Monday, May 01, 2023
Caramu Utarakan Isi Hati
Saturday, September 03, 2022
Mengenal Profil Pelajar Pancasila
Mengenal Profil Pelajar Pancasila (PPP) dan Beberapa Penerapannya dalam Pembelajaran
Profil Pelajar Pancasila (PPP) merupakan sejumlah karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk diraih oleh peserta didik, yang didasarkan pada nilai-nilai luhur Pancasila (guru.kemdikbud.go.id). Karakter dan kompetensi inilah yang dikembangkan dalam pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka.
Kali ini, saya akan ulas beberapa hal yang berkaitan dengan PPP.
Pertama, harapan saya pada pendidikan Indonesia. Sebagai seorang pendidik saya berharap pendidikan di Indonesia maju. Bisa menghasilkan manusia Indonesia yang utuh. Sukses di persaingan dunia/global. Tanpa meninggalkan kepribadian bangsa.
Budaya luar boleh saja ditiru tetapi tidak harus semua. Hanya yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Ada filter dasar negara Pancasila yang perlu dikembangkan sejak dini. Dari jenjang Paud/TK sampai SMA/SMK.
Saya berharap Saya Indonesia Saya Pancasila bukan sekadar jargon saja. Harus benar-benar bisa terwujud jiwa Pancasila di hati sanubari di manapun berada.
Semoga pendidikan dengan Kurikulum Merdeka bisa mewujudkan itu semua. Tentu dengan dukungan berbagai pihak seperti guru/sekolah, siswa, masyarakat. Semua saling bahu membahu untuk memajukan bangsa dan negara di tengah gempuran kemajuan zaman.
Kedua, dimensi PPP yang terdiri dari enam Dimensi yaitu
Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia
Mandiri
Bernalar kritis
Berkebinekaan global
Gotong royong
Kreatif
Untuk saat ini dimensi Profil Pelajar Pancasila yang paling dominan adalah gotong royong. Mengingat para siswa berdomisili di pedesaan yang sangat erat dengan budaya gotong royong.
Gotong royong yang dilakukan bisa terjadi di sekolah, rumah dan lingkungan masyarakat.
Saat di rumah, para siswa membantu orangtua misalnya menyapu, merapikan kamar, menyiram bunga, mengajak bermain adik dan sebagainya.
Di lingkungan sekolah, para siswa bergotong royong dalam menyelesaikan tugas berkelompok, piket kelas, membersihkan lingkungan sekolah, menjaga kebersihan kamar mandi, diskusi kelompok dll.
Di lingkungan masyarakat, siswa bisa membantu ketika ada kerja bakti di masjid, balai dusun, dan sebagainya.
Tentu saja dimensi gotong royong ini sangat baik dan bisa menumbuhkan dimensi mandiri, di mana siswa tidak mengandalkan orang lain dalam berbagai hal.
Selain itu dimensi gotong royong bisa menumbuhkan dimensi berkebinekaan global. Di mana para siswa memahami bahwa dalam bergotong royong pasti menemukan perbedaan. Namun perbedaan tersebut menjadikan sikap saling menghormati satu sama lain.
Ketiga, dari dimensi yang pertama, Dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia saya bisa belajar banyak hal.
Dimensi yang dikembangkan dalam Kurikulum Merdeka Belajar ---dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia--- membawa dampak yang luar biasa bagi sikap dan pemikiran siswa. Dampak positif tentunya.
Melihat dampak positif dari dimensi ini, maka sudah selayaknya guru membantu siswa dan memfasilitasi agar dimensi ini bisa berkembang dengan baik. Dan guru harus terus berkolaborasi dengan orangtua siswa dan lingkungan masyarakat untuk mewujudkannya.
Pada dasarnya kesuksesan siswa memang dibantu tiga pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Mengingat pentingnya dimensi beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, maka strategi pembelajaran yang ingin segera saya coba praktikkan di kelas bisa saya jabarkan sebagai berikut.
Untuk menguatkan Dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, maka saya akan menyiapkan strategi pembelajaran sebagai berikut:
1. Mengawali pembelajaran dengan berdoa sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing siswa. Langkah ini akan membuat lancarnya kegiatan pembelajaran.
2. Mengingatkan kepada siswa untuk selalu berdoa untuk mengawali dan mengakhiri setiap aktivitas. Misalnya berdoa sebelum dan sesudah makan dsb.
3. Mengajak siswa untuk bersyukur atas segala nikmat dari Tuhan YME. Caranya dengan berbuat baik kepada sesama manusia, hewan, tumbuhan dan alam.
4. Mengajak siswa untuk menanam dan merawat tanaman penghijauan di sekolah agar udara segar dan lebih menyehatkan.
5. Menanyakan hewan peliharaan di rumah. Lalu menasehati agar siswa merawat hewan peliharaan itu dengan penuh kasih sayang. Caranya dengan memberi makan setiap hari, menjaga kebersihan lingkungan hewan berada, dsb.
6. Mengajak siswa untuk mewujudkan kasih sayang kepada orangtua. Karena orangtua adalah orang yang sangat berharga dan harus dihormati. Bahkan ridho Allah tergantung kepada ridho orang tua. Siswa harus menghormati, menyayangi kedua orang tua agar diberi kemudahan dalam belajar, dll.
6. Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi kepada teman dan orang yang lebih muda dari kita. Tujuannya agar siswa menjadi pribadi yang santun dan juga disayangi oleh sesama.
7. Mengakhiri pembelajaran dengan berdoa sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing.
8. Tidak jemu mengingatkan siswa agar melaksanakan ibadah shalat lima waktu (bagi siswa muslim) dan bagi siswa non muslim tetap diingatkan untuk beribadah sesuai ajarannya masing-masing.
Tentu masih banyak lagi strategi pembelajaran lainnya. Dan itu bisa dikembangkan setiap hari tanpa mengenal waktu.
Branjang, 31 Agustus 2022
Perbedaan Antara Murid Se-Zaman Saya dan Murid Zaman Now
Perbedaan antara Murid Sezaman dengan Saya dan Murid Zaman Now
Mempelajari tentang kurikulum merdeka melalui platform Merdeka Mengajar tentu membutuhkan waktu dan kesabaran tinggi. Tak jarang guru-guru mengulang modul dalam bentuk video atau file lain, jika pada saat mengisi post test ternyata belum lolos.
Materi kedua yang saya pelajari adalah tentang Kurikulum Merdeka. Ada beberapa refleksi yang coba saya ulas di sini.
Ada sebuah refleksi yang harus dituliskan. Pertanyaan pertama, jika dibandingkan saat Ibu dan Bapak Guru menjadi murid dahulu dan murid-murid sekarang, hal apa saja yang berbeda?
Tentu saja saya menjawab sesuai pengalaman selama sekolah maupun sudah bekerja di instansi sekolah. Saya membandingkan perbedaan tidak secara menyeluruh. Saya yakin, setiap guru atau orang memiliki pandangan tersendiri tentang perbedaan saat menjadi murid dibandingkan dengan murid-murid zaman now.
Tahun 1998an saya mulai masuk SD swasta. Di sana ada Bu Binti yang sabar membimbing agar para siswa baru di kelas 1 bisa membaca. Tentunya pelajaran membaca masih menggunakan teks "Ini Budi" yang melegenda itu. Pengenalan huruf masih dipelajari pada awal masuk kelas 1.
Tentu saat itu saya belum memahami apa maksud dari kurikulum, RPP, dan sebagainya. Tapi saya ingat, dulu adanya istilah GBPP. Itu saya ketahui dari perangkat pembelajaran yang dibuat ibu. Lagi-lagi saya kurang paham tentang kurikulum. Tahunya hanya belajar, gurunya memberikan materi pelajaran, baik itu menulis, membaca dan berhitung.
Sedangkan beberapa tahun terakhir, kurikulum yang dipergunakan sebagai acuan pembelajaran adalah Kurikulum 2013. Dalam buku, teks pelajaran sudah bermacam-macam sehingga tak jarang membuat orang tua siswa sudah bingung duluan ketika anaknya yang baru masuk SD ternyata belum bisa membaca. Bahkan hafal huruf alfabet saja ada yang kesulitan.
Mau tak mau orangtua siswa mendaftarkan putra/putrinya untuk les privat atau bimbingan belajar agar anaknya bisa membaca dengan lancar.
Perbedaan kedua, materi untuk tingkat SD sudah cukup sulit. Di semua mata pelajaran. Bahkan ada salah satu sahabat saya yang sering curhat kalau dia kesulitan dalam mendampingi buah hatinya untuk belajar.
