Showing posts with label fabel. Show all posts
Showing posts with label fabel. Show all posts

Wednesday, November 11, 2020

Persahabatan di Dunia Rusa -9

Ilustrasi: dongengceritarakyat.com

Bermain Bersama Sahabat Baru

Memiliki sahabat baru tentu sangat menyenangkan. Ya meski harus beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan kebiasaannya yang asing.


Sahabat baru di hutan ada Rusa Timor dan Timorensis atau Rensis. Keduanya bersaudara. Rusa Timor adalah rusa pemberani. Sedangkan Rensis pemalu dan penakut. Karenanya Rusa Timor sering melindungi Rensis.


"Kamu sangat menyayangi Rensis ya, Timor…" 


"Tentu. Aku akan menjaganya sampai kapan pun."


Rusa-rusa sangat mengagumi Timor. Tetapi Timor tidak sombong karenanya. Dia tetap bersikap baik pada siapapun.


**

"Kamu kok diam saja, Rensis?" Pudu menyapa Rensis yang menyendiri.


Rensis tersenyum. Pudu segera duduk di samping Rensis.


"Kamu mbok cerita sama aku…"


Rensis menggelengkan kepala. 


"Mmm… ya sudah. Kalau begitu kita main kejar-kejaran yuk!" Ajak Pudu.


"Aku nggak mau. Aku pasti kalah dan malu."


***

Pudu dan Rensis akhirnya bermain kejar-kejaran di taman hutan. Baik Rensis dan Pudu tertawa riang.


Tak lama kemudian mereka sampai garis finish.


"Tuh kan, kamu menang Rensis. Kamu hebat!"


"Ah… nggak, Pudu. Aku biasa saja…"


"Itulah hebatnya kamu. Kamu nggak sadar kalau kamu hebat dan rendah hati. Nggak sombong akan kehebatanmu…"


"Benarkah?"


"Iya. Sikapmu baik. Aku senang berteman denganmu."


Rensis tersenyum senang.


"Kalau begitu aku boleh jadi temanmu ya, Pudu?"


"Loh...kan kita memang temenan…" sahut Pudu sambil tertawa riang. 


"Nah… kami semua juga temanmu, Rensis!" Ucap Rusa Ekor Putih.


"Iya. Besok kita main bersama ya…" ajak Sika.


***


Bersambung

#cernakjora #fabel jora #seri binatang #kpb #dunia rusa #persahabatan #rusa



Tuesday, November 10, 2020

Persahabatan di Dunia Rusa -8

Rusa Timor betina. (Gambar: animalpicturesarchive)

Dua Sahabat Baru di Dunia Rusa

Hari menjelang siang, taman hutan ramai seperti biasa. Rusa-rusa masih bermain mumpung hari cerah. Mereka berkejar-kejaran sambil menikmati udara segar. 


Dari kejauhan rusa-rusa melihat Elk tengah berjalan ke arah mereka. Di belakang Elk ada dua binatang yang mirip dengan mereka.


Rusa-rusa yang tengah bermain sejenak berhenti dan berkumpul di tanah yang agak lapang. Mereka penasaran dengan binatang berwarna coklat. Salah satunya bertanduk dan satu lagi tak bertanduk.


"Elk, siapa mereka?" Tanya Rusa Merah.


"Oh, mereka sahabat baru kita…"


Rusa-rusa semakin penasaran. Mereka menunggu Elk dan dua sahabat barunya bicara.


Elk mempersilakan kedua sahabat itu untuk memperkenalkan diri.


"Hai, teman-teman. Perkenalkan, kami dua bersaudara. Aku Rusa Timor. Adikku bernama Timorensis. Kami dari Nusa Tenggara Barat…"


"Selamat datang Timor dan Timorensis," sapa rusa-rusa kompak.


Elk tersenyum.


"Selamat bergabung dengan kami, Timor dan Timorensis…"


***

Malam harinya di gua.


"Huhuuu… Aku takut…" 


Terdengar suara Timorensis di dekat Pudu.


"Cup...cup… jangan nangis, Rensis. Kamu takut apa?" Tanya Pudu yang matanya terlihat menahan kantuk.


"Gelap sekali, Pudu. Lagipula aku biasanya tidur di dekat Timor. Sekarang nggak lagi. Huhuuuu…"


Timorensis menangis sesenggukan. 


"Sebentar ya, Rensis…"


Pudu meninggalkan Timorensis dan menuju tempat berebah Rusa Tutul. Rusa Tutul kebetulan juga belum tidur.


