Monday, May 01, 2023
Caramu Utarakan Isi Hati
Thursday, September 02, 2021
Melepasmu
Melepasmu
Tak mudah. Beribu kali kukatakan, tak mudah.
Tergambar selalu saat-saat bersamamu. Berjuang bersama.
Kemarin kau memintaku, "Baca Quran ya…" Kuiyakan saja. Tak berani kubayangkan apakah aku kuat menahan perasaan.
Dan benar, dengan menahan gejolak hati. Kupenuhi permintaanmu kali ini. Lalu kau ucapkan kata pamitmu. Tahukah kau, pedih hatiku
Air mata tak lagi kuasa kutahan. Mengenang kebersamaan denganmu. Canda tawa. Terkadang emosi meraja di hati.
Perjuanganmu kini kan kulanjutkan dengan orang lain. Yang kau nilai lebih baik darimu. Ketika kutanya, "kenapa jadi begini, kenapa kau harus pergi?"
Suara parau saat kau berpamitan. Membuat hatiku bagai dirajam. "Kita tak berpisah, hanya nanti status saja yang berbeda," katamu tersenyum, matamu menerawang jauh.
Kuharap, melepasmu hanyalah mimpi buruk saja. Namun itu nyata.
Branjang, 28 Juli 2021
Menghapusmu
Menghapusmu
Tak perabjad. Tak juga perkata. Seperti menghapus tulisan di masa dulu. Saat kecil di taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Sampai kertas lusuh dan menghitam.
Tak ingin gambar atau tulisan berisikan namamu terukir di lembar demi lembar kertas hatiku. Tak pula di handphone, laptop. Meski sebenarnya lupa akanmu jelas tak mungkin.
Janji demi janji, teringkari. Manis ucapan, tak semanis pembuktianmu. Laksana kedondong, dari luar halus, tapi penuh gerigi pada isinya. Sampai kuberpikir, kau tak menghendaki aku. Aku hanya sampiran.
Jujur, tak bisa kubertahan. Aku ikhlas dan ridha atas semua yang kualami. Kuyakin Dia yang 'kan kuatkanku.
**
Tuk seseorang: Tetap semangat dan bahagia ya!
Bangku itu Kini
Bangku itu Kini
Saat kutiba di muka pintu. Kulihat kau di bangku. Tak jauh dari pintu.
Kau sudah sibuk di depan monitor. Mengerjakan tugasmu. Seulas senyum terlihat saat kumenyalamimu.
Bangku itu kini tak berpenghuni. Sosok yang harusnya menggantikanmu ternyata tak menyukainya.
Entahlah!
Aku merasa kehilangan. Sosok yang mengayomi dan penuh pengertian sepertimu.
"Aku oleng gara-gara dia," ucapmu saat kutanyakan apa kau memang benar-benar tak bisa di sini lagi, meski di bangku lain.
Tahukah kau, aku pun oleng.
Namun seperti pesanmu, kan kulanjutkan apa yang kau perjuangkan selama ini, sahabat.
Musnah Sudah
Musnah Sudah
Canggung. Itu yang kulihat dari bahasa tubuhmu. Sekian lama tak bertemu. Berapa bulan? Pasti kau tahu.
Dulu kau begitu bersikeras untuk kembali ke sana, tempat di mana kau dibesarkan. Padahal aku tak mengizinkanmu. Tetap saja tak kau gubris ucapanku.
Beda lagi denganku. Bukan canggung yang kurasa. Sakit hati. Itu nama sakit yang sulit tuk disembuhkan.
Rasa cintaku sudah tererosi. Ya...karena jiwa labilmu. Hingga dengan mudahnya kau berucap hal yang bisa memisahkan kita. Talak.
Pisah. Bukan pilihan yang disukaiNya. Namun kutak bisa kau permainkan. Aku sudah angkat bendera putih untuk hubungan kita.
Lalu kini kau mengucapkan, "aku masih sayang…"
Itu manis. Teramat manis jika kau ucapkan beberapa bulan lalu. Namun tak ada artinya lagi bagiku saat ini. Cintaku musnah sudah.
Monday, December 23, 2019
Puisi| Surga Tanpa Hisab
Diingatkan oleh momen bagi perempuan mulia bernama ibu
Bertebaran ucapan dan gambar foto bersama ibu
Lalu, kulihat pula satu gambar
Anak-anak begitu sibuk, menunjukkan kasih sayang pada ibu
Tak lupa foto bersama
Sementara, di hari-hari biasa, perempuan yang mengeriput itu merasa sepi
Mendambakan kedatangan anak-cucu
Hingga dalam hati, dia ingin mengulang masa lalu
Di mana dia lelah, marah, mencurahkan kasih sayang tanpa batas pada si kecil
Menggendong, meninabobokkan, mendongeng…
Semakin dewasa anak, semakin jauh dirasanya
Namun doa tak lepas darinya
Di waktu sujudnya, di setiap langkahnya
"Nak, ibu rindu. Kesinilah barang sebentar…"
Perempuan itu memandangi foto diri bersama buah hati yang kini jarang menemui.
Aku merasa tertampar…
Perhatian tuk keluarga terkadang melupakan tuk sekadar berkunjung ke rumah mungil
Tempatku dilahirkan dan dibesarkan olehnya
Ah, ibu… maafkan aku
Kutak bisa menunjukkan sayangku yang utuh
Satu hal kuharap surga untukmu, tanpa hisab
Hanya itu yang pantas kau dapatkan, ibu...
Wednesday, May 22, 2019
Puisi | Babak Baru
Friday, January 11, 2019
Otak Macet
Bahagia Menanti
Semakin dekat
Semakin nyata
Akan ku raih bersamamu
Kebersamaan
Kebahagiaan
Meraih harapan dan asa
Tuk masa depan
Sekian lama
Ku di sini
Menggantungkan harapan
Ada bayangan berkelebat
Akanmu di sana
Tak sabar diri ini
Bersua denganmu
Bercanda bersama
Menghabiskan waktu bersama
Kau yang di sana
Tunggu aku
Aku kan datang dengan penuh bahagia
Menjalin kasih
Menjalin sayang
Bersamamu selamanya


