Showing posts with label Cerpen Kompasiana. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Kompasiana. Show all posts

Sunday, June 11, 2023

Cerita Anak| Semangka Biji Emas

 

Ilustrasi: dokpri
Ilustrasi: dokpri 

Teman-teman pasti ingat kisah Timun Emas. Di mana Timun Emas adalah seorang anak perempuan yang berasal dari biji timun. Timun Emas dirawat oleh seorang perempuan yang mendambakan kehadiran seorang anak. Ternyata perempuan itu mendapatkan timun emas setelah bermimpi bertemu dengan raksasa.

Si raksasa meminta perempuan itu untuk menyerahkan Timun Emas saat usia menginjak dewasa. Timun Emas dewasa akan dimakan raksasa.

Perempuan itu menyanggupi. Namun pada akhirnya perempuan itu ingin terus bersama Timun Emas. Timun Emas menemui petapa tua untuk membebaskannya dari ancaman raksasa.

Oleh Petapa, Timun Emas diberi empat bungkusan yang berisi biji timun, garam, jarum dan terasi. Bungkusan itu digunakan untuk bebas dari raksasa.

Saat raksasa ingin menangkap Timun Emas, dilemparkannya biji timun. Dengan cepat, biji tumbuh menjadi tumbuhan di mana tumbuhan itu bisa melilit raksasa. Namun, raksasa bisa bebas dan mengejar Timun Emas.

Timun Emas melempar garam ke arah raksasa. Dan ajaib! Garam itu menjadi lautan. Lagi-lagi raksasa bisa melalui lautan dan mengejar Timun Emas.

Merasa ancaman masih mengintainya, Timun Emas melempar jarum. Jarum itu menjadi pohon yang lancip dan mengenai kaki raksasa.

Raksasa terus mengejar Timun Emas. Lalu Timun Emas melempar terasi. Terasi itu menjadi lautan lumpur. Nasib Raksasa berakhir di lumpur tadi.

Seru ya ceritanya!

Lalu sekarang aku akan ceritakan tentang Semangka Emas. Simak baik-baik ya!

Seorang anak dengan pakaian lusuhnya berjalan menyusuri hutan kayu putih. Dibawanya satu bongkok (ikat) kayu bakar kering. Kayu-kayu itu diperoleh dari hutan jati yang jatuh di sekitar sana.

Saat berjalan itu, tiba-tiba dia melihat seorang nenek yang berada di depan rumah sederhana.

"Hai, anak baik hati," sapa nenek tadi.

"Iya, nek. Ada apa ya?" Tanya anak itu sambil mendekati nenek.

"Aku mau memasak lauk untuk cucu-cucuku. Tetapi kayu bakarku habis. Bolehkah aku mengganti kayu bakar yang kau bawa itu dengan semangka?" Tanya nenek itu dengan suara pelan.

Anak itu kebingungan. Dia harus melakukan apa. Di rumah, persediaan kayu bakar juga menipis. Tetapi ada nenek yang membutuhkan kayu bakar. Sementara dia mendengar anak-anak menangis.

"Dengarlah, nak. Tangisan itu adalah suara cucu-cucuku yang kelaparan," ucap nenek itu.

Nenek itu lalu ke dalam rumah. Kemudian keluar dengan membawa semangka yang cukup besar. Anak itu membayangkan betapa segarnya kalau makan semangka setelah makan nasi. Tetapi, dia ingat akan persediaan kayu bakar di rumah yang sedikit. 

"Bukankah aku bisa mencari kayu bakar lagi besok?" Batin anak itu.

Akhirnya anak itu merasa tak tega dengan suara anak-anak yang dia kira seusia dengan adik bungsunya. Anak itu menerima tawaran nenek-nenek itu untuk menukar kayu bakar dengan sebuah semangka.

Nenek itu sangat bahagia dan berterima kasih kepada anak itu.

"Sebelum kamu pulang, tolong ingat pesan nenek ya, nak. Semangka ini jangan sampai kau jual. Kamu harus bawa semangka ini sampai rumah. Nanti kalau kau memotong semangka ini, biji-bijinya kamu kumpulkan. Lalu tanamlah semua biji semangka di sekitar rumahmu. Akan ada satu semangka berbiji emas di antara semangka yang berbuah dari tanaman semangkamu nanti. Itu bisa kau gunakan untuk kebutuhanmu dan keluargamu," nasehat nenek itu.

"Ya, nek. Saya pamit dulu ya. Keburu Maghrib," anak itu bersalaman dengan si nenek dan bergegas pulang.

***

Malam harinya, di rumah, anak itu berkumpul dengan ibu dan adiknya. Bapak belum pulang dari surau.

Sambil menunggu bapak pulang dan makan malam, anak itu bercerita tentang kejadian saat pulang dari hutan jati di kampung sebelah.