"Ada apa, Pudu? Kamu belum mengantuk?" Tanya Rusa Tutul.


"Aku ngantuk, Tutul. Tapi baru saja mau tidur, Rensis menangis ketakutan…"


"Lho kenapa?"


Pudu menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum.


"Sama sepertiku dulu, Tutul. Hehe…"


"Takut di tempat gelap?"


Pudu mengangguk.


***

"Terimakasih, Tutul. Kamu mau mengalah demi Rensis. Kamu baik sekali," ucap Pudu.


"Kamu juga baik banget, Pudu. Hoaaaamm. Yuk kita tidur biar bangunnya nggak kesiangan…"

***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -7

Rusa Air dari Cina, sumber gambar: zoochat.com

Perselisihan Rusa Air dan Rusa Tutul

Rusa Air atau sering disapa Sair terlihat cemberut. Tak seperti biasanya. Kesehariannya Sair sangat riang dan ramah meski dia memiliki taring tajam. Sair memang unik. Mungkin merupakan jenis rusa satu-satunya yang bertaring.


Karena bertaring, teman-teman Sair selalu berhati-hati dalam berbicara atau bersikap pada Sair. 


"Selama kalian baik, aku tidak akan marah atau menggigit kalian, teman." Sair menjelaskan tentang kebiasaannya.


"Tapi kalau aku kesal, aku bisa saja menggigit kalian…"


"Iya, Sair. Kami akan tetap berteman denganmu," ucap Rusa Sika. Rusa Sika memiliki ciri khas pada kaki dan kepalanya. Kaki kecil dan kepala Rusa Sika yang sangat kecil.


"Terimakasih!" Sair tertawa sambil berteriak riang.


***

"Sair, kamu kenapa?" Tanya Elk.


"Aku sebal sama Tutul!"


Elk menatap Sair. Elk maklum pada Sair karena Rusa Tutul memang belum sepenuhnya berubah. Kadang masih saja sombong atau mengejek teman-temannya meski Rusa Tutul sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Kamu sabar ya, Sair. Aku nanti akan ingatkan Tutul."


"Benar ya, Elk. Aku nggak mau kalau aku diejek karena punya gigi yang beda dengan kalian…" 


"Kamu tenang saja, Sair. Kami tetap menyayangi kamu kok. Kan kamu juga baik hati…" hibur Rusa Merah.


***

Matahari sudah berada di atas kepala. Meski panas tetapi rusa-rusa bermain di taman hutan. Mumpung belum mendung atau turun hujan.


Kalau mendung atau hujan, pasti mereka mengamankan diri di gua. Selain menghindari hujan angin, mereka juga menghindari petir yang mengerikan.


Di sudut taman hutan, Rusa Tutul menjerit kesakitan. Dia juga menangis. Lehernya mengeluarkan darah meski tak banyak.


Di depannya berdiri Sair dengan nafas terengah-engah. Dia terlihat marah kepada Rusa Tutul.


Sementara rusa-rusa lainnya menuju tempat Rusa Tutul dan Sair berdiri.


**

"Ayo, sekarang kalian bersalaman!" Seru Elk.


Dengan ragu Rusa Tutul dan Sair bersalaman.


"Kalian ingat-ingat, kalian tidak boleh bertengkar lagi seperti tadi. Paham kalian?"


Rusa Tutul dan Sair mengangguk.


"Iya, Elk. Aku janji, nggak akan mengejek Sair lagi…"


"Bagus! Kalau kamu ulangi lagi, kamu akan mendapat hukuman. Membersihkan tempat tinggal darurat kita!"


"I--iya, Elk…"


Sair yang tadi terlihat kesal, sekarang sudah mulai tenang.


"Aku juga nggak akan marah dan menggigitmu lagi, Tutul. Maafkan aku ya…"


Elk lega. Sair dan Rusa Tutul rukun. 


"Semua makhluk hidup pasti ada sisi baik dan jelek. Nggak ada yang sempurna. Yang baik ya diteruskan. Tapi kalau jelek ya nggak boleh dilanjutkan. Oke ya!"

***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -6

Ilustrasi: erabaru.net


Usulan Elk

"Jadi benar kamu mau tidur di pojokan lagi?" Tanya Elk di depan pintu gua. Elk meyakinkan bahwa Pudu memang sudah berani tidur di tempat yang agak gelap.


Pudu mengangguk dengan cepat.


"Boleh aku tahu, alasannya apa?" 


"Mmmm… kasihan Tutul, Elk. Rumahnya hancur tertimpa batu dan pohon…"


"Baiklah kalau begitu…"


Rusa Tutul yang sedari tadi diam, menyela pembicaraan Elk.


