarang. Semoga nanti nggak hujan angin lagi. Aku nggak betah kalau harus bersama Pudu dan teman-teman tidur di gua lagi…"


Rusa Tutul berjalan pelan menuju rumahnya sambil melihat keadaan hutan yang agak berantakan karena hujan angin kemarin sore dan tadi malam.


"Pasti nyaman sekali kalau tidur di rumah indahku. Aku akan menyingkirkan batu di dekat pohon sekitar rumah. Jadi, aku bisa tidur di rumah deh nanti…"


Rusa Tutul bersiul riang. Dia menganggap kalau rumahnya selamat dari bencana.


***

"Ya Allah. Apa yang terjadi dengan rumahku?" Teriak Rusa Tutul. Air matanya tak bisa ditahan lagi. Ya...Rusa Tutul akhirnya menangis.


Rusa Tutul sedih karena rumahnya tertimpa batu besar yang kemarin tertahan oleh pohon. Pohon yang menahan batu juga menimpa rumahnya.


"Huhuuuuu… bagaimana ini bisa terjadi? Harusnya kemarin batu itu kusingkirkan dulu sebelum pergi… huhuuuuu…"


**

"Sabar ya, Tutul. Kamu tidur dengan kami lagi di gua ya…" hibur Pudu.


"Aku nggak mau! Aku mau di rumah. Huhuuuuu…"


"Iya. Kamu tidur di rumahmu kalau sudah aman dan sudah diperbaiki ya!"


Rusa Tutul memandangi Pudu.


"Tenanglah. Kamu bisa tidur di tempatmu semalam. Aku tidur dekat Rusa Merah lagi saja…"


"Tapi nanti kamu nggak nyenyak lagi tidurnya. Aku bisa dimarahi Elk dan Rusa Merah…"


Pudu tersenyum.


"Nggak, Tutul. Nanti aku bicara dengan mereka…"


***

Mulut gua sudah terlihat di mata Pudu dan Rusa Tutul. Rusa Tutul ragu untuk melangkah lagi.


"Ayuk, Tutul. Aku pasti bicara dengan Elk dan Merah…"


Rusa Tutul belum juga melangkahkan kakinya.


"Emmmm… Pudu, sebaiknya kamu yang tidur di dekat sisa bara api ya. Aku di pojokan saja…"


"Kok begitu?"


"Iya. Yang penting aku bisa tidur saja. Kasihan kamu kalau nggak tidur nyenyak lagi…"


Rusa Tutul dan Pudu berpandangan.


"Sudahlah. Itu gampang! Yang penting kita masuk gua dulu ya! Tuh... langitnya sudah gelap. Sebentar lagi pasti hujan…"

***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -4

Pudu. Sumber: ayobogor.com

Bermalam di Tempat Tinggal Darurat

Malam semakin larut, rusa-rusa telah bersiap untuk tidur setelah makan malam. Sementara api unggun yang dinyalakan sejak petang, kini tinggal sisa baranya. Meski begitu, hawa dalam gua masih tetap hangat.


Rusa Tutul memilih tempat di dekat bara api untuk tidurnya. Namun oleh Rusa Merah, Rusa Tutul disuruh pindah tempat.


"Di situ buat Pudu, Tutul…" Rusa Merah mengingatkan Rusa Tutul.


"Ah… nggak mau. Aku kalau tidur harus terang. Jadi aku tidur di sini saja, yang dekat sisa bara api unggun…"


Sementara Pudu hanya diam meski sebenarnya dia sangat kecewa. Kalau saja Pudu tidak trauma karena adiknya mati saat hujan angin dua tahun yang lalu, dia tidur di mana saja tidak masalah.


"Sudahlah, Merah. Aku tidur dekat kamu saja…"


"Tapi kita di pojokan gua. Pasti gelap, Pudu…"


"Kan ada kamu, Elk dan teman lain. Aku pasti berani kok…"


Pudu tersenyum pada Rusa Merah.

**

Pagi harinya. Rusa Tutul masih tidur. Sedangkan rusa-rusa lainnya sudah bangun sedari Subuh. Ya...mereka tetap mendirikan shalat. Malah mereka bisa shalat berjamaah.


Selepas shalat Subuh mereka berbincang sambil melihat situasi di luar gua.


"Wah… rupanya hujan semalam membuat pohon banyak yang roboh ya…"


"Iya. Syukurlah kita aman dari bencana…"


"Betul, Putih. Meski rumah kita hancur, kita tetap sehat. Perkara rumah, besok bisa dibangun lagi…"


"He em… hoaaahhh…" Pudu mengiyakan, lalu menguap lama sekali.