"Materi pelajaran sudah sangat beda dengan materi saat saya sekolah ya, Bu" curhatnya. Saya tersenyum. Saya paham bahwa orang tua akan kesulitan membantu putra/putrinya dalam belajar. Apalagi saat masa pandemi mengharuskan anak belajar di rumah. Hampir dua tahun para siswa kurang sentuhan dari guru mereka.
Semakin sulitlah dalam mengajar, membimbing dan mendidik siswa. Itu tak hanya terjadi di luar Jawa yang fasilitas internet sangat terbatas. Di pulau Jawa saja masih banyak kendala.
Namun dibalik sisi negatif pembelajaran jarak jauh selama pandemi covid 19, para siswa juga semakin lihai dalam mengoperasikan gawai sebagai salah satu sumber belajar karena keterbatasan kemampuan orangtua dalam membersamai belajar. Sedangkan saya sendiri mengenal gawai setelah bekerja. Sangat beda cara belajarnya.
Pertanyaan kedua, setelah mempelajari materi ini, hal apa yang paling semangat ingin Ibu dan Bapak Guru coba?
Penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan sejak dulu sudah disesuaikan dengan lingkungan tempat siswa belajar. Hanya saja memang penyusunan kurikulum belum melibatkan siswa. Pihak pengembang kurikulum tidak menanyakan minat siswa tetapi sudah memberikan pilihan untuk kegiatan intra maupun ekstra kurikuler.
Sekarang, bersama rekan-rekan kerja, Komite Sekolah dan perwakilan orangtua siswa mencoba untuk menawarkan ekstra olahraga dan membatik sederhana. Harapannya kesemuanya bisa memacu siswa untuk belajar yang menyenangkan.
Pertanyaan ketiga, Ibu dan Bapak Guru, ceritakan yuk tentang waktu favorit bersama murid! Waktu favorit ketika sedang melakukan apa?
Selama tujuh belas tahun menjadi pendidik, ada banyak cerita yang berkesan bagi saya, terutama saat membersamai murid.
Pertama, saat sekolah tak memiliki guru olahraga, kekurangan guru kelas, saya mengampu semua mata pelajaran di kelas IV. Ya meski sangat terbatas kemampuan saya. Maklumlah, guru kelas SD harus mengajar Pendidikan Al Islam, Kemuhammadiyahan, Tematik, Mulok (Bahasa Jawa), Matematika. Total jam melebihi 40 jam pelajaran perminggunya.
Meski begitu saya merasa bisa luwes dalam membagi waktu. Termasuk belajar di luar kelas. Saya mengajak siswa belajar di hutan kayu putih di pojok dusun atau ke sungai yang debit airnya selalu berkurang saat musim kemarau tiba.
Kedua, saat masa pandemi dan memberikan tugas mengarang dalam Bahasa Jawa. Sangat beragam ceritanya. Malah salah satu karya siswa bisa saya abadikan dalam bentuk karya cerita anak dengan judul Layang Kagem Bu Guru. Cerita anak itu saya publikasikan di Kompasiana, wadah para penulis dari Sabang sampai Merauke.
Ketiga, saat saya mengajar di mana ada anak kandung saya. Itu sangat berkesan bagi saya pribadi. Sekaligus menjadi sebuah tantangan karena saya sempat khawatir kalau nantinya saya tidak bisa obyektif.
Ternyata itu terlalui dengan baik. Saya merasa bersyukur karena dipercaya oleh Kepala Sekolah untuk mengampu kelas di mana ada anak kandung saya. Kepercayaan dari beliau merupakan penghargaan yang saya nilai sangat baik.
Branjang-Melikan, 30 Agustus 2022
Membuat Strategi Penerapan Merdeka Belajar
Membuat Strategi Penerapan Merdeka Belajar
Para siswa sudah tentu senang dalam belajar di sekolah. Apalagi jika guru sangat kreatif dalam membuat strategi pembelajaran. Anak-anak tidak akan bosan belajar. Mereka akan belajar, tanpa merasa digurui.
Sebagai siswa pastinya tidak mau jika hanya dianggap sebagai objek pembelajaran. Mereka ingin dianggap sebagai subjek. Sehingga segala sesuatu dalam pembelajaran merekalah pusat pembelajaran. Tak lagi guru yang sibuk menjelaskan materi pelajaran dengan metode ceramah.
Selama tujuh belas tahun mengajar, ada banyak strategi pembelajaran yang saya gunakan untuk menarik minat siswa. Misalnya saja, saat mengajar kelas V pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terdapat materi tentang jenis batuan.
Meski tinggal di pedesaan tak semua siswa mengamati jenis-jenis batuan. Karenanya saya mengajak siswa untuk keluar kelas. Mereka saya beri tugas untuk mengumpulkan bebatuan di sekitar sekolah.
Bebatuan itu dikumpulkan perkelompok. Kelompok sudah dibagi sebelumnya. Kemudian siswa menentukan bebatuan itu termasuk batuan beku, sedimen atau metamorf.
Para siswa mendiskusikan bebatuan yang ditemukan di dalam kelas. Kemudian menuliskan hasil diskusi pada lembar pengamatan siswa.
Setelah selesai, para siswa mempresentasikan hasil pengamatan di depan kelas secara bergantian. Tanya jawab dilakukan sekiranya mereka ternyata menemukan bebatuan dengan jenis yang sama tetapi dari hasil pengamatan ditemukan perbedaan jenis batuan.
Barulah setelah siswa mempresentasikan hasil pengamatan, bersama guru para siswa mengambil kesimpulan bahwa jenis batuan itu ada tiga macam dan memiliki ciri-ciri tersendiri.
Strategi lainnya saya mengajak siswa outing class saat mengajar di kelas IV. Kebetulan materinya tentang pelestarian peninggalan sejarah.
Nah, karena siswa jarang ke tempat wisata bersejarah maka saya ajak mereka ke salah satu situs bersejarah di satu desa, hanya berbeda dusun yaitu Situs Gondang. Para siswa saya ajak ke Situs Gondang dengan bersepeda. Kegiatan dilaksanakan pada sore hari.
Saya mengajak siswa untuk mengenal lingkungannya. Siswa pada akhirnya tahu bahwa di sekitar tempat tinggalnya terdapat peninggalan sejarah yang harus dijaga dan dilestarikan.
Saya ingin mereka tahu bahwa peninggalan sejarah sangat berharga, tidak bisa dinilai dengan uang. Jadi, kelak ketika mereka dewasa tidak merugikan negara dengan menjual peninggalan-peninggalan sejarah.
Dalam pembelajaran Matematika, saat materinya tentang luas bangun datar, saya ajak para siswa menjejer bukunya untuk mengukur luas permukaan meja.
Selain itu saat materi Sifat-sifat Cahaya, para siswa saya ajak langsung untuk membuktikan.
Peralatan tentu disesuaikan dengan panduan. Jikapun tidak bisa dengan bantuan laptop atau HP yang dinyalakan. Hasil pengamatan ditulis pada lembar pengamatan.
Kemudian, setelah selesai mengamati, para siswa mempresentasikan hasil pengamatan di kelas. Lalu ditarik kesimpulan bahwa cahaya memiliki sifat-sifat misalnya dapat merambat lurus, dan sebagainya.
Refleksi proses: strategi pembelajaran sangat menentukan seberapa siswa mau belajar dengan semangat dan senang. Karenanya guru —terutama saya— harus lebih kreatif untuk melaksanakan pembelajaran sesuai Kurikulum Merdeka Belajar.
Pendidikan yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagiaan
Pendidikan yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagian
Keselamatan dan kebahagiaan anak menjadi impian setiap orangtua. Hal ini bisa diraih dengan pendidikan baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pendidikan di keluarga jelas menjadi tanggung jawab seluruh anggota keluarga di rumah. Jika menemukan kesulitan maka bisa meminta pihak lain untuk membantu. Setidaknya meminta bantuan sekolah —jika anak sudah bersekolah — dan masyarakat —ketika bersosialisasi di lingkungan masyarakat—.
Untuk mewujudkan anak yang selamat dan bahagia, di sekolah ada banyak hal yang bisa ditempuh. Guru harus banyak belajar untuk menciptakan pembelajaran yang menyelamatkan dan membahagiakan siswa, dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang.
Dalam rangka memahami cara menyelamatkan dan membahagiakan siswa, maka ada beberapa pertanyaan yang bisa menjadi bahan refleksi guru.
Pertama, jika kembali ke semester yang lalu, materi dan pemahaman bermakna apa yang ingin disampaikan guru kepada murid-murid?
Saya mengajar di kelas IV di mana ada materi tentang Sejarah yang terbalut pada materi muatan pelajaran Bahasa Indonesia.
Penanaman tentang pahlawan dan nilai-nilai sejarah dari pahlawan belum siswa pahami dengan baik. Padahal jika siswa memahami fungsi materi sejarah dalam muatan Bahasa Indonesia maka siswa bisa lebih mencintai negara dan bangsanya.