"Harusnya yang tidur di pojokan itu aku, Elk. Jadi biarlah aku saja yang di pojokan nanti malam…" 


***

Elk bingung dengan pendirian dua temannya itu. Dia mondar-mandir di depan Rusa Tutul dan Pudu.


"Mmm… begini saja. Kalian bergantian tidur di pojokan guanya. Biar adil…"


"Maksudmu?" Tanya Pudu dan Rusa Tutul hampir bersamaan.


"Tadi malam kan Pudu yang tidur di pojokan gua. Nah...nanti malam gantian Tutul. Terus besok Pudu yang tidur di pojokan dan seterusnya…"


Rusa Tutul dan Pudu mengangguk, tanda setuju usul Elk.


Elk senang karena Rusa Tutul sudah mulai bisa belajar mengalah dan tidak sombong. Elk berharap Rusa Tutul bisa mengubah kebiasaan jeleknya dan menjadi anak yang baik pada siapapun.


***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -5

Ilustrasi: agussas.wordpress.co

Rumah Rusa Tutul

Rusa Tutul segera pergi dari gua, tempatnya tidur semalam. Dia merasa tubuhnya nyaman karena semalam bisa tidur nyenyak dan hangat.


"Aku pulang sekarang. Semoga nanti nggak hujan angin lagi. Aku nggak betah kalau harus bersama Pudu dan teman-teman tidur di gua lagi…"


Rusa Tutul berjalan pelan menuju rumahnya sambil melihat keadaan hutan yang agak berantakan karena hujan angin kemarin sore dan tadi malam.


"Pasti nyaman sekali kalau tidur di rumah indahku. Aku akan menyingkirkan batu di dekat pohon sekitar rumah. Jadi, aku bisa tidur di rumah deh nanti…"


Rusa Tutul bersiul riang. Dia menganggap kalau rumahnya selamat dari bencana.


***

"Ya Allah. Apa yang terjadi dengan rumahku?" Teriak Rusa Tutul. Air matanya tak bisa ditahan lagi. Ya...Rusa Tutul akhirnya menangis.


Rusa Tutul sedih karena rumahnya tertimpa batu besar yang kemarin tertahan oleh pohon. Pohon yang menahan batu juga menimpa rumahnya.


"Huhuuuuu… bagaimana ini bisa terjadi? Harusnya kemarin batu itu kusingkirkan dulu sebelum pergi… huhuuuuu…"


**

"Sabar ya, Tutul. Kamu tidur dengan kami lagi di gua ya…" hibur Pudu.


"Aku nggak mau! Aku mau di rumah. Huhuuuuu…"


"Iya. Kamu tidur di rumahmu kalau sudah aman dan sudah diperbaiki ya!"


Rusa Tutul memandangi Pudu.


"Tenanglah. Kamu bisa tidur di tempatmu semalam. Aku tidur dekat Rusa Merah lagi saja…"


"Tapi nanti kamu nggak nyenyak lagi tidurnya. Aku bisa dimarahi Elk dan Rusa Merah…"


Pudu tersenyum.


"Nggak, Tutul. Nanti aku bicara dengan mereka…"


***

Mulut gua sudah terlihat di mata Pudu dan Rusa Tutul. Rusa Tutul ragu untuk melangkah lagi.


"Ayuk, Tutul. Aku pasti bicara dengan Elk dan Merah…"


Rusa Tutul belum juga melangkahkan kakinya.


"Emmmm… Pudu, sebaiknya kamu yang tidur di dekat sisa bara api ya. Aku di pojokan saja…"


"Kok begitu?"


"Iya. Yang penting aku bisa tidur saja. Kasihan kamu kalau nggak tidur nyenyak lagi…"


Rusa Tutul dan Pudu berpandangan.


"Sudahlah. Itu gampang! Yang penting kita masuk gua dulu ya! Tuh... langitnya sudah gelap. Sebentar lagi pasti hujan…"

***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -4

Pudu. Sumber: ayobogor.com

Bermalam di Tempat Tinggal Darurat

Malam semakin larut, rusa-rusa telah bersiap untuk tidur setelah makan malam. Sementara api unggun yang dinyalakan sejak petang, kini tinggal sisa baranya. Meski begitu, hawa dalam gua masih tetap hangat.


Rusa Tutul memilih tempat di dekat bara api untuk tidurnya. Namun oleh Rusa Merah, Rusa Tutul disuruh pindah tempat.


"Di situ buat Pudu, Tutul…" Rusa Merah mengingatkan Rusa Tutul.