"Hei, Pudu. Kamu sepertinya mengantuk banget…"


"Hehehe… iya, Elk. Semalam aku nggak bisa tidur nyenyak…"


"Lho kenapa?"


"Dia tidur di pojokan sama aku, Elk. Tutul itu mengambil tempat tidur Pudu…", sahut Rusa Merah.


"Nanti biar aku nasehati Tutul ya, Merah-Pudu…"


"Ah… nggak apa-apa kok. Biar nanti malam aku tidur di pojokan gua lagi. Aku berani kok…"


"Berani tapi kan akhirnya nggak bisa tidur. Iya kan?"


***

Rusa-rusa kembali ke gua. Rupanya Rusa Tutul baru saja bangun tidur. Dia menggeliatkan tubuhnya.


"Wahhh… sudah pagi rupanya…" ucap Rusa Tutul.


"Ini sudah siang, Tutul. Bukan pagi. Lihatlah matahari sudah tinggi!" Rusa Merah mengomentari ucapan Rusa Tutul.


Rusa Merah terlihat kesal sekali.


"Kamu itu pemalas!"


Rusa Tutul tidak terima dengan ucapan Rusa Merah. Akhirnya mereka bertengkar.


***

"Kenapa kalian berkelahi?" Elk bertanya pada Rusa Tutul dan Rusa Merah.


"Aku kesal, Elk. Dia tidur di dekat sisa bara api. Kasihan Pudu kan? Pudu nggak tidur nyenyak gara-gara dia…"


Rusa Tutul menahan marah. 


"Aku juga tidak bisa tidur di tempat yang gelap. Tahu nggak sih kamu!"


"Tapi kan…"


Elk melerai perselisihan mereka.


"Sudah… sudah!"


Rusa Merah dan Rusa Tutul kaget karena suara keras Elk.


"Begini. Tutul, sejak kemarin tempat tidur sudah dibagi. Memang Pudu kebagian di dekat sisa bara api. Jadi nanti malam dan seterusnya Pudu di sana tidurnya…"


"Yaaa… kok begitu? Kenapa aku nggak diajak membagi tempat tidur? Kalian ini curang!


Elk dan Rusa Merah menggelengkan kepala. 


"Bukankah seharian kemarin kamu nggak ikut kerja bakti? Kami membaginya setelah kerja bakti lho…"


Rusa Tutul terdiam. Dalam hatinya Tutul mengiyakan ucapan Rusa Merah.


"Ya sudahlah. Aku pergi dulu! Aku mau menengok rumahku…"


Rusa Merah mau mengejar Rusa Tutul saking gemas dan kesal. Namun, Elk menahannya. Elk dan Rusa Merah kembali bergabung dengan rusa lain yang tengah bersiap makan bersama.


***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -3

Elk. Sumber gambar: theodysseyonline.com

Hujan Angin di Sore Hari

Matahari mulai bergeser ke arah barat. Ya, sore sudah tiba. Langit yang semula berawan putih, tiba-tiba menjadi gelap. 


Angin bertiup kencang mengenai dedaunan dan ranting pohon. Tiupan angin itu membuat daun dan ranting kering berjatuhan.


Cuaca semakin gelap dan udara semakin dingin. Pertanda bahwa hujan akan segera turun.


Benar saja, tak lama kemudian turunlah hujan. Rusa-rusa yang tadi siang kerja bakti berlarian ke dalam gua, tempat tinggal darurat yang sudah dipersiapkan.


Rusa-rusa itu belajar dari kejadian saat musim hujan dua tahun yang lalu. Mereka tetap tinggal di rumah masing-masing. Ternyata terjadilah hujan angin. Hujan disertai angin kencang yang akhirnya merusak rumah mereka. Bahkan ada saudara mereka yang terluka atau meninggal.


Tentu mereka tak ingin kejadian itu dialami lagi. Karenanya mulai tahun kemarin, mereka sepakat untuk membuat tempat tinggal darurat. Dan Alhamdulillah mereka aman ketika beberapa kali terjadi hujan angin.


**

Setelah angin bertiup kencang, dari kejauhan terdengar suara hujan. Semakin lama air hujan mendekat ke arah gua.


Rusa-rusa sudah tenang di dalam gua. Lalu mereka menyiapkan makanan di tengah gua dan akan makan bersama. Makanan-makanan itu mereka kumpulkan setelah kerja bakti tadi.


Tak lupa, di dekat tempat mereka duduk dinyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh dan penerangan.


Mereka sangat bersyukur karena bisa tinggal di tempat yang aman.


***

Sementara jauh dari gua, Rusa Tutul sudah masuk rumahnya.