"Apa benar kalau nanti akan tumbuh semangka berbiji emas ya, Bu?"

Ibu tersenyum. 

"Tak perlu dipikirkan, nak. Semangka kalau bijinya ditanam lagi ya akan tumbuh semangka yang kamu peroleh."

"Tapi, nenek itu berpesan agar tidak menjual semangka ini, Bu".

"Ya maksud nenek itu, kita disuruh makan semangka dan mengumpulkan bijinya. Lalu ditanam. Kalau sudah tumbuh dan berbuah, semangka itu dijual. Baru bisa digunakan untuk membeli emas".

Masuk akal juga ucapan ibu tadi.

Tak berapa lama bapak sampai rumah. Mereka segera mengaji dan dilanjutkan makan malam. Setelah makan malam, semangka tadi dipotong-potong ibu.

Seperti bayangan anak tadi, semangka itu sangat segar dan manis. Ibu, ayah dan adik-adiknya sangat menyukainya. Anak itu sangat bersyukur karenanya. Tak lupa anak itu mengumpulkan biji-biji semangka. Dia mau menanamnya di tanah sekitar rumah. Biar kalau berbuah, mereka bisa menikmati lagi.

***

Beberapa bulan kemudian, pekarangan di sekitar rumah anak itu sudah tumbuh subur tanaman semangka. Bahkan sudah mulai berbunga dan berbuah dengan ukuran kecil. 

Anak itu sangat senang melihat tanamannya subur. Dia berharap, semangka nanti bagus panennya. Bisa dijual di pasar.

Sayangnya saat buah semangka semakin besar, dia merasa buah-buah semangkanya berkurang satu demi satu. Entah siapa yang mengambilnya. Tentu saja anak itu sedih. Keluarga mereka belum menikmati buah hasil budidaya mereka, malah dicuri orang.

"Sudahlah, nak. Nggak apa-apa. Kalau rezeki, kita akan menikmatinya," nasehat ibu lembut.

"Tapi harusnya bisa kita jual kan, Bu?" Anak itu sedikit protes. Dia tidak terima kalau buah semangka keluarganya diambil orang tanpa izin.

"Biar yang nyuri dapet dosanya ya, nak".

Anak itu mengangguk. Dilihatnya beberapa buah semangka besar yang tersisa.

"Semangka-semangka yang tersisa kita panen saja ya, Bu."

Ibu menyetujui usul anak itu. Semangka itu tidak dijual, tetapi mau dimakan sekeluarga.

"Apa semangka kita dicuri karena tersiar kabar kalau ada satu buah semangka emas yang tumbuh dari tanaman kita ya, Bu?" Memang di kampung mereka ada kabar kalau semangka di kebun anak itu ada yang berbiji emas. Entah siapa yang mendengar obrolannya dengan keluarga.

"Bisa saja seperti itu, nak. Tapi selama beberapa hari ini tidak ada kabar kalau ada yang punya emas dari semangka kan?"

Anak itu membenarkan ucapan ibunya.

***

Sampai tersisa satu buah semangka, anak itu beserta keluarga juga tak menemukan biji emas di antara buah-buah semangka yang dimakannya. Biji-biji semangka juga sama wujudnya seperti biji-biji semangka yang ditanamnya dahulu.

Anak itu semakin yakin kalau memang sebenarnya semangka biji emas hanya ungkapan saja kalau mereka bisa mendapat kemuliaan dari semangka itu karena mau berusaha dan bisa menjualnya.

Anak itu yakin kalau nanti saat menanam semangka lagi, nantinya akan menjual semangka ke kota. Dia dan keluarganya bisa mendapatkan emas atau kemuliaan dari kegiatan itu.  

***

Saat malam tiba, mereka akan memotong semangka lagi setelah makan malam. Mereka tak merasakan kecewa lagi karena kehilangan buah semangka yang cukup banyak.

Ibu mengambil semangka yang tersisa. Lalu dipotongnya buah semangka menjadi dua bagian. Dua bagian itu dipotong lagi dengan ukuran kecil.

Ibu merasa agak aneh dengan semangka terakhir. Kalau dilihat warna semangkanya memang merah merona, seperti semangka sebelumnya. Tetapi yang agak aneh, bijinya berwarna kuning keemasan.

Ibu segera memanggil ayah dan anak itu.

Ayah dan anak itu juga sangat terkejut melihat biji semangka terakhir milik mereka. Warnanya kuning keemasan.

"Allahuakbar. Ini benar-benar emas, Bu! Alhamdulillah" seru bapak.