Selain itu, kelak di kemudian hari para siswa tergerak untuk melindungi peninggalan sejarah sebagai kekayaan dan menanamkan cinta dan rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
Jangan sampai rasa nasionalisme tergerus oleh perkembangan zaman. Keutuhan NKRI harus terus dijaga karena pada dasarnya generasi masa kini dan masa depan adalah pengisi kemerdekaan. Tugas berjuang secara fisik dan diplomasi sudah dilakukan oleh para pahlawan bangsa.
Harapan saya materi sejarah bangsa dalam muatan pelajaran Bahasa Indonesia bisa berkesan di hati para siswa. Agar cinta tanah air selalu terpatri di dada mereka.
Pertanyaan kedua, siapa saja yang sudah guru libatkan dalam pembelajaran saat ini?
Dalam pembelajaran, banyak hal yang bisa mendukung keberhasilan siswa. Dahulu ada istilah Tri Pusat Pendidikan. Dalam istilah Ki Hajar Dewantara meliputi kerjasama antara guru/sekolah, orangtua dan masyarakat.
Sejak awal mengajar pada tahun 2005, saya pribadi selalu berusaha menjalin kerjasama dengan orangtua siswa/wali siswa serta masyarakat. Saya sadar bahwa keberhasilan siswa dalam belajar tak melulu menjadi tanggung jawab guru atau sekolah.
Bahkan jika dirunut, pendidikan di lingkungan keluarga menjadi madrasah pertama bagi anak. Jadi, orang tua harus tetap memperhatikan dan bekerjasama dengan guru agar pembelajaran yang diterima sang anak bisa tercapai.
Begitu pula kerjasama dengan lingkungan masyarakat. Dengan bekerja sama dengan masyarakat maka keterampilan bersosial, berempati para siswa akan lebih terarah. Kita ingat bahwa kepandaian intelektual bukan segalanya. Karenanya harus ada kerjasama yang baik antara orangtua siswa, guru/sekolah dan masyarakat.
Dalam praktik di lapangan, saya mengamati bahwa jika orangtua membimbing anak-anaknya, hasil belajar baik kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik akan lebih matang. Namun jika orangtua hanya pasrah keberhasilan pendidikan di sekolah maka akan terasa sulit karena siswa lebih banyak berinteraksi dengan keluarga.
Saya berharap ke depannya, orangtua dan masyarakat bisa bersinergi dengan guru/sekolah untuk keberhasilan para siswa (generasi penerus bangsa).
Branjang, 29 Agustus 2022
Thursday, September 01, 2022
Mendidik dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti Siswa
Mendidik dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti Siswa
Budi pekerti siswa yang baik adalah harapan dan impian dari orangtua. Tak ada satupun orangtua yang berharap kalau anaknya tidak berbudi pekerti luhur. Budi pekerti luhur bisa dilatihkan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dari link web Unair dapat kita ketahui bahwa budi pekerti berarti kesadaran yang ditampilkan oleh seseorang dalam berperilaku. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) istilah budi pekerti diartikan sebagai tingkah laku, perangai, akhlak dan watak.
Anak didik ialah manusia yang memiliki keunikan sendiri. Mereka harus diperlakukan sesuai kemampuan dan kekhasannya itu. Begitu pula dalam menanamkan sikap, akhlak dan watak anak didik perlu ditanamkan sesuai keunikannya masing-masing.
Jika anak memiliki keterbatasan maka pembelajaran harus dilakukan secara manusiawi. Siswa yang terbatas kemampuannya diberikan asesmen tersendiri. Berikan materi sesuai dengan kemampuan.
Jangan lupa berikan pengertian kepada siswa-siswi lain yang belajar secara reguler bahwa ada teman yang materinya berbeda dengan mereka.
Sedang siswa cerdas diberikan kesempatan menjadi tutor bagi temannya. Jadi pembelajaran bisa dengan cara tutor teman sebaya. Hal ini karena siswa belum tentu mau bertanya kepada guru. Malah bisa dan berlatih bersama temannya.
Itu merupakan salah satu cara yang saya laksanakan untuk melatih budi pekerti. Mereka belajar saling menghormati satu sama lain di antara banyak perbedaan yang ada. Cara lain tentu masih sangat banyak. Dari hari ke hari selalu ada ide untuk melatih budi pekerti siswa yang baik.
Menerapkan pembelajaran yang bisa menumbuhkan kecerdasan budi pekerti pastinya sesuai dengan usaha mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Saya yakin semua guru memiliki cara-cara sendiri untuk mengajar dan mendidik siswanya.
Branjang, 26 Agustus 2022
Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh (2)
Mendampingi Murid secara Utuh dan Menyeluruh dengan Asas Trikon (2)
Pada kurikulum merdeka, dikembangkanlah asas Trikon yang diambil dari filosofi Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Meski sebenarnya pada kurikulum sebelumnya (Kurikulum 2013) yang menjadi acuan juga nilai-nilai dari filosofi Ki Hajar Dewantara. Namun asas Trikon ini baru dikenalkan pada Kurikulum Merdeka.
Kesemuanya ini harus dipahami oleh guru, sebagai fasilitator bagi siswa dalam proses belajar mengajar.
Proses pembelajaran yang selama ini dilakukan mungkin masih banyak yang monoton. Karenanya siswa merasa jenuh. Padahal guru harus bisa mendampingi murid/siswa dengan utuh dan menyeluruh.
Patut sekali apabila guru berusaha maksimal untuk memperbaiki pembelajaran. Yang menjadi pertanyaan, proses pembelajaran seperti apa yang ingin guru perbaiki dengan menggunakan asas Trikon?
Sebelum membahas lebih lanjut tentang Trikon untuk pembelajaran pada Kurikulum Merdeka, ada baiknya kita tahu apa yang dimaksud dengan Trikon.
Trikon meliputi asas kontinyu, konvergen dan konsentris. Ketiganya memang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran. Di mana pembelajaran harus kontinyu dalam artian berkesinambungan dan tidak loncat-loncat dari tingkat bawah hingga tingkat atas.
Misalnya saja dalam pembelajaran Matematika, dari tingkat bawah para siswa mempelajari bilangan kemudian di kelas lebih atas yang dipelajari tentang bilangan pecahan, dst. Itu berlaku juga dalam materi dan pelajaran lainnya seperti Bahasa Indonesia, PPKn, IPA, IPS, Matematika dsb.
Selama tujuh belas tahun mengajar, saya merasa belum sempurna dalam proses pembelajaran di kelas, karenanya saya akan selalu memperbaiki cara pembelajaran yang mudah dan menarik. Bisa saya lakukan dengan berdiskusi dengan teman dalam Kelompok Kerja Guru (KKG), webinar, browsing di internet, atau mengunjungi channel-channel pendidikan di YouTube dan sebagainya. Ya demi memperbaiki kualitas saya dalam pembelajaran di kelas.
Konvergen dalam artian mengambil sisi baik dari beberapa metode pembelajaran dari luar negeri juga perlu dipelajari. Anak dididik untuk disiplin dari hal yang kecil, seperti yang berlaku di Jepang, Finlandia atau bahkan Belanda.
Begitu juga konsentris. Pembelajaran harus tetap memberdayakan dan nguri-uri kabudayan masing-masing daerah, karena kebudayaan bisa lestari jika generasi muda mengenal budayanya.
Jadi, pembelajaran harus berkesinambungan, meniru hal baik dari luar dan tetap berpegang pada kepribadian bangsa.
Dengan begitu, Profil Pelajar Pancasila yang menjadi muara Kurikulum Merdeka bisa tercapai.
Branjang, 26 Agustus 2022
Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh (1)
Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh (1)
Sebagai guru harus bisa mendampingi siswa-siswinya dengan utuh dan menyeluruh. Hal ini karena guru berperan sebagai pengganti orangtua saat di sekolah. Membimbing dan mendidik siswa agar berkepribadian Pancasila sudah selayaknya ditanamkan oleh guru.
Ada sebuah pertanyaan yang bisa dijawab oleh para guru. Dan bisa saja jawabannya berbeda, tergantung dengan situasi dan kondisi alam serta lingkungan sosialnya.
Dengan kemajuan teknologi saat ini, media apa yang akan Anda gunakan untuk mengasah keterampilan abad ke-21 murid Anda?
Kemajuan teknologi sangat dibutuhkan dalam pembelajaran agar efektif dan efisien. Siswa belajar dari alam sesuai perkembangan zaman. Itu tak bisa dipungkiri.
