Tuesday, September 10, 2019

Fabel| Aku Jera


Ilustrasi: pngdownload.id

Aku merasa kesal sekali. Allah menciptakanku sebagai hewan yang menjijikkan. Lihat saja tempat hidupku, di tanah yang basah. Tak seperti ulat yang hidup di daun, ayam yang bisa bermain di atas tanah. Mereka diciptakan sungguh enak. Bisa melihat keindahan alam dan udara yang segar.

Sementara aku, aku yang adalah cacing. Aku sangat tersiksa dengan kondisiku. Ingin sekali kumelihat keindahan dunia seperti teman- temanku lainnya. Burung, monyet, ulat, kupu- kupu, capung, kucing. 

"Bu, aku ingin bermain bersama ulat itu. Boleh kan, bu?" kuutarakan keinginanku untuk bermain di luar rumah.

"Aduh, nak. Jangan. Nanti kamu kepanasan…"

Aku semakin kesal, ibuku tak mengizinkanku pergi. Padahal aku dan Ulat sudah janjian ketemu di bawah pohon tomat yang ada di atas tempat tinggal kami. 

"Ahh… ibu jahat! Masa aku main dekat rumah saja nggak boleh…"

Ibu hanya tersenyum melihatku cemberut. 

***
Siang harinya. Seperti biasa ibu menyuruhku untuk tidur siang. Aku hanya mengiyakan saja. 

Di hatiku aku bersorak, karena ibu pasti juga beristirahat kalau siang hari. Aku bertekad tak akan memejamkan mata. Jadi ketika ibu sudah terlelap, aku bisa menyelinap untuk pergi dan bermain dengan Ulat sahabatku.

Aku berada di samping ibu dan berpura- pura tidur. Sementara ibu sudah mulai terlelap. Dengan mudah aku meninggalkan rumah, menuju tempat tinggal Ulat. Aku bahagia sekali.

Pelan- pelan aku menuju rumah Ulat. Hawa panas terasa di kulitku. Namun tak kupedulikan. Aku ingin bertemu dan bermain dengan Ulat. 

Kulihat Ulat telah menungguku. Aku mempercepat langkahku. 

"Kok lama banget sih, Cing…" gerutu Ulat.

"Maaf, aku menunggu ibuku tidur dulu…"

**
Aku merasa kelelahan setelah bermain dengan Ulat. Badanku terasa kering dan panas. Kepalaku berkunang-kunang ketika dalam perjalanan pulang. Sampai di depan rumah, aku tak tahan lagi. Pandanganku terasa gelap.

***
Mataku terbuka. Namun kurasakan kepalaku terasa berat, mata pedih dan sekujur tubuhku perih. 

"Alhamdulillah kamu sudah siuman, nak. Kamu pingsan lama sekali…"

"Siuman?"

"Iya, nak. Kamu tadi pingsan di depan rumah…"

Lalu ibu menceritakan bahwa ibu dan bapak menggotong tubuhku. 

"Kamu dari mana saja, nak? Tubuhmu sampai terlihat kering begitu…"

Aku terpaksa menceritakan semua yang kulakukan kepada ibu dan bapak.

" Lain kali kamu dengarkan ibu, nak. Kamu tak boleh bermain di udara terbuka dan panas biar tubuhmu tak kering dan perih…"

"Iya. Benar kata bapak, nak. Kita memang diciptakan untuk hidup di tanah yang basah. Karena dari situlah kita bisa bisa mudah bernafas dan tubuh kita selalu lembab. Kalau di udara terbuka dan panas, kita akan kesulitan bernafas. Tubuh juga bisa kering atau perih…"

Ibu menjelaskan dengan sabar. Aku pun sadar bahwa tingkah lakuku tadi siang sangat berbahaya. Aku sudah merasakan sendiri akibatnya. 

"Maafkan aku, bu- pak. Aku janji nggak akan ulangi lagi…" 

No comments:

Post a Comment