Sejak saat itu, mereka lebih rajin dalam merawat tanaman semangka yang ditanam dari biji-biji yang dikumpulkan. Mereka tak berharap mendapat semangka berbiji emas lagi. Mereka sadar, bisa saja besok saat memanen lagi, semangka akan berwujud semangka seperti pada umumnya.



Branjang, 10-11 Juni 2023


Friday, October 08, 2021

Nasib Kepompong dan Kupu-kupu


Ilustrasi: rahasiabelajar.com


Lela tampak sedih. Ketika pulang sekolah tadi, dia melihat banyak orang yang sedang mencari enthung atau kepompong.


Lela tahu, pasti kepompong atau enthung itu akan dijual atau dimasak dan dimakan sebagai lauk. Orang-orang, termasuk teman-teman di sekitar Lela, memang sangat menyukai menu kepompong saat musim kepompong tiba.


Kalau tidak dimakan, kepompong itu dijual dengan harga yang sangat mahal. Lebih mahal daripada harga ayam. Tentu sangat menggiurkan.


Makanya mereka rela pergi ke daerah lain yang juga banyak pohon-pohon jati yang daunnya habis dimakan ulat. Berburu kepompong demi uang atau makan mereka.


Lela ingat dari penjelasan Bu guru di sekolah kalau kepompong yang nantinya akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah serta bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup. Makanya harus dilestarikan.


Kepompong berasal dari telur kupu-kupu. Telur kupu-kupu berubah menjadi ulat, baru menjadi kepompong dan dua mingguan kemudian akan menjadi kupu-kupu.


Dari informasi yang dibaca Lela, kupu-kupu, selain indah dilihat, juga termasuk bangsa serangga yang membantu penyerbukan bunga. Lalu bunga-bunga itu akan berkembang menjadi buah-buahan yang bisa dimakan manusia.


***

"Lel, kepompong enak dimakan lhooo," ucap Leo.


"Bener. Aku kemarin juga nyicipi sedikit gorengan kepompong, rasanya emmmm...yummmy!" Kelakar Bintang.


"Kata bapak, rasanya nggak kalah sama daging sapi," timpal Leo.


"Tapi 'kan tadi Bu guru…"


"Ah… cueki aja omongan Bu guru. Yang penting diiyain aja kalau di kelas. Hahahah," sahut Bintang. Lela sebal sekali dengan omongan teman-temannya. 


Bagaimanapun ulat, kepompong dan kupu-kupu harus dilestarikan. Biar pohon buah yang ditanam ayah bisa berbuah dengan bantuan kupu-kupu.


Lela sangat senang ketika melihat kupu-kupu yang sangat banyak hinggap di pekarangan di sebelah Utara rumah. Warna-warni sayapnya. Kupu-kupu itu menari-nari dengan indahnya.


Kupu-kupu mencari madu pada bunga kelengkeng yang sedang banyak-banyaknya. Sedangkan bunga yang diambil madunya itu kelak akan berbuah. Buahnya bisa Lela makan bersama keluarga, saudara dan tetangganya.








Wednesday, September 15, 2021

Akhir Sandiwara

 Akhiri Sandiwara

Ilustrasi: intanandaru.wordpress.com

Rasanya lelah juga harus membohongi perempuan yang telah melahirkanku, juga melahirkan saudara-saudaraku. Kenapa aku dan saudara-saudara harus berbohong?


Ceritanya panjang. Semua berawal saat asam lambung dan gula darahku naik. Aku pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit.


Aku rasa semua pasien yang masuk rumah sakit pasti akan diswab. Dan benar, aku diswab dan hasilnya reaktif. Namun aku isoman di rumah.


Sesuai prosedur protokol kesehatan, semua anggota keluarga di rumah akhirnya diswab juga. Juan, anakku satu-satunya juga reaktif. Aku sempat khawatir karena dia memiliki riwayat asma. 


Anggota keluarga, ibu dan adik ragilku, Wulan, juga reaktif. Kami berusaha untuk tetap tenang. Terapi uap dengan air panas ditetesi minyak kayu putih kami lakukan.


Dalam perjalanan dan perjuangan kami untuk sembuh, ternyata ibu dan Wulan harus dibawa ke rumah sakit. Sementara keadaanku dan Juan semakin membaik.


Kami terpaksa melepas ibu dan Wulan dibawa ke rumah sakit. Doa benar-benar kami panjatkan kepada Illahi untuk menguatkan ibu dan adik tercinta kami.


O iya. Wulan, adik kami tersayang, sangat berbeda dengan kakak-kakaknya. Dia termasuk anak down syndrom. Pernah bersekolah di SLB sekitar kelurahan. Biasanya dia berangkat ke sekolah bersama tetangga yang juga mengajar di SLB.


Menurut keilmuan, anak down syndrom, usianya tidak akan lama. Namun kami bersyukur, sampai tahun ini dia masih bersamaku dan ibu. 