Untuk mengatasinya, agar siswa bisa terasah keterampilan maka bisa dilakukan beberapa langkah:
1. Membuat media sederhana untuk pembelajaran dan tentunya harus sesuai dengan alam dan perkembangan zaman. Tujuannya agar siswa tidak bosan dan bisa belajar dengan hati senang.
2. Manfaatkan sosial media, seperti Facebook, blog, channel YT untuk mengunggah materi pembelajaran yang menyenangkan dan menarik.
3. Membuat dan mengabadikan karya siswa melalui pameran atau diunggah di sosial media dan hasilnya dishare ke grup Paguyuban Orang Tua (POT) siswa. Mereka akan bangga dan senang karenanya.
Selain itu, para siswa bisa lebih termotivasi untuk belajar secara kreatif, inovatif, solutif dalam keseharian sehingga bisa menjadi bekal di sekolah lanjutan atau perguruan tinggi (jika kuliah) atau hidup bermasyarakat dan di lingkungan kerja (bagi yang tidak kuliah).
Unggahan karya siswa akan abadi dan akan menjadi kenangan indah bagi mereka di masa depannya.
Saya jadi teringat cerita dari pengawas bahwa dulu pernah mengajar dua putranya. Ketika mengajar, bapak pengawas mengajak siswa berkreasi tentang materi tata surya. Siswa dibuatkan alat peraga planet-planet yang bisa dikalungkan pada leher siswa.
Pada model planet diberi tulisan atau keterangan, dan keterangan itu harus dibaca oleh siswa.
Saat sudah dewasa, saat bercengkrama bersama keluarga, putra pak pengawas mengenang masa-masa saat diajar oleh sang guru yaitu ayahnya.
Mengasah keterampilan siswa memang perlu dikembangkan oleh guru. Tentunya dengan dukungan orangtua dan lingkungan masyarakat. Bagaimanapun, siswa akan merasa senang dan akan mengenang indahnya masa sekolah yang kelak bisa diceritakan kepada anak cucu untuk memotivasi mereka.
Melikan, 25 Agustus 2022
Demi Mengasah Nalar, Kemampuan Berpikir dan Mengembangkan Kebutuhan Batin Murid, Ini Materi yang Akan Saya Ajarkan Lagi
Demi Mengasah Nalar, Kemampuan Berpikir dan Mengembangkan Kebutuhan Batin Murid, Ini Materi yang Akan Saya Ajarkan Lagi
Ada sebuah pertanyaan menarik dan menggelitik hati saat membuka aplikasi Merdeka Mengajar. Pertanyaannya ada pada kolom refleksi, jika kembali ke semester lalu dimana Anda merasa belum optimal mengasah nalar, kemampuan berpikir, dan mengembangkan kebutuhan batin murid Anda, di materi apa Anda mau mengajar kembali dan memperbaiki dengan cara apa?
Proses pembelajaran selama masa pandemi saya akui kurang optimal, mengingat keterbatasan sarana prasarana dari sekolah, siswa dan orangtua atau wali siswa. Dalam waktu singkat siswa dan orangtuanya harus menyesuaikan dengan model pembelajaran yang menggunakan daring. Demikian pula guru, mau tak mau menyiapkan materi yang menarik selama pembelajaran daring.
Oleh karena belum optimalnya pembelajaran di masa pandemi, maka saya tentunya berharap masa pandemi berakhir dan bisa berinteraksi dengan siswa sebaik mungkin. Para siswa butuh sentuhan guru dalam belajar. Para orangtua sendiri merasa kewalahan dalam membela jari putra-putrinya.
Demi mengejar ketertinggalan materi dan pendidikan serta kebutuhan batin siswa maka harus tetap bisa mengasah kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik dan budi pekerti yang luhur kepada siswa.
Materi yang saya rasa belum begitu optimal adalah penyampaian materi pelajaran Matematika kelas IV. Alasannya karena keterbatasan sarpras seperti yang saya kemukakan di atas. Sementara para orangtua atau wali juga terbatas untuk membimbing para siswa dalam belajar.
Tentu saya memaklumi itu. Para siswa diajar langsung oleh gurunya saja masih sangat sulit memahami dan mengerti cara penyelesaian operasi hitung. Materi operasi matematika semakin lama semakin sulit dari waktu ke waktu.
Cara yang saya pergunakan tentu menyesuaikan dengan materi. Jika materi pecahan, maka saya siapkan benda-benda untuk mendukung pembelajaran. Jika materi tentang sudut, bisa dengan cara menyiapkan kertas yang kemudian dilipat dan membentuk sudut 90° atau sudut siku-siku dan sebagainya.
Nasehat-nasehat dan motivasi saat mengajar juga perlu saya berikan kepada siswa. Nasehat dan motivasi itu akan membuat siswa merasa lebih terarah dan dihargai sehingga batin mereka akan bahagia. Dengan begitu, siswa tak kehilangan akan hak dari guru.
Praktik Pendidikan Kolonial Apa yang Pernah Anda Lakukan Selama Menjadi Guru?
Praktik pendidikan kolonial apa yang pernah Anda lakukan selama menjadi guru?
Pendidikan masa kolonial sangat tidak relevan lagi untuk saat ini. Memukul siswa ketika melakukan kesalahan dan sebagainya contohnya. Itu tidak boleh dilakukan saat ini.
Cara menghukum siswa harus dengan cara yang mendidik, baik mendidik aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan budi pekerti siswa. Kelak hukuman yang mendidik tersebut akan menjadi pembelajaran yang terbaik jika dibandingkan dengan melakukan kekerasan fisik.
Kekerasan fisik terhadap siswa dengan dalih apapun memang tidak boleh dilakukan karena akan memberikan dampak negatif, yaitu trauma untuk belajar di sekolah.
Padahal mengajar dan mendidik siswa harus dengan cara menyenangkan. Ada Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang belum lama didengung-dengungkan. GSM sangat baik dan bisa menumbuhkan rasa rindu kepada sekolah dan guru sehingga siswa lebih semangat dalam belajar.
Guru memang harus berperan sebagai pendidik, motivator, fasilitator sekaligus menjadi teman belajar yang menyenangkan bagi siswa.
Sudah saatnya guru meninggalkan pola pendidikan kolonial. Pendidikan yang humanis akan lebih mengesankan bagi siswa sampai mereka dewasa.
Guru Sumber Kekuatan dan Potensi saat Siswa Bersekolah
Guru Sumber Kekuatan dan Potensi saat Siswa Bersekolah
Berbicara tentang Kurikulum Merdeka maka sudah pasti akan memancing guru untuk membuka aplikasi Merdeka Mengajar.
Kali ini, saya akan coba menjawab refleksi pada Modul 2 Mendidik dan Mengajar. Apa refleksi yang harus dituliskan? Yuk simak!
Ceritakan sosok guru yang menumbuhkan kekuatan dan potensi Anda sewaktu menjadi murid dulu!
Selama menjadi murid, pastilah bisa menilai guru-guru yang mengajarnya. Karakter, sikap dan perilaku mereka tak lepas dari penilaian siswa. Karenanya terkadang murid memiliki kriteria guru favoritnya masing-masing. Saya sendiri juga memiliki guru yang memberikan kekuatan dan potensi saya. Sebut saja yang pertama, Guru Sejarah saat SMP sangat mengesankan bagi saya. Dalam mengajar bisa membuat suasana kelas menjadi menyenangkan. Pelajaran atau materinya mudah dipahami meski kalau ulangan, soalnya sulit dikerjakan.
Coretan-coretan di papan tulis yang teramat penuh masih terkesan sampai saat ini. Ternyata itu agak menular bagi saya dalam mengajar. Saya lebih senang menjelaskan materi dengan gambar-gambar. Kemudian siswa mengeksplorasi gambar-gambar itu.
Selain guru Sejarah di SMP, guru Bahasa Jerman, guru Akuntansi, guru Sejarah, guru PPKn pada tingkatan SMA juga turut memberikan kekuatan atau motivasi dalam pemilihan jurusan selepas lulus SMA.
Selepas SMA, saya mengikuti UMPTN. Prodi yang saya jadikan pilihan pertama adalah Pendidikan Sejarah, kedua jurusan Pendidikan Bahasa Jerman UNY. Ternyata saya lolos pada pilihan pertama.
Ya...meski pada akhirnya saya kesulitan untuk mencari tempat atau formasi guru Sejarah, saya mengajar di SD Muhammadiyah mulai Juli 2005. Kemudian mulai Januari 2006-tahun 2011 saya sempat mengajar IPS Terpadu di SMP.
Kemudian ada guru Agama baik di SMP maupun SMA. Mereka memotivasi saya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Lomba keagamaan terutama. Ya meski dalam lomba tersebut saya banyak mengalami kegagalan.
Paling tidak, itu menjadi bekal saya untuk melatih siswa dalam perlombaan serupa.