"Ah… nggak mau. Aku kalau tidur harus terang. Jadi aku tidur di sini saja, yang dekat sisa bara api unggun…"


Sementara Pudu hanya diam meski sebenarnya dia sangat kecewa. Kalau saja Pudu tidak trauma karena adiknya mati saat hujan angin dua tahun yang lalu, dia tidur di mana saja tidak masalah.


"Sudahlah, Merah. Aku tidur dekat kamu saja…"


"Tapi kita di pojokan gua. Pasti gelap, Pudu…"


"Kan ada kamu, Elk dan teman lain. Aku pasti berani kok…"


Pudu tersenyum pada Rusa Merah.

**

Pagi harinya. Rusa Tutul masih tidur. Sedangkan rusa-rusa lainnya sudah bangun sedari Subuh. Ya...mereka tetap mendirikan shalat. Malah mereka bisa shalat berjamaah.


Selepas shalat Subuh mereka berbincang sambil melihat situasi di luar gua.


"Wah… rupanya hujan semalam membuat pohon banyak yang roboh ya…"


"Iya. Syukurlah kita aman dari bencana…"


"Betul, Putih. Meski rumah kita hancur, kita tetap sehat. Perkara rumah, besok bisa dibangun lagi…"


"He em… hoaaahhh…" Pudu mengiyakan, lalu menguap lama sekali.


"Hei, Pudu. Kamu sepertinya mengantuk banget…"


"Hehehe… iya, Elk. Semalam aku nggak bisa tidur nyenyak…"


"Lho kenapa?"


"Dia tidur di pojokan sama aku, Elk. Tutul itu mengambil tempat tidur Pudu…", sahut Rusa Merah.


"Nanti biar aku nasehati Tutul ya, Merah-Pudu…"


"Ah… nggak apa-apa kok. Biar nanti malam aku tidur di pojokan gua lagi. Aku berani kok…"


"Berani tapi kan akhirnya nggak bisa tidur. Iya kan?"


***

Rusa-rusa kembali ke gua. Rupanya Rusa Tutul baru saja bangun tidur. Dia menggeliatkan tubuhnya.


"Wahhh… sudah pagi rupanya…" ucap Rusa Tutul.


"Ini sudah siang, Tutul. Bukan pagi. Lihatlah matahari sudah tinggi!" Rusa Merah mengomentari ucapan Rusa Tutul.


Rusa Merah terlihat kesal sekali.


"Kamu itu pemalas!"


Rusa Tutul tidak terima dengan ucapan Rusa Merah. Akhirnya mereka bertengkar.


***

"Kenapa kalian berkelahi?" Elk bertanya pada Rusa Tutul dan Rusa Merah.


"Aku kesal, Elk. Dia tidur di dekat sisa bara api. Kasihan Pudu kan? Pudu nggak tidur nyenyak gara-gara dia…"


Rusa Tutul menahan marah. 


"Aku juga tidak bisa tidur di tempat yang gelap. Tahu nggak sih kamu!"


"Tapi kan…"


Elk melerai perselisihan mereka.


"Sudah… sudah!"


Rusa Merah dan Rusa Tutul kaget karena suara keras Elk.


"Begini. Tutul, sejak kemarin tempat tidur sudah dibagi. Memang Pudu kebagian di dekat sisa bara api. Jadi nanti malam dan seterusnya Pudu di sana tidurnya…"


"Yaaa… kok begitu? Kenapa aku nggak diajak membagi tempat tidur? Kalian ini curang!


Elk dan Rusa Merah menggelengkan kepala. 


"Bukankah seharian kemarin kamu nggak ikut kerja bakti? Kami membaginya setelah kerja bakti lho…"


Rusa Tutul terdiam. Dalam hatinya Tutul mengiyakan ucapan Rusa Merah.


"Ya sudahlah. Aku pergi dulu! Aku mau menengok rumahku…"


Rusa Merah mau mengejar Rusa Tutul saking gemas dan kesal. Namun, Elk menahannya. Elk dan Rusa Merah kembali bergabung dengan rusa lain yang tengah bersiap makan bersama.


***

Bersambung


Persahabatan di Dunia Rusa -2

Ilustrasi: Rusa Ekor Putih, sumber gambar: quebecoutfitters.com


Mempersiapkan Tempat Tinggal Darurat 


Rusa Tutul yang ditinggal oleh rusa lainnya akhirnya pulang ke rumahnya. Rumah itu juga dianggapnya paling indah, sejuk dan nyaman dibanding rumah teman-temannya.