Setiap hari, aku dan kakak-kakak menanti kabar dari rumah sakit. Hingga ketakutan dan kekhawatiran kami terjadi.


Wulan berpulang ke Rahmatullah, tepat saat Idul Adha tiba. Rasanya seperti mimpi. Aku mengabarkan kepergian Wulan kepada kakak-kakak.


Tangis mewarnai video call yang kami lakukan. Adik yang pernah bersekolah di SLB itu tak bersama lagi denganku. Tak bersama dengan kami.


Lalu bagaimana keadaan ibu?


Alhamdulillah keadaan beliau semakin membaik. Aku dan semua saudara bersepakat, kalau ibu sudah bisa pulang dari rumah sakit, kepulangan Wulan akan kami rahasiakan dulu.


**

Akhirnya ibu pulang. Setiap hari masih proses penyembuhan. Pagi hari ibu berjemur untuk menghangatkan tubuh dan mempercepat proses penyembuhan.


Yang membuatku tak tega adalah kalau ibu menanyakan bagaimana Wulan. Aku hanya bilang kalau Wulan masih di rumah sakit. Padahal Wulan sudah dua mingguan tiada.


Berbulan-bulan kami membohongi ibu. Selama kami berbohong, ibu selalu menyisihkan nasi dan lauknya untuk Wulan. Lalu diberikan kepadaku untuk diantar ke rumah sakit.


Lagi-lagi aku bersandiwara. Nasi dan lauk dari ibu kubawa ke "rumah sakit". Meski sebenarnya nasi dan lauk itu tak pernah sampai ke putri ragil ibu.


Hatiku terasa teriris dan air mata selalu kutahan demi ibuku. Ya...meski aku lelaki dewasa, memiliki satu anak, namun melihat ibu selalu menyisihkan nasi untuk Wulan, rasanya membuatku hancur.


**

"Mbak, kita harus mengakhiri sandiwara ini. Kasihan ibu. Lama-lama aku tak tahan juga…" Aku memulai chat di grup keluarga besar.


"Iya, tapi harus benar-benar masak rencananya. Gimanapun ibu harus tahu…" Akhirnya kami susun rencana dan strategi untuk mengakhiri sandiwara.


**

Hari H yang ditentukan, aku dan tetangga pura-pura ke rumah sakit. Tengah malam.


"Lha ana apa, le? Wulan rak apik to?" Tanya ibu.


Aku bergegas ke luar rumah dan bilang ke ibu, "kita doakan yang terbaik buat adik ya, Bu…".


Tak lupa kusalami ibu. 


Kukuatkan hatiku untuk mengakhiri kebohongan demi kebohongan. Dengan dibantu tetangga dan sahabat-sahabat.


***

Pagi harinya, aku pulang ke rumah. Kulihat tetangga dan teman-temanku di sana. Ibu masih terlihat tenang meski ada rasa penasaran dari raut mukanya.


Dengan pelan aku mengabarkan kepada ibu tentang Wulan. 


"Bu, Wulan sudah nggak ada," ucapku singkat.


Ibu menatapku, tak percaya.


"Kowe mesti ngapusi ibu," ujar ibu sambil menggelengkan kepala dan tangisnya mulai pecah'.


Aku meyakinkan ibu. Juga tetangga-tetangga. Wulan sudah dimakamkan pukul 04.00. Aku tak boleh mendekat. Ceritaku kepada ibu.


"Ibu yang sabar ya. Dik Wulan sudah tenang di surga…"


Ibu menjadi histeris ketika mendengar ucapan tetangga kami. Kupeluk ibu. Sambil menangis, kucoba untuk menguatkan ibu.


"Njur mbak-mbakmu dho wis ngerti apa durung, le?" Tanya ibu, setelah kondisi ibu sedikit tenang.


Aku mengangguk pelan. Kuusap air mata ibu. Kugenggam erat tangan yang telah mengeriput itu.



Friday, September 03, 2021

Ibuku, Guruku

ilustrasi: origami.co.id


Duduk di kelas IV selama dua bulan ini tentu membuatku sangat bahagia. Ya... meski hampir satu semester pembelajaran secara online atau PJJ, aku bisa naik kelas. Alhamdulillaah.

Aku yakin teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Tidak masuk sekolah setiap pagi tentu membuat kami bahagia. Tetapi itu hanya pada awal pembelajaran online. Lama-lama aku bosan sekali.

Setiap hari hanya bertemu kakak perempuan dan adikku. Kakakku sekarang kelas VI. Sedang adikku sekarang harusnya sudah masuk sekolah di PAUD.


***

"Tugasnya segera dikerjakan, Fa." suara itu mengagetkanku. Maklum, aku baru konsentrasi menonton televisi. Setiap pagi aku menonton film kartun kesukaanku. Mulai dari Omar Hana, Riko sampai Adit Sopo Jarwo.