"Aku akan tiduran saja. Sepertinya enak kalau hujan terus tidur…"


Rusa Tutul merebahkan tubuhnya. Namun dari arah luar, angin bertiup kencang dan terdengar suara benturan keras. Seperti pohon yang tertimpa benda besar.


Rusa Tutul melihat keadaan luar dari jendela. Tampaklah batu besar yang menimpa pohon dekat rumahnya.


Buru-buru Rusa Tutul keluar rumah dan berlari. Dia tak peduli meski hujan sangat deras dan petir tak henti-hentinya.


"Aku harus menyelamatkan diri. Tapi aku harus ke mana?"


Rusa Tutul menyadari bahwa bahaya mengancamnya jika dia tetap berada di rumahnya.


***

Dengan ragu Rusa Tutul memanggil Pudu, Elk dan teman lainnya. Tubuh Rusa Tutul basah dan menggigil kedinginan.


Dia menunggu temannya di mulut gua. Tetapi tak ada satupun temannya yang keluar dari gua. Padahal dilihatnya cahaya dari arah dalam.


"Ah… teman-teman tidak ada yang mempedulikanku…"


Rusa Tutul membalikkan badan dan mau meninggalkan gua itu.


"Hei, Tutul! Kamu kok hujan-hujanan begitu. Nanti masuk angin lho. Ke sinilah! Masuk ke dalam gua..." 

***

Bersambung

Saturday, January 18, 2020

(Cernak) Obat Sakit Perut



Didan berlari sambil menangis. Dipanggil ibunya berulang-ulang. Tak ada jawaban.

Didan baru saja dari kamar mandi. Dia merasakan perutnya sakit. Beberapa hari tidak bisa BAB. Tentu keadaan itu sangat menyiksa Didan. Didan saat ini duduk di TK B.

"Ibu… ibu….!" panggil Didan.

Didan mencari ibu di kamar. Tak ditemukannya. Lalu dia berlanjut mencari ke dapur. Di sana juga tidak ada. Namun dilihatnya pintu bagian belakang dapur terbuka.

Segera Didan ke sana. Didan lega, ibu berada di dekat sumur. Ibu sedang memetik sayuran yang tumbuh subur di sana. Di tangan ibu memegang tenggok kecil yang digunakan untuk wadah sayuran.

Ibu memang rajin menanam sayuran di belakang rumah. Untuk lauk, kata ibu. Ada sayur bayam, wortel, terong, seledri, kangkung, tomat. Kebetulan lahan di belakang rumah cukup luas.

"Ibu, dipanggil kok nggak jawab!"

Ibu yang sedang konsentrasi memetik sayuran terkejut.

"Astaghfir. Ibu kaget, nak…"

Ibu mendekati Didan yang matanya sembab. Diletakkannya tenggok kecil di dekat bangku panjang di dekat pintu dapur.

"Lho, kamu kenapa, nak? Habis nangis?" tanya ibu dengan lembut. Diajaknya Didan duduk di bangku panjang.

Sesekali Didan menggosok hidungnya yang penuh ingus karena menangis.

"Coba, kamu cerita ke ibu ya. Kenapa kamu menangis?"

Dengan sedikit terisak Didan menceritakan penyebab dia menangis.

"Perutku sakit, bu. Aku nggak bisa BAB…"

Ibu tersenyum. Didan memang mengeluhkan tidak bisa BAB beberapa hari ini.

"Oh...masih sakit perutnya?"

Didan mengangguk.

"Ibu kan sering bilang kalau kamu harus makan sayuran dan buah kan, nak. Biar kotoran bisa mudah keluar. Kamu malah marah…"

Didan diam. Menahan perutnya yang terasa sakit dan keras. Sesekali tangannya memegangi perutnya.

"Aku nggak suka sayuran. Nggak enak. Kalau makan sayuran kan seperti embek sama emoh…"

Ibu menahan tawa. Didan sering beranggapan bahwa sayuran itu seperti makanan sapi dan kambing.

"Terus kamu pinginnya gimana, nak?"

"Aku ingin diperiksa dokter. Biar dikasih obat yang bikin perut nggak sakit lagi…"

**
Ibu dan Didan sudah siap untuk pergi ke dokter anak. Ibu hanya menuruti keinginan anak lelaki satu-satunya itu. Ayah belum pulang. Menjelang Maghrib barulah sampai rumah. Jadi tidak mungkin mengantar ke dokter.

Ibu mengunci pintu rumah. Sementara Didan duduk di kursi yang berada di teras rumah.

Tiba-tiba sebuah kendaraan bermotor berhenti di depan rumah. Didan melihat ke arah motor berhenti.