Rusa Tutul rupanya memang membangga-banggakan segala hal yang dimilikinya. Sombong, begitu ucap teman-temannya sambil berbisik.


Meski tak disukai oleh teman-temannya, Rusa Tutul tak peduli. 


"Ah...mereka cuma iri padaku. Biarin saja!"


**

Bulan Oktober, musim hujan mulai datang. Di tempat tinggal Rusa Tutul dan teman-temannya sering hujan meski tak begitu deras. Mereka bersuka ria. Ya karena tempat mereka yang daunnya mulai berguguran, kini bersemi lagi. Hawa yang agak panas, kembali sejuk.


"Alhamdulillah sudah mulai hujan ya, Elk." Ucap Rusa Air.


"Iya. Alhamdulillah…"


"Tapi kita harus hati-hati. Soalnya pasti akan sering terjadi hujan angin…"


"Kamu benar, Elk. Kita harus punya tempat tinggal darurat. Siapa tahu ada angin ribut," sahut Rusa Air.


"Kalau begitu, besok pagi kalau tidak hujan kita berkumpul di taman hutan ya. Usahakan semua datang. Kita akan rapat untuk menghadapi musim hujan ini."


"Aku siap mengundang teman-teman, Elk!" Pudu yang baru saja bertemu dengan Rusa Air dan Elk menyanggupi untuk mengundang teman-temannya.


***

Keesokan harinya, atas bantuan Pudu, rusa terkecil di hutan itu, akhirnya rusa-rusa berkumpul di taman hutan. Kebetulan cuaca cerah.


Acara pun dimulai dan dipimpin oleh Elk, si rusa paling besar dan berwibawa.


"Seperti biasanya, saat musim hujan kita harus menyiapkan tempat tinggal darurat. Jadi kita harus bergotong royong. Kerja bakti..."


"Kira-kira kapan kerja baktinya, Elk?"tanya Rusa Ekor Putih.


"Pertanyaan bagus, Putih. Menurutku sih secepatnya. Soalnya hujan kadang tiba-tiba datang. Kita tidak bisa mengira-ngira kapan akan hujan."


"Jadi, hari ini saja ya, Elk." Usul Karibu.


"Bagusnya begitu. Coba gimana pendapat teman lainnya?"


***

Siang harinya, cuaca agak mendung. Rusa-rusa di hutan kerja bakti menyiapkan tempat tinggal darurat selama musim hujan. 


Tempat yang dipilih masih sama dengan tempat yang mereka tinggali saat musim hujan tahun lalu. Sebuah gua yang cukup luas. Meski gelap tetapi terasa aman jika ada hujan angin.


Rusa-rusa membersihkan gua. Menata batu-batu di mulut gua agar tak begitu luas. 


Di saat rusa-rusa bekerja bakti, Rusa Tutul tak bergabung. Dia paling malas kalau bekerja seperti itu.


"Lebih baik aku bermain. Kerja bakti bisa bikin capek. Toh aku tak mau tinggal bersama mereka. Sesak. Aku kapok. Kenapa tahun lalu aku mau tinggal bersama mereka. Huh…"


Rusa Tutul sungguh sombong. Dia merasa rumahnya tak akan diterjang angin saat hujan, seperti tahun lalu.


"Rumahku memang kuat. Jadi tak perlu tinggal bersama kalian! Tahun lalu meski ada angin besar kan tidak rusak! Tak seperti rumah kalian! Hahahaha…" ucap Rusa Tutul kepada Rusa Ekor Putih saat diajak ke gua untuk kerja bakti.


"Ya sudah, Tutul. Semoga saja kita aman dari angin ribut…", ucap Rusa Ekor Putih meninggalkan Rusa Tutul. Rusa Ekor Putih kembali bergabung di gua bersama rusa lainnya.


***

Bersambung

Persahabatan di Dunia Rusa -1



Ilustrasi: Wikipedia

Tuhan menciptakan makhluk hidup sangat beragam. Baik sifat, maupun wujudnya. Semuanya harus hidup rukun agar terasa nyaman.


Manusia dari berbagai negara memiliki ciri fisik yang berbeda satu sama lain. Namun bukan berarti boleh menyombongkan salah satu bangsanya. Semua sama di hadapan Allah.


Begitu juga binatang. Harimau saja bisa bermacam-macam, ada Harimau Sumatera, Harimau Jawa, Harimau Putih dan sebagainya.


Nah, rusa juga demikian. Rusa adalah binatang yang sangat kuat. Binatang ini bisa berenang lho. Pasti teman-