"Iya, bu. Nanti..."

Aku selalu menunda waktu untuk mengerjakan tugas. Tugas dari guruku sebenarnya tidak banyak. Tetapi justru itulah yang membuatku semakinsenang menunda-nunda pekerjaan.

Setelah puas menonton televisi, aku minta uang untuk jajan. Nah...kalau sudah dikasih uang jajan, aku mampir di rumah simbah. Biasanya aku di rumah simbah sampai sore.

Lagi-lagi aku menonton televisi di rumah simbah. Tak ada bosan-bosannya aku menonton televisi. Apalagi kalau mbak Lis, saudara sepupuku ke rumah simbah juga. Atau Kekey menyusulku. Tambah semangatlah aku dalam menonton televisi.

***

Suatu sore, di rumah simbah.

"Fa, gurumu siapa?"tanya simbahku.

Kebetulan ibu ke rumah simbah juga bersama adikku. Ibu mengawasi adik yang berlarian ke sana-kemari.

"Ibu," kujawab singkat pertanyaan simbah.

"Lha gurunya ibumu sendiri. Terus kamu sudah mengerjakan tugas apa belum?"

Aku tak menjawab. Hanya isyarat gelengan kepala.

Simbah hanya tertawa. Tak lama simbah menasehatiku.

"Kalau gurumu di sekolah itu ibumu sendiri, harusnya kamu lebih rajin. Setiap hari kan ketemu dan diajari bu gurumu," begitu nasehat simbah.

Ibu yang tadinya wira-wiri mengikuti adikku mengomentari perkataan simbah.

"Kalau Ifa ngeyel ya nggak dinaikkan ke kelas V, mbah," ucap ibuku.

Aku masih belum paham. Kenapa aku nggak bisa naik kelas? Bukankah aku tetap mengerjakan tugas? Meski tugas itu kukerjakan sore hari, kalau bapak pulang kerja. Aku paling takut kalau bapak marah karena aku belum mengerjakan tugas.

"Yang dinilai itu bukan hanya pekerjaan setiap mata pelajaran, Fa," kata ibu.

Ah...aku merasa ibu berbohong padaku.

"Kalau nggak percaya, tanya sama bulik saja."

***

"Fa, kalau bulik menilai dan menulis nilai di rapor itu juga ada nilai sikap. Nilai sikap itu ada macam-macam. Kedisiplinan, ketertiban dan masih banyak lagi. Kalau nilainya nggak baik pasti murid bulik nggak naik kelas. Makanya kamu harus tertib kalau mengerjakan tugas. Jangan lupa, bantu ibu dan bersikap yang baik sama ibu-bapak di manapun," terang bulik.

Aku memang suka ngeyel. Malah kadang marah kalau diingatkan ibu untuk membantu, merapikan kamar, membereskan mainan adik.

"Kamu pingin pinter dan naik kelas nggak," tanya bulik kemudian.

Aku mengangguk.

"Berarti kamu harus melakukan yang bulik bilang tadi..."


***

Keesokan paginya.

"Bu, sudah ada tugas apa belum?" aku bertanya kepada ibu.

"Belum. Sebentar lagi ya, Fa."

Mulai sekarang, aku akan lebih disiplin dan tertib kalau mengerjakan tugas. Juga akan menghilangkan kebiasaan marah-marahku kepada ibu. Aku sayang ibu, yang juga menjadi guru kelasku saat ini.




Thursday, September 02, 2021

Tangan Kiri

 Tangan Kiri

Kisah tentangmu seakan tak ada habisnya. Meski ada sesuatu hal yang kau rahasiakan selama hidupmu. Tak tahu, apakah kau ceritakan pada Bulik atau malah kau adukan keluh kesah, dan tangismu kepada Illahi.


Yang kuingat kau pernah mengurung diri di kamarmu sendirian. Tidur terpisah dari bapak. Beberapa hari kau lakukan itu. Sampai kutanyakan kepada bapak. Tak ada jawaban darinya.


Aku yang waktu itu masih SD hanya berpikir, apakah ada kesalahan dariku hingga kau marah dan tak mau menemaniku. Hingga akhirnya tanpa sengaja kau keluar dari kamar. Tak ada senyum dari wajah cantikmu. Kulihat matamu sembab. 


Entahlah apa yang terjadi. 


***

Kuingat saat aku membuatmu kesal, pasti kau hukum. Pantatku kau cethot. Rasanya sakit. Dan itu membuatku jera melakukan perbuatan jelek. Aku takut kalau akan mendapat hukuman lagi.


Setelah beberapa hari mengurung diri akhirnya kau kembali dengan wajah yang sedikit demi sedikit cerah. 