Saya bersyukur, memiliki guru yang sangat memotivasi saya hingga saya bisa seperti sekarang ini.
Ini Salah Satu yang Bisa Menginspirasi Guru untuk Menjadi Pribadi yang Berkesan bagi Siswa
Ini Salah Satu yang Bisa Menginspirasi Guru untuk Menjadi Pribadi yang Berkesan bagi Siswa
Apabila ada sebuah pertanyaan, jika Anda bisa kembali ke masa di mana Anda menjadi murid di bangku sekolah, siapa guru yang ingin Anda belajar dengannya? Kira-kira bagaimana jawaban Anda?
Pertanyaan yang sepele tapi sebenarnya sangat bermanfaat bagi seorang guru agar menjadi guru yang baik bagi siswanya.
Untuk menjadi guru yang baik, ada baiknya melihat "kaca spion kendaraan" agar bisa menempatkan diri sebagai fasilitator bagi siswa di sekolah. Artinya, guru bisa kembali ke masa lalu dan mengingat-ingat, apa hal yang disukai dari seorang guru dan yang tak disukai dari guru yang mengajarnya dari tingkat rendah sampai lanjutan atas. Bahkan sampai perguruan tinggi.
Terus terang sebagai siswa, dahulu saya bisa merasakan bagaimana guru yang menganakemaskan siswa, dan adil kepada siswanya. Tentu saja saya pernah menjadi "korban" perlakuan guru yang pilih kasih. Sebenarnya tak hanya saya. Bahkan siswa lain, baik seangkatan, kakak kelas dan adik kelas merasakan itu.
Saat bertemu sesama alumni, di saat itulah terkadang saling curhat bahwa guru A, B, C dan seterusnya memiliki siswa istimewa. Artinya paling dikasihi dibandingkan perilakunya terhadap siswa lainnya.
Belajar dari pengalaman, saya tentu tak ingin kalau siswa saya merasakan hal serupa dengan yang saya alami dulu. Dianaktirikan itu sungguh menyakitkan dan kesannya tak hanya untuk waktu belajar langsung. Sampai tua pun perlakuan guru yang tidak adil tetap meninggalkan jejak di hati, pikiran, dan perasaan.
Nah, sekarang kalau bicara tentang guru masa sekolah yang berkesan dan baik hati memang tetap lebih banyak. Guru favorit tetap ada. Dan pastinya yang namanya guru favorit antara siswa satu dengan siswa lainnya akan berbeda. Maklum, isi kepala tidak mungkin sama.
Saya pribadi, saat belajar di tingkat SD ada nama almarhumah Bu Bintijarti sebagai guru paling baik. Beliau guru kelas I yang sangat telaten sehingga bisa membuat siswa rajin dan lancar membaca.
Kemudian, saya juga sangat terkesan dengan guru SMP dan SMA. Guru SMP yang menginspirasi adalah guru Sejarah (pak Bambang namanya). Di tingkat SMA ada guru PPKn (pak Suyanto), Sejarah(pak Suryanto), Akuntansi (pak Imam Supeno) dan Bahasa Jerman (pak Sutarman).
Secara tidak langsung mereka menginspirasi dalam belajar agar saya bisa menjadi guru yang menyenangkan. Karena dengan hati senang, para siswa akan betah belajar. Jika guru terlalu keras dan galak maka akan membuat siswa tertekan.
Kemudian dari mereka saya belajar untuk menjadi guru yang profesional. Guru tidak boleh menganakemaskan siswa. Jika itu dilakukan maka siswa yang merasa "tidak dianggap" atau dianaktirikan akan merasa benci di masa depannya. Padahal menjadi guru sebenarnya bisa menjadi ladang pahala bagi guru.
Karenanya, saat saya menjadi pendidik maka saya berusaha seobjektif mungkin. Meski pernah menjadi guru kelas dua anak kandung saya. Semua siswa saya perlakukan sama. Jika ada kesalahan, tak segan-segan saya tegur siswa, sekalipun itu anak kandung saya.
Kini, banyak siswa yang sudah lulus kuliah dan bahkan kini beberapa di antaranya menjadi guru di SD tempat kerja saya yang lama.
Alhamdulillah. Semoga ada hal yang menginspirasi dari sosok saya, sekalipun itu sangat kecil. Dan harapan saya, untuk saat ini sampai masa pensiun tiba nanti, saya bisa menjadi sosok guru yang disukai, objektif, dan bermanfaat bagi anak bangsa. Entah apapun kurikulum yang diberlakukan.
Branjang, 4 Agustus 2022
Saya Guru Seperti Apa di Mata Murid?
Saya Guru Seperti Apa di Mata Siswa?
Untuk kesiapan para guru dalam memberlakukan Kurikulum Merdeka di sekolah masing-masing maka para guru harus mempelajari modul dari aplikasi Merdeka Mengajar. Ada banyak materi yang disampaikan dalam bentuk video, file.
Pada aplikasi Merdeka Mengajar, juga ada banyak refleksi yang harus dituliskan oleh guru, setelah selesai menyimak video dan latihan pemahaman. Kali ini yang saya ulas adalah sebuah pertanyaan, guru seperti apa Anda di mata murid-murid Anda?
Untuk menjawab pertanyaan itu gampang-gampang susah. Menilai diri sendiri itu sulit. Yang mudah malah menilai orang lain. Karenanya, saya mencoba menjawab refleksi itu dengan uraian berikut.
Zaman selalu berubah. Guru harus bisa menjadi fasilitator bagi siswa dalam belajar. Guru bukan lagi sebagai penentu bagaimana siswa belajar. Sebaliknya, siswa diberi kebebasan untuk belajar sesuai kemampuan dan potensinya.
Sesuai pengalaman saya, dalam pembelajaran saya melakukan berbagai metode yang bisa mengasah potensi siswa. Mengajak siswa mengamati awan, alam, bebatuan di sekitar agar pembelajaran tidak monoton.
Dengan pembelajaran yang kreatif, akan membuat siswa merasa senang belajar. Mereka tidak merasa terkekang oleh metode ceramah guru.
Kemudian karya siswa, apapun hasilnya saya pajang di dinding kelas. Tujuannya agar para siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar lebih baik ke depannya.
Karya yang terbaik diberi apresiasi tanda bintang. Itu akan membuat siswa begitu terkesan. Saya bersyukur, para siswa ada yang termotivasi membuat karya sendiri di rumah dan memajangnya di dinding kamar. Entah itu cerita pengalaman, puisi, gambar dengan tema tertentu meski waktu itu siswa tersebut masih kelas III SD. Saya mengetahui itu dari cerita ibunya.
Alhamdulillah. Bahagia mendengar cerita itu. Jadi kiranya seperti itulah saya di mata siswa. Meski tak semua menilai seperti yang sudah saya tuliskan. Yang jelas, saya selalu belajar untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Dalam hal mengarahkan siswa pun tak luput dari penilaian siswa. Saya berusaha ramah, dan menjadi guru yang sabar. Namun terkadang ada rasa kesal saat berhadapan dengan siswa yang perilakunya tidak bisa ditolerir.
Belum lama, saya menegur seorang siswa—saya mengajar siswa kelas IV—. Siswa ini termasuk siswa yang aktif dalam pembelajaran. Saking aktifnya, setiap saya membuka pembelajaran, saya baru bicara, siswa tadi ikut bicara. Saya tentu menegurnya karena mengganggu temannya. Ada saja celotehan dari bibirnya. Ya sudah, saya tak terpancing dengan ulahnya.
Namun kemarin, siswa tersebut berulah. Ya biasa. Dia gojek atau bercanda dengan temannya. Kebetulan waktu bercanda mereka berada di depan meja guru. Tanpa sengaja saya melihat siswa itu membuka rok temannya.
Saya langsung menyebut nama siswa itu. Saya memintanya duduk dan mengalirlah nasehat dari saya. Suasana hening. Untuk waktu itu baru pertama kali siswa diam saat saya menasehati di kelas.
Saya meminta siswa tadi agar tidak mengulangi lagi perilakunya. Dia harus menghormati teman dan bersikap sopan. Percuma kalau pintar dan cerdas tapi tidak memiliki kesopanan dalam kesehariannya.
Tak lama, seorang siswi berkomentar, "Bu Jora bisa marah juga ternyata."
Maksud siswi tadi mungkin saya bisa tegas dalam menyikapi perilaku siswa. Apapun saya lakukan demi anak didik. Mereka mungkin belum hafal dengan karakter saya. Maklum saya belum lama mengajar di instansi baru. Kalau di sekolah lama, semua siswa hafal bagaimana saya.
Demi kemajuan anak didik dan bangsa serta negara, saya mengajar, mendidik dan memfasilitasi siswa. Semoga mereka semua sukses dunia-akhirat.
