Tuesday, September 10, 2019

Fabel| Kin dan Rum



Hai, kenalkan. Aku Kinjeng. Biasa dipanggil Kin. Aku hidup di Jawa. Aku adalah hewan yang sangat senang hidup di lingkungan berair. Orang- orang mengenalku sebagai bangsa capung. Tahu kan?

Oh iya. Capung itu banyak macamnya. Aku sendiri adalah capung yang seperti pada umumnya, bertubuh relatif besar. Aku bisa menjelajah tempat yang jauh. Tubuhku termasuk kuat.

Aku punya teman yang ukuran tubuhnya lebih kecil. Dia adalah Capung Jarum. Dia terlihat kurus, seperti jarum. Aku biasa memanggilnya dengan nama Rum. 

Berkebalikan denganku, Rum lemah ketika terbang. Jarak jelajahnya pun tak bisa jauh sepertiku. 

Meski kami berbeda fisik dan kebiasaan tetapi kami tetap bersahabat. Kami berdua bersahabat sejak kecil. Kami bermain di hutan, kebun, sawah, sungai, danau dan sebagainya. Sekiranya tempat itu nyaman untuk kami.

Sayangnya Rum temanku tak bisa menempuh perjalanan yang jauh dalam waktu yang cepat. Padahal aku ingin sekali selalu bersamanya, kemanapun. Jadi aku menahan keinginanku.

Namun dua hari lalu dia memaksaku untuk bermain ke hutan. Padahal letaknya sangat jauh dari tempat tinggal kami. Akibatnya saat ini Rum kelelahan. Makanya hari ini dia menolak ketika aku mengajak ke taman di kampung sebelah. 

"Kamu main saja, Kin. Aku tinggal di rumah dulu. Aku kecapekan setelah dua hari lalu kita main di hutan itu…"

Aku tak tega meninggalkan Rum yang kelelahan dan pegal- pegal tubuhnya. Rum  beristirahat di daun pisang teduh yang sejak dia menjadi nimfa. Nimfa itu salah satu dari siklus hidup capung seperti kami. Daun pisang yang lebar itu menjadi tempat tinggalnya. 

Aku hanya bermain di sekitar tempat tinggal Rum. Iya...hari ini aku berencana mengajaknya ke taman di kampung sebelah. Ternyata Rum baru tak enak badan.

Rum terlihat pucat. Sesekali aku terbang ke daun eceng gondok di kolam dekat pisang, tempat tinggal Rum. Aku bermain sambil mengawasi Rum. Rupanya dia tertidur.

Ketika bermain dan mengawasi Rum, aku teringat ibuku yang tiga bulan lalu meninggal. Ibuku berpesan agar aku selalu menyayangi teman- temanku. 

Aku juga ingat, ibuku pernah marah padaku karena hampir mencelakakan Rum. Waktu itu aku mengajak Rum bermain di air terjun. Karena tubuh Rum tak sekuat aku, Rum pingsan di perjalanan pulang. 

Saat itu aku panik sekali. Aku terbang cepat ke rumah, minta bantuan ibu. Dengan menahan rasa takut, aku melaporkan kondisi Rum. Ibu terlihat menahan marah.

Ibuku mencari ibu Rum. Mengajak ibu Rum ke dekat air terjun yang kami tuju untuk bermain. Dengan pelan dan sesekali beristirahat kami ke tempat Rum tergeletak. 

Oh iya. Ibu Rum juga kurus. Maklum mereka capung yang memang diciptakan seperti jarum. Tubuh ibu Rum juga tak sekuat ibu dan aku. Makanya aku dan ibu tetap sabar menunggu ibu Rum.

Akhirnya, setelah lama menuju tempat pingsan Rum, sampai juga kami di sana. Ibu Rum dan ibuku dengan sabar merawat Rum sampai pulih. 
Sejak kejadian dulu aku selalu hati- hati kalau mengajak Rum bermain. 
***
Aku masih menunggu Rum yang sedang beristirahat. Setelah lama beristirahat, kemudian Rum terbangun. Dia langsung terbang. Entah dia mau ke mana.

"Kau mau ke mana, Rum?"

Aku terbang mengejar Rum yang kecil dan kurus itu. Tak butuh waktu lama untuk mengejarnya. Rum menengok ke arahku. Dia tersenyum melihatku.

"Aku mencarimu, Kin. Kukira kamu sudah pergi ke taman itu…"

Aku tersenyum dan terbang di samping temanku itu.

"Nggak, Rum. Tamannya jauh. Aku tak tega melihatmu kelelahan. Kita main di dekat sini saja…"

"Aku nggak apa-apa kok, Kin. Kalau istirahat cukup pasti juga sudah baikan…"

"Hehehe… sesekali saja main jauhnya ya, Rum…"

Aku dan Rum berkejar- kejaran di sekitar kolam dekat rumah Rum. Senang sekali bisa bermain bersama teman seperti dia.

---
Ilustrasi gambar: gadis.co.id

No comments:

Post a Comment