***

Masa SMPku, sering kali kau ajak aku terjaga di malam hari. Shalat tahajud. Meski dengan berat hati dan mata yang masih pedih, kuikuti ajakanmu itu. Semula tahajud kita laksanakan secara berjamaah karena waktu itu aku belum begitu mengenal shalat Sunnah. 


Rangkaian doapun kau tuliskan pada lembaran kertas. Lembaran itu lalu kau fotokopi di Karangmojo. Tentunya bersama Bulik. Kau sama sekali tak bisa mengendarai motor. Ke manapun kau pergi, termasuk ke sekolah luar biasa, pasti diantar jemput Bulik. 


"Iki diwaca nek bar shalat," begitu katamu saat menyerahkan tulisan berhuruf Hijaiyah. 


"Masa berdoa sambil baca, Bu…" 


"Tak apa. Kamu baca tulisan itu terus. Lama-lama kamu hafal…"


Dan benar, dengan seiring berjalannya waktu, aku hafal. Jadi kertas berisi rangkaian doa itu tak kubaca lagi. Cukup dengan hafalanku.


***

Masa SMA aku bersekolah di Wonosari. Karena jarak yang cukup jauh dan aku belum bisa berkendara, kau carikan kos untukku. Kepulanganku kau tunggu di setiap Sabtu sore. 


Kutahu kau merasa ada yang hilang saat aku kos. Begitu juga saat aku berkuliah di Yogyakarta. Aku tinggal di perumahan yang kau beli bersama bapak. Selama empat tahunan aku di sana. Dan sama, kau selalu menantiku di Sabtu sore.


***

Rona bahagia ketika satu persatu keempat putrimu menyelesaikan kuliah. Senyum indahmu kini kulihat dalam album foto. 


Ya...kau telah berpulang di penghujung bulan Januari. Setelah perjuanganmu untuk sembuh setelah serangan stroke pada Juli duaribu sepuluh.


Stroke yang membuat aktivitasmu terbatas. Berjalan dengan tongkat. Ke masjid dengan diantar aku atau saudara lain dengan kursi roda. Shalat pun kau lakukan di luar serambi masjid. Belum ada tempat khusus untukmu mendirikan shalat di sana.


Stroke juga membuatmu melakukan segala aktivitas dengan tangan kiri. Aku tahu, beraktivitas, termasuk makan, dengan tangan kiri membuatmu tak nyaman.


"Kalau makan pakai tangan kanan. Kalau dengan tangan kiri kayak setan." Nasehatmu kalau aku dan saudara-saudara makan dengan tangan kiri.


Pasti ada dilema di hati dan pikiranmu. Apalagi saat berkunjung ke rumah Bulik atau tetangga, pasti kau tolak minum atau makan. Kau gelengkan kepala sambil tersenyum, "nanti saja. Aku belum lapar. Belum haus".


"Nggak apa-apa, mbakyu." Kata Bulik.


"Kayaknya ibu malu karena makan minum dengan tangan kiri, Lik." 


**

Ibu, kini kau tak merasakan malu lagi. Kau sehat lagi. Kau sembuh. Tapi tak di dunia ini. Tangan kananmu sudah pulih. Kau tak makan minum dengan tangan kirimu.





Perempuan Tua yang Teguh

 Perempuan Tua yang Teguh

Aku berada di depan rumah yang reot sudah termakan oleh waktu, maupun musim dan cuaca. Suasana rumah tampak lengang. Pintu kayu yang tak lagi bisa menutup sempurna tak dipedulikan sang pemilik rumah.


Mbah Umi. Kami biasa menyapanya begitu. Sosok perempuan tua tangguh, sekalipun anak-cucunya jarang menjenguknya. Sedangkan suaminya tahun lalu meninggalkannya. Suami Mbah Umi meninggal dunia. Orang kampung menyebut kalau suaminya meninggal karena virus Corona.


Mbah Umi yang sudah hafal dengan kesehatan suaminya tak mempedulikannya. Sekalipun suaminya dikebumikan sesuai protokol kesehatan dari rumah sakit.


"Ana Corona apa ora, kabeh uwong mesti mati (Ada Corona apa tidak, semua orang pasti akan mati)," begitu gumamnya.


Mbah Umi sangat sedih ketika tak bisa menunggui suaminya yang dirawat di rumah sakit. Maklumlah, selama ini mereka tak pernah berpisah. Ke sawah selalu bersama. Menikmati nasi lauk sayur lombok dan kerupuk saat tiba waktu makan, sambil melihat padi yang mulai menguning.


Kesedihan Mbah Umi semakin bertambah. Dia tak boleh ke manapun. Padahal dirinya merasa sehat-sehat saja. Sama sekali Mbah Umi buta dengan berita yang seakan meneror mental manusia dua tahun ini.