Branjang-Melikan, Juli 2022
Wednesday, August 31, 2022
Nama Muridku Khilaf
Nama muridku Khilaf. Tak tahu kenapa bapaknya ngasih nama itu. Yang kutahu, bapaknya memang punya sifat yang agak aneh.
Pernah bapakku memprotes. Ah, bukan! Tapi mengarahkan si bapaknya Khilaf untuk mengubah nama sang anak. Dengan nada bertanya, "kenapa anakmu dikasih nama Khilaf? Ngasih nama itu yang bagus!"
Ada saja jawaban dari bapaknya Khilaf. Alhasil sampai saat ini muridku yang jarang mandi saat berangkat sekolah itu tetap bernama Khilaf.
Branjang, 31 Agustus 2022
Friday, October 08, 2021
Nasib Kepompong dan Kupu-kupu
Ilustrasi: rahasiabelajar.com
Lela tampak sedih. Ketika pulang sekolah tadi, dia melihat banyak orang yang sedang mencari enthung atau kepompong.
Lela tahu, pasti kepompong atau enthung itu akan dijual atau dimasak dan dimakan sebagai lauk. Orang-orang, termasuk teman-teman di sekitar Lela, memang sangat menyukai menu kepompong saat musim kepompong tiba.
Kalau tidak dimakan, kepompong itu dijual dengan harga yang sangat mahal. Lebih mahal daripada harga ayam. Tentu sangat menggiurkan.
Makanya mereka rela pergi ke daerah lain yang juga banyak pohon-pohon jati yang daunnya habis dimakan ulat. Berburu kepompong demi uang atau makan mereka.
Lela ingat dari penjelasan Bu guru di sekolah kalau kepompong yang nantinya akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah serta bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup. Makanya harus dilestarikan.
Kepompong berasal dari telur kupu-kupu. Telur kupu-kupu berubah menjadi ulat, baru menjadi kepompong dan dua mingguan kemudian akan menjadi kupu-kupu.
Dari informasi yang dibaca Lela, kupu-kupu, selain indah dilihat, juga termasuk bangsa serangga yang membantu penyerbukan bunga. Lalu bunga-bunga itu akan berkembang menjadi buah-buahan yang bisa dimakan manusia.
***
"Lel, kepompong enak dimakan lhooo," ucap Leo.
"Bener. Aku kemarin juga nyicipi sedikit gorengan kepompong, rasanya emmmm...yummmy!" Kelakar Bintang.
"Kata bapak, rasanya nggak kalah sama daging sapi," timpal Leo.
"Tapi 'kan tadi Bu guru…"
"Ah… cueki aja omongan Bu guru. Yang penting diiyain aja kalau di kelas. Hahahah," sahut Bintang. Lela sebal sekali dengan omongan teman-temannya.
Bagaimanapun ulat, kepompong dan kupu-kupu harus dilestarikan. Biar pohon buah yang ditanam ayah bisa berbuah dengan bantuan kupu-kupu.
Lela sangat senang ketika melihat kupu-kupu yang sangat banyak hinggap di pekarangan di sebelah Utara rumah. Warna-warni sayapnya. Kupu-kupu itu menari-nari dengan indahnya.
Kupu-kupu mencari madu pada bunga kelengkeng yang sedang banyak-banyaknya. Sedangkan bunga yang diambil madunya itu kelak akan berbuah. Buahnya bisa Lela makan bersama keluarga, saudara dan tetangganya.
Thursday, September 16, 2021
Sekolah Lagi
Ilustrasi: rosyidaaulia.wordpress.com
Siang hari ini aku baru saja menyelesaikan tugas dari Bu guru. Pelajaran Tematik.
Tugas itu segera kulaporkan kepada Bu guru lewat pesan pribadi WhatsApp. Tak lama kemudian ada pesan masuk dari Bu guru ke grup Paguyuban Orang Tua kelasku.
Assalamu'alaikum.
Berdasarkan rapat sekolah hari ini, saya sampaikan informasi bahwa mulai Minggu ini akan diadakan pembelajaran tatap muka.
Adapun jadwal PTM sebagai berikut:
Kelas I dan V masuk hari Rabu
Kelas II dan VI masuk hari Kamis
Kelas III dan IV masuk hari Jumat
Pembelajaran dimulai pukul 07.30-10.00 WIB.
Demikian pengumuman dari sekolah.
Wassalamu'alaikum.
Catatan: siswa bersekolah mengenakan pakaian rapi. Tidak perlu berseragam terlebih dahulu dan wajib mengenakan masker,cuci tangan, jaga jarak, dan jangan jajan sembarangan.
***
Setelah membaca pesan itu melonjak-lonjak kegirangan. Aku bahagia sekali. Sampai-sampai ibu yang baru saja sampai rumah heran melihatku begitu gembira.
"Besok Jumat aku sekolah, buuu!" Teriakku sambil berlarian. Lalu mendekati dan memeluk ibu.
"Oh ya? Kamu tahu dari mana, ndhuk?"
Segera kuserahkan handphone kepada ibu. Lalu ibu memeriksa pesan-pesan yang masuk, termasuk pesan dari Bu guruku.
"Alhamdulillah. Akhirnya kamu kembali sekolah, ndhuk…"
"Tapi cuma sehari dalam seminggu," gerutuku.
"Eits...nggak boleh begitu, ndhuk. Pasti ada alasan sekolahmu sekali dalam seminggu. Di sekolah sebelah juga masuk sekolahnya baru sekali kok dalam seminggu…"
Oh iya ya. Kan aku punya teman yang sekolah di sekolah negeri di dusun sebelah. Nah kalau aku sekolah di sekolah swasta. SD Muhammadiyah.
"Berarti sama ya, Bu…"
Ibu mengangguk.
"Kita harus hati-hati kalau mau ke mana saja, termasuk ke sekolah, ndhuk. Semoga pandemi ini segera berlalu."
"Aamiin…" aku mengaminkan ucapan ibu.
**
Di kamar, aku mencari seragamku. Setelah beberapa waktu, akhirnya ketemu juga seragam HWku. HW itu kependekan dari Hizbul Wathan, gerakan kepanduan di sekolah Muhammadiyah. Kegiatannya sebenarnya sama dengan Pramuka.
Ah...kembali ke cerita seragamku saja ya. Seragamku lama tak terpakai. Satu tahun lebih. Seragam HW dikenakan pada hari Jumat.
Aku coba kenakan seragam itu lagi. Dan sekarang sudah tak muat lagi. Celanaku juga cingkrang. Aduh ..aku jadi bingung!
Segera kutemui ibu yang sedang mengangkat jemuran pakaian.
"Aku dibelikan seragam lagi ya, Bu! Sepatu juga …"
Sesaat ibu diam.
"Insyaallah, ndhuk."
***
Sambil menunggu ibu membelikan seragam baru, aku menyetrika seragam lamaku. Ibu mengarahkan bagaimana cara menyetrika pakaian. Aku tak mau merepotkan ibu terus. Makanya aku belajar menyetrika baju.
"Kalau misalnya nggak muat beneran, nggak seragaman dulu juga nggak apa-apa kan, ndhuk…"
Ibu mengingatkan kalau pesan dari Bu guru, para siswa masuk sekolah dengan mengenakan pakaian rapi, mengenakan masker, dan patuh pada protokol kesehatan.
"Iya, Bu. Seadanya dulu. Beli seragamnya kalau sudah punya uang saja."
Wednesday, September 15, 2021
Akhir Sandiwara
Akhiri Sandiwara
Ilustrasi: intanandaru.wordpress.com
Rasanya lelah juga harus membohongi perempuan yang telah melahirkanku, juga melahirkan saudara-saudaraku. Kenapa aku dan saudara-saudara harus berbohong?
Ceritanya panjang. Semua berawal saat asam lambung dan gula darahku naik. Aku pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit.
Aku rasa semua pasien yang masuk rumah sakit pasti akan diswab. Dan benar, aku diswab dan hasilnya reaktif. Namun aku isoman di rumah.
Sesuai prosedur protokol kesehatan, semua anggota keluarga di rumah akhirnya diswab juga. Juan, anakku satu-satunya juga reaktif. Aku sempat khawatir karena dia memiliki riwayat asma.
Anggota keluarga, ibu dan adik ragilku, Wulan, juga reaktif. Kami berusaha untuk tetap tenang. Terapi uap dengan air panas ditetesi minyak kayu putih kami lakukan.
Dalam perjalanan dan perjuangan kami untuk sembuh, ternyata ibu dan Wulan harus dibawa ke rumah sakit. Sementara keadaanku dan Juan semakin membaik.