"Om Ahmad!" seru Didan, begitu melihat lelaki pengendara motor itu. Om Ahmad adalah adik ibu Didan. Om Ahmad berprofesi sebagai dokter anak juga.

"Oh...ada om Ahmad. Kebetulan. Kita nggak perlu ke dokter Tejo ya, nak…"

Om Ahmad segera ke beranda, menyalami ibu dan Didan.

"Rapi sekali kamu, Dan. Mau pergi ke mana nih…?" tanya om Ahmad ketika melihat Didan dan ibu rapi dan sudah bersiap-siap untuk pergi.

"Mau ke dokter, om…" Jawab Didan.

"Dokter? Kamu sakit?" om Ahmad bertanya heran.

"Sepertinya kamu baik-baik saja. Kok mau ke dokter segala…"

Didan nyengir mendengar ucapan om Ahmad.

"Beberapa hari Didan nggak lancar BABnya, om. Disuruh makan lauk sayuran dan makan buah nggak mau…" Terang ibu.

Om Ahmad duduk di dekat Didan. Sedangkan ibu kembali membuka pintu rumah dan masuk ke dalam rumah.

"Dan, bener ya yang ibu bilang tadi?"

Didan mengangguk.

"Kalau sakit seperti itu, kamu nggak perlu periksa ke dokter lho. Kamu bisa mencari obat di rumah…"

"Obat di rumah? Nggak ada, om! Ibu bilang sendiri tadi…"

Om Ahmad tersenyum melihat keponakannya berceloteh.

"Ya kalau maksudmu obat sirup ya pasti nggak ada, Dan…"

"Ah...om Ahmad bohong! Pasti ada…"

Om Ahmad tertawa terbahak-bahak. Keponakannya menganggapnya telah berbohong.

"Dan..Dan… kamu ini dibilangi kok malah nganggap om berbohong…"

Om Ahmad mencoba menjelaskan tentang obat yang bisa menyembuhkan sakit Didan itu.

"Obatnya hanya satu, Dan. Kamu mau tahu apa nggak?"

Didan mengangguk dengan semangat.

"Tapi, kamu janji ya. Mau dikasih obat itu…"

"Oke, om!"

Om Ahmad menjelaskan obat yang dimaksudnya tadi. Didan sangat kecewa. Obat yang dimaksud ternyata sayuran dan buah-buahan.

"Itu namanya bukan obat! Om sama ibu nyebelin!"

Didan mau masuk rumah. Om Ahmad menahannya.

"Kamu tadi janji kan kalau mau sama obatnya. Jadi ya kamu harus makan sayuran. Biar kotorannya nggak keras. Pasti perutmu akan terasa lebih enak nanti. Percaya sama om ya. Oke!"

Didan ragu untuk menjawab pertanyaan om Ahmad.

"Didan mau sembuh apa nggak? Kalau mau, Didan nurut sama om. Kamu makan sedikit-sedikit dulu. Rasakan, sayuran yang dimasak ibu lezat atau nggak…"

Didan masih tetap pada pendiriannya.

"Eh...masakan ibu enak lho. Om sendiri senang kalau ibumu masak. Om sekarang ke sini juga karena kangen masakan ibu…" om Ahmad meyakinkan Didan.

"Kalau nggak enak, aku nggak mau makan makanan sapi dan kambing lagi…!"

**
"Gimana, Dan? Masakan ibu enak nggak?" om Ahmad menyuapi Didan.

Ibu memasak sayur bobor bayam dicampur kacang panjang, taoge dan irisan tomat. Rasanya sedap sekali.

Didan sendiri sudah makan separo piring. Dia ingin menghabiskan makannya tapi perutnya tidak muat lagi.

"Ya udah. Memang kita nggak boleh kekenyangan, Dan. Kalau kekenyangan, kasihan lambungnya. Lambungnya akan capek melumatkan makanan yang masuk…"

**
Keesokan harinya.

"Ibu…! Ibuuu...!" Didan berteriak lagi. Ibu sangat terkejut. Ibu khawatir kalau Didan masih mengeluh sakit perut lagi.

"Ada apa, nak? Kamu nggak kenapa-kenapa kan?"

Didan menggelengkan kepalanya. Ibu bernafas lega.

"Lalu kenapa kamu memanggil ibu seperti itu?"

Didan tersenyum. Dengan malu-malu Didan mengatakan sesuatu kepada ibunya.

"Ibu masak sayur lagi ya. Aku suka. Rasanya enak…"

"Oh ya?" ibu merasa senang sekaligus terkejut.

"Iya, bu. Perutku nggak sakit lagi sekarang…"