Beruntungnya Mbah Umi masih memiliki lahan sempit di sebelah utara rumah reotnya. Selama karantina mandiri itu, Mbah Umi menanam ketela pohon dan kacang tanah. Semua dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan dan kesedihan karena tak bisa mendampingi suaminya yang sejak lama sakit-sakitan.


***

Bicara tentang Mbah Umi seakan tak ada habisnya. Anak-anaknya sudah sukses semua. Mereka mau merenovasi rumah reot sang ibu.


"Kowe oleh mbubrah omahku nek aku wis kepundhut (kalian boleh mengubah rumahku kalau aku sudah mati)," ujar Mbah Umi yang ditawari rencana oleh sulungnya. Si sulung dipercaya sebagai anak yang paling didengar Mbah Umi. Ternyata, "rayuan" si sulung untuk memperbaiki rumah orangtuanya gagal.


Ya .. seperti saat ada kegiatan bedah rumah dari desa.


"Biar lebih layak, Mbah," pak dukuh mencoba memberikan pengertian kepada warganya ini. 


"Gubuk kula taksih layak, pak. Ngapunten. Kula mboten remen menawi dimesakke mekaten (rumah saya masih layak, pak. Maaf. Saya tak mau kalau dikasihani…"


Akhirnya pak dukuh angkat tangan. Beliau sangat menghormati pendirian Mbah Umi. Beliau mengagumi Mbah Umi dan suaminya. Di saat warga lain yang dinilai lebih mampu saja sering ribut kalau dana bantuan tidak segera cair. Mbah Umi dan suami malah berkebalikan.


"Wonten warga ingkang langkung mbetahke bantuan, pak. Kula mboten mawon (Ada warga yang lebih membutuhkan bantuan, pak)."


***

Takbir Idul Adha berkumandang sayup-sayup dari beberapa masjid di kampung Mbah Umi dan sekitarnya.


Aku bersama beberapa warga tengah mempersiapkan kegiatan penyembelihan hewan kurban esok hari. Kembali lagi terngiang di telingaku saat tadi siang aku ke rumah Mbah Umi.


Mbah Umi terlihat bahagia. Senyum terpancar dari wajahnya. Ya... kebahagiaan itu selalu hadir. Apalagi saat Idul Adha seperti kali ini.


"Ini kambing saya, pak dukuh. Tolong dibawakan ke panitia kurban ya…"


Aku tertampar. Rumahku lebih dari kata layak, keuanganku juga lebih layak. Namun aku juga warga lain kalah dengan Mbah Umi yang hampir setiap tahun berkurban. 


***

"Kula kepingin digangsarke menawi dipun pundhut Gusti Allah (saya hanya ingin dimudahkan kalau sakaratul maut)," terang Mbah Umi tentang motivasinya berkurban setiap kali Idul Adha tiba.


#Cerpen jora #fiksi idul Adha #kpb #ppb



Pulang Bukan Untukku

 Pulang Bukan Untukku


Kalau dikatakan dekat, kita memang dekat. Kita sering berkomunikasi meski hanya lewat pesan singkat pada jam-jam tertentu. Meski tak lama, namun kau telah menyemikan kuntum cinta di hatiku. 


Sesekali suaramu kudengar jika kau meneleponku. Tak karuan perasaan hatiku. Antara bahagia dan perasaan ragu hinggap di hatiku.


Aku merasa kita dekat tapi tak sepatah kata cinta terucap. Jauh dari semua itu. Seperti jauhnya jarak tempat kerjamu dan tempat kerjaku. Keraguan semakin menjadi. 


"Nanti lebaran haji aku pulang lho. Aku ke rumahmu ya," ucapmu suatu saat.


***

Hari demi hari kulalui tanpa ingin memikirkanmu. Tak selalu kupegang ponsel. Aku benar-benar ingin memastikan rasaku. 


Kalau sudah kulakukan seperti itu kau kembali intens menghubungiku. Kembali kurasa kalau kau jauh tetapi dekat di hati. Namamu begitu melekat di ingatan. Namun aku tak ingin berharap banyak dari hubungan kita. Keraguan tak bisa hilang dari hatiku.


Benar, Allah sesuai prasangka hambaNya. Ketidakyakinanku atas hubungan kita, berakhir duka di penghujung bulan Dzulhijjah. Di bulan Dzulhijjah atau bulan haji di lingkungan kita sering dimanfaatkan untuk acara walimahan atau pernikahan.

**

"Sekarang ada acara ngundhuh mantu di rumah pak Kirno, dik. Kamu nggak datang?" Sebuah kabar dan pertanyaan dari tetanggamu, yang juga temanku, membuat hancur hatiku. 