Kami terpaksa melepas ibu dan Wulan dibawa ke rumah sakit. Doa benar-benar kami panjatkan kepada Illahi untuk menguatkan ibu dan adik tercinta kami.
O iya. Wulan, adik kami tersayang, sangat berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia termasuk anak down syndrom. Pernah bersekolah di SLB sekitar kelurahan. Biasanya dia berangkat ke sekolah bersama tetangga yang juga mengajar di SLB.
Menurut keilmuan, anak down syndrom, usianya tidak akan lama. Namun kami bersyukur, sampai tahun ini dia masih bersamaku dan ibu.
Setiap hari, aku dan kakak-kakak menanti kabar dari rumah sakit. Hingga ketakutan dan kekhawatiran kami terjadi.
Wulan berpulang ke Rahmatullah, tepat saat Idul Adha tiba. Rasanya seperti mimpi. Aku mengabarkan kepergian Wulan kepada kakak-kakak.
Tangis mewarnai video call yang kami lakukan. Adik yang pernah bersekolah di SLB itu tak bersama lagi denganku. Tak bersama dengan kami.
Lalu bagaimana keadaan ibu?
Alhamdulillah keadaan beliau semakin membaik. Aku dan semua saudara bersepakat, kalau ibu sudah bisa pulang dari rumah sakit, kepulangan Wulan akan kami rahasiakan dulu.
**
Akhirnya ibu pulang. Setiap hari masih proses penyembuhan. Pagi hari ibu berjemur untuk menghangatkan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan.
Yang membuatku tak tega adalah kalau ibu menanyakan bagaimana Wulan. Aku hanya bilang kalau Wulan masih di rumah sakit. Padahal Wulan sudah dua mingguan tiada.
Berbulan-bulan kami membohongi ibu. Selama kami berbohong, ibu selalu menyisihkan nasi dan lauknya untuk Wulan. Lalu diberikan kepadaku untuk diantar ke rumah sakit.
Lagi-lagi aku bersandiwara. Nasi dan lauk dari ibu kubawa ke "rumah sakit". Meski sebenarnya nasi dan lauk itu tak pernah sampai ke putri ragil ibu.
Hatiku terasa teriris dan air mata selalu kutahan demi ibuku. Ya...meski aku lelaki dewasa, memiliki satu anak, namun melihat ibu selalu menyisihkan nasi untuk Wulan, rasanya membuatku hancur.
**
"Mbak, kita harus mengakhiri sandiwara ini. Kasihan ibu. Lama-lama aku tak tahan juga…" Aku memulai chat di grup keluarga besar.
"Iya, tapi harus benar-benar masak rencananya. Gimanapun ibu harus tahu…" Akhirnya kami susun rencana dan strategi untuk mengakhiri sandiwara.
**
Hari H yang ditentukan, aku dan tetangga pura-pura ke rumah sakit. Tengah malam.
"Lha ana apa, le? Wulan rak apik to?" Tanya ibu.
Aku bergegas ke luar rumah dan bilang ke ibu, "kita doakan yang terbaik buat adik ya, Bu…".
Tak lupa kusalami ibu.
Kukuatkan hatiku untuk mengakhiri kebohongan demi kebohongan. Dengan dibantu tetangga dan sahabat-sahabat.
***
Pagi harinya, aku pulang ke rumah. Kulihat tetangga dan teman-temanku di sana. Ibu masih terlihat tenang meski ada rasa penasaran dari raut mukanya.
Dengan pelan aku mengabarkan kepada ibu tentang Wulan.
"Bu, Wulan sudah nggak ada," ucapku singkat.
Ibu menatapku, tak percaya.
"Kowe mesti ngapusi ibu," ujar ibu sambil menggelengkan kepala dan tangisnya mulai pecah'.
Aku meyakinkan ibu. Juga tetangga-tetangga. Wulan sudah dimakamkan pukul 04.00. Aku tak boleh mendekat. Ceritaku kepada ibu.
"Ibu yang sabar ya. Dik Wulan sudah tenang di surga…"
Ibu menjadi histeris ketika mendengar ucapan tetangga kami. Kupeluk ibu. Sambil menangis, kucoba untuk menguatkan ibu.
"Njur mbak-mbakmu dho wis ngerti apa durung, le?" Tanya ibu, setelah kondisi ibu sedikit tenang.
Aku mengangguk pelan. Kuusap air mata ibu. Kugenggam erat tangan yang telah mengeriput itu.
Friday, September 03, 2021
Ibuku, Guruku
Duduk di kelas IV selama dua bulan ini tentu membuatku sangat bahagia. Ya... meski hampir satu semester pembelajaran secara online atau PJJ, aku bisa naik kelas. Alhamdulillaah.
Aku yakin teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Tidak masuk sekolah setiap pagi tentu membuat kami bahagia. Tetapi itu hanya pada awal pembelajaran online. Lama-lama aku bosan sekali.
Setiap hari hanya bertemu kakak perempuan dan adikku. Kakakku sekarang kelas VI. Sedang adikku sekarang harusnya sudah masuk sekolah di PAUD.
***
"Tugasnya segera dikerjakan, Fa." suara itu mengagetkanku. Maklum, aku baru konsentrasi menonton televisi. Setiap pagi aku menonton film kartun kesukaanku. Mulai dari Omar Hana, Riko sampai Adit Sopo Jarwo.
"Iya, bu. Nanti..."
Aku selalu menunda waktu untuk mengerjakan tugas. Tugas dari guruku sebenarnya tidak banyak. Tetapi justru itulah yang membuatku semakinsenang menunda-nunda pekerjaan.
Setelah puas menonton televisi, aku minta uang untuk jajan. Nah...kalau sudah dikasih uang jajan, aku mampir di rumah simbah. Biasanya aku di rumah simbah sampai sore.
Lagi-lagi aku menonton televisi di rumah simbah. Tak ada bosan-bosannya aku menonton televisi. Apalagi kalau mbak Lis, saudara sepupuku ke rumah simbah juga. Atau Kekey menyusulku. Tambah semangatlah aku dalam menonton televisi.
***
Suatu sore, di rumah simbah.
"Fa, gurumu siapa?"tanya simbahku.
Kebetulan ibu ke rumah simbah juga bersama adikku. Ibu mengawasi adik yang berlarian ke sana-kemari.
"Ibu," kujawab singkat pertanyaan simbah.
"Lha gurunya ibumu sendiri. Terus kamu sudah mengerjakan tugas apa belum?"
Aku tak menjawab. Hanya isyarat gelengan kepala.
Simbah hanya tertawa. Tak lama simbah menasehatiku.
"Kalau gurumu di sekolah itu ibumu sendiri, harusnya kamu lebih rajin. Setiap hari kan ketemu dan diajari bu gurumu," begitu nasehat simbah.
Ibu yang tadinya wira-wiri mengikuti adikku mengomentari perkataan simbah.
"Kalau Ifa ngeyel ya nggak dinaikkan ke kelas V, mbah," ucap ibuku.
Aku masih belum paham. Kenapa aku nggak bisa naik kelas? Bukankah aku tetap mengerjakan tugas? Meski tugas itu kukerjakan sore hari, kalau bapak pulang kerja. Aku paling takut kalau bapak marah karena aku belum mengerjakan tugas.
"Yang dinilai itu bukan hanya pekerjaan setiap mata pelajaran, Fa," kata ibu.
Ah...aku merasa ibu berbohong padaku.
"Kalau nggak percaya, tanya sama bulik saja."
***
"Fa, kalau bulik menilai dan menulis nilai di rapor itu juga ada nilai sikap. Nilai sikap itu ada macam-macam. Kedisiplinan, ketertiban dan masih banyak lagi. Kalau nilainya nggak baik pasti murid bulik nggak naik kelas. Makanya kamu harus tertib kalau mengerjakan tugas. Jangan lupa, bantu ibu dan bersikap yang baik sama ibu-bapak di manapun," terang bulik.
Aku memang suka ngeyel. Malah kadang marah kalau diingatkan ibu untuk membantu, merapikan kamar, membereskan mainan adik.
"Kamu pingin pinter dan naik kelas nggak," tanya bulik kemudian.
Aku mengangguk.
"Berarti kamu harus melakukan yang bulik bilang tadi..."
***
Keesokan paginya.
"Bu, sudah ada tugas apa belum?" aku bertanya kepada ibu.
"Belum. Sebentar lagi ya, Fa."
Mulai sekarang, aku akan lebih disiplin dan tertib kalau mengerjakan tugas. Juga akan menghilangkan kebiasaan marah-marahku kepada ibu. Aku sayang ibu, yang juga menjadi guru kelasku saat ini.
Thursday, September 02, 2021
Tangan Kiri
Tangan Kiri
Kisah tentangmu seakan tak ada habisnya. Meski ada sesuatu hal yang kau rahasiakan selama hidupmu. Tak tahu, apakah kau ceritakan pada Bulik atau malah kau adukan keluh kesah, dan tangismu kepada Illahi.
Yang kuingat kau pernah mengurung diri di kamarmu sendirian. Tidur terpisah dari bapak. Beberapa hari kau lakukan itu. Sampai kutanyakan kepada bapak. Tak ada jawaban darinya.
Aku yang waktu itu masih SD hanya berpikir, apakah ada kesalahan dariku hingga kau marah dan tak mau menemaniku. Hingga akhirnya tanpa sengaja kau keluar dari kamar. Tak ada senyum dari wajah cantikmu. Kulihat matamu sembab.
Entahlah apa yang terjadi.
***
Kuingat saat aku membuatmu kesal, pasti kau hukum. Pantatku kau cethot. Rasanya sakit. Dan itu membuatku jera melakukan perbuatan jelek. Aku takut kalau akan mendapat hukuman lagi.
Setelah beberapa hari mengurung diri akhirnya kau kembali dengan wajah yang sedikit demi sedikit cerah.
***
Masa SMPku, sering kali kau ajak aku terjaga di malam hari. Shalat tahajud. Meski dengan berat hati dan mata yang masih pedih, kuikuti ajakanmu itu. Semula tahajud kita laksanakan secara berjamaah karena waktu itu aku belum begitu mengenal shalat Sunnah.
Rangkaian doapun kau tuliskan pada lembaran kertas. Lembaran itu lalu kau fotokopi di Karangmojo. Tentunya bersama Bulik. Kau sama sekali tak bisa mengendarai motor. Ke manapun kau pergi, termasuk ke sekolah luar biasa, pasti diantar jemput Bulik.
"Iki diwaca nek bar shalat," begitu katamu saat menyerahkan tulisan berhuruf Hijaiyah.
"Masa berdoa sambil baca, Bu…"
"Tak apa. Kamu baca tulisan itu terus. Lama-lama kamu hafal…"
Dan benar, dengan seiring berjalannya waktu, aku hafal. Jadi kertas berisi rangkaian doa itu tak kubaca lagi. Cukup dengan hafalanku.
***
Masa SMA aku bersekolah di Wonosari. Karena jarak yang cukup jauh dan aku belum bisa berkendara, kau carikan kos untukku. Kepulanganku kau tunggu di setiap Sabtu sore.
Kutahu kau merasa ada yang hilang saat aku kos. Begitu juga saat aku berkuliah di Yogyakarta. Aku tinggal di perumahan yang kau beli bersama bapak. Selama empat tahunan aku di sana. Dan sama, kau selalu menantiku di Sabtu sore.
***
Rona bahagia ketika satu persatu keempat putrimu menyelesaikan kuliah. Senyum indahmu kini kulihat dalam album foto.
Ya...kau telah berpulang di penghujung bulan Januari. Setelah perjuanganmu untuk sembuh setelah serangan stroke pada Juli duaribu sepuluh.
Stroke yang membuat aktivitasmu terbatas. Berjalan dengan tongkat. Ke masjid dengan diantar aku atau saudara lain dengan kursi roda. Shalat pun kau lakukan di luar serambi masjid. Belum ada tempat khusus untukmu mendirikan shalat di sana.
Stroke juga membuatmu melakukan segala aktivitas dengan tangan kiri. Aku tahu, beraktivitas, termasuk makan, dengan tangan kiri membuatmu tak nyaman.
"Kalau makan pakai tangan kanan. Kalau dengan tangan kiri kayak setan." Nasehatmu kalau aku dan saudara-saudara makan dengan tangan kiri.
Pasti ada dilema di hati dan pikiranmu. Apalagi saat berkunjung ke rumah Bulik atau tetangga, pasti kau tolak minum atau makan. Kau gelengkan kepala sambil tersenyum, "nanti saja. Aku belum lapar. Belum haus".
"Nggak apa-apa, mbakyu." Kata Bulik.
"Kayaknya ibu malu karena makan minum dengan tangan kiri, Lik."
**
Ibu, kini kau tak merasakan malu lagi. Kau sehat lagi. Kau sembuh. Tapi tak di dunia ini. Tangan kananmu sudah pulih. Kau tak makan minum dengan tangan kirimu.
Perempuan Tua yang Teguh
Perempuan Tua yang Teguh
Aku berada di depan rumah yang reot sudah termakan oleh waktu, maupun musim dan cuaca. Suasana rumah tampak lengang. Pintu kayu yang tak lagi bisa menutup sempurna tak dipedulikan sang pemilik rumah.
Mbah Umi. Kami biasa menyapanya begitu. Sosok perempuan tua tangguh, sekalipun anak-cucunya jarang menjenguknya. Sedangkan suaminya tahun lalu meninggalkannya. Suami Mbah Umi meninggal dunia. Orang kampung menyebut kalau suaminya meninggal karena virus Corona.
Mbah Umi yang sudah hafal dengan kesehatan suaminya tak mempedulikannya. Sekalipun suaminya dikebumikan sesuai protokol kesehatan dari rumah sakit.
"Ana Corona apa ora, kabeh uwong mesti mati (Ada Corona apa tidak, semua orang pasti akan mati)," begitu gumamnya.
Mbah Umi sangat sedih ketika tak bisa menunggui suaminya yang dirawat di rumah sakit. Maklumlah, selama ini mereka tak pernah berpisah. Ke sawah selalu bersama. Menikmati nasi lauk sayur lombok dan kerupuk saat tiba waktu makan, sambil melihat padi yang mulai menguning.
Kesedihan Mbah Umi semakin bertambah. Dia tak boleh ke manapun. Padahal dirinya merasa sehat-sehat saja. Sama sekali Mbah Umi buta dengan berita yang seakan meneror mental manusia dua tahun ini.
Beruntungnya Mbah Umi masih memiliki lahan sempit di sebelah utara rumah reotnya. Selama karantina mandiri itu, Mbah Umi menanam ketela pohon dan kacang tanah. Semua dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan dan kesedihan karena tak bisa mendampingi suaminya yang sejak lama sakit-sakitan.
***
Bicara tentang Mbah Umi seakan tak ada habisnya. Anak-anaknya sudah sukses semua. Mereka mau merenovasi rumah reot sang ibu.
"Kowe oleh mbubrah omahku nek aku wis kepundhut (kalian boleh mengubah rumahku kalau aku sudah mati)," ujar Mbah Umi yang ditawari rencana oleh sulungnya. Si sulung dipercaya sebagai anak yang paling didengar Mbah Umi. Ternyata, "rayuan" si sulung untuk memperbaiki rumah orangtuanya gagal.
Ya .. seperti saat ada kegiatan bedah rumah dari desa.
"Biar lebih layak, Mbah," pak dukuh mencoba memberikan pengertian kepada warganya ini.
"Gubuk kula taksih layak, pak. Ngapunten. Kula mboten remen menawi dimesakke mekaten (rumah saya masih layak, pak. Maaf. Saya tak mau kalau dikasihani…"
Akhirnya pak dukuh angkat tangan. Beliau sangat menghormati pendirian Mbah Umi. Beliau mengagumi Mbah Umi dan suaminya. Di saat warga lain yang dinilai lebih mampu saja sering ribut kalau dana bantuan tidak segera cair. Mbah Umi dan suami malah berkebalikan.
"Wonten warga ingkang langkung mbetahke bantuan, pak. Kula mboten mawon (Ada warga yang lebih membutuhkan bantuan, pak)."
***
Takbir Idul Adha berkumandang sayup-sayup dari beberapa masjid di kampung Mbah Umi dan sekitarnya.
Aku bersama beberapa warga tengah mempersiapkan kegiatan penyembelihan hewan kurban esok hari. Kembali lagi terngiang di telingaku saat tadi siang aku ke rumah Mbah Umi.
Mbah Umi terlihat bahagia. Senyum terpancar dari wajahnya. Ya... kebahagiaan itu selalu hadir. Apalagi saat Idul Adha seperti kali ini.
"Ini kambing saya, pak dukuh. Tolong dibawakan ke panitia kurban ya…"
Aku tertampar. Rumahku lebih dari kata layak, keuanganku juga lebih layak. Namun aku juga warga lain kalah dengan Mbah Umi yang hampir setiap tahun berkurban.
***
"Kula kepingin digangsarke menawi dipun pundhut Gusti Allah (saya hanya ingin dimudahkan kalau sakaratul maut)," terang Mbah Umi tentang motivasinya berkurban setiap kali Idul Adha tiba.
#Cerpen jora #fiksi idul Adha #kpb #ppb













.jpeg)