Ternyata kau pulang untuk menikahi pujaan hatimu. Kau pulang, tapi bukan untukku. Saat itulah aku tersadar bahwa aku memang bukan siapa-siapa bagimu. 


Apalah aku bagimu? Apa yang kau ucapkan hanya gurauan yang dengan bodohnya menyelinap pelan ke relung hatiku. Kubiarkan rasa itu semakin dalam.


Anganku yang melayang, tiba-tiba terjerembab begitu saja. Kirno itu nama ayahmu. Pak Kirno juga sahabat karib bapakku saat masih kanak-kanak dulu di kampung kelahiran mereka. Kau satu-satunya putra pak Kirno.


"Selamat bahagia untukmu," bisikku lirih di antara rasa pedih di hatiku. 





Perpustakaan Kampus dan Lapangan Sepakbola

 Perpustakaan Kampus dan Lapangan Sepakbola


Lekat di ingatanku, kita sering ke perpustakaan kampus saat jam kuliah kosong. Sekadar membaca novel atau mencari buku literatur untuk tugas kita. Di ruang baca. Ruang baca perpustakaan kebetulan bersebelahan dengan lapangan Fakultas Ilmu Keolahragaan. 


Di sela membaca, kita mengamati para mahasiswa program studi olahraga. Yang kuingat, mereka sering bermain sepakbola di bawah terik matahari.


Dari beberapa mahasiswa yang berolahraga itu ada sosok yang kamu kagumi. Aku tahu. Kamu memberitahukannya padaku.


Kita memperbincangkan sosok itu. Fathurrahman namanya. Sering kamu sapa Rahman. Kita memandangi Rahman dan teman-temannya. Sesaat lalu Rahman memandang ke arah jendela perpustakaan yang saat itu berupa jendela bening. Siapapun di dalamnya pasti terlihat.


Senyum Rahman yang manis membuatmu benar-benar fall in love. Aku mengambil kesimpulan kalau kamu ke perpustakaan kampus tujuan utamanya mau melihat Rahman. Mencari buku literatur untuk tugas hanya tujuan sampiran.


Buktinya kamu sering tak membaca buku dan mencatat kalimat yang akan menjadi kutipan di tugas makalah. Apalagi kalau tugasnya berkelompok atau berdua. Pasti kamu buru-buru menggamitku. Artinya aku harus sekelompok denganmu. Dengan begitu kamu bisa "titip nama" di makalah kelompok.


Ah...sudahlah. Kukira tak perlu kubahas lagi tentang hal itu. Apalagi membahas tentang Rahman. 


Namun kini kuingat lagi, saat kamu minta tolong diajari membuat tulisan yang bagus. Permintaanmu itu merupakan kali pertama kamu minta tolong setelah sekian puluh tahun tak bersua. Aku memang iseng mengunggah karya pertamaku di Facebook. 


"Kapan-kapan kita ke perpustakaan kampus yuk. Sambil melihat mahasiswa yang main bola," candaku saat membalas komentarmu.


***

"Sudah. Nanti luka lama muncul lagi, dik". Suamiku, mas Fathur, memberikan masukan padaku setelah mengetahui komentar demi komentar pada akun Facebook-ku.


Ya… saat akhir masa kuliah kita berseteru. Kamu marah besar padaku. Kamu menganggap aku pagar makan tanaman dan sebutan lainnya yang menyakitkan. 


Waktu itu, saat kita wisuda, Rahman sapaan pujaanmu menemuiku. Dibawakannya buket bunga merah muda untukku, bukan untukmu.


Alhasil, di hari bahagia kita, berubah menjadi kesedihan. Kamu marah. Sementara aku terpaku di dekat menara Gedung Rektorat. Orangtua dan saudara-saudaraku tengah beristirahat di sisi timur Rektorat.


Tak kuterima buket bunga merah muda dari Rahman. 


***

Cinta segitiga mewarnai persahabatan kita. Kamu mencintainya. Dia mencintaiku. 


Lalu bagaimana denganku?


Jika kita menonton film Bollywood Kuch-kuch Hota Hai, aku menjadi Tina-nya. Tentu kamu ingat itu. Aku yang semula tak begitu mengenal dan mencintai Rahman-mu, karena aku KKN di kelompok yang sama dengannya, bersemilah cinta itu.


Namun perasaan itu kupendam. Sakit rasanya. Tapi demi persahabatan, aku rela menyembunyikan perasaanku.


***

"Itu masa lalu. Nggak usah ke perpustakaan lagi. Toh kamu sudah melihatku setiap hari di rumah 'kan?"


"Iya, mas Fathur…"


Rahman atau Fathur memang kutemui setiap hari. Sering mengajak jagoan-jagoannya, yang juga jagoanku, bermain bola di halaman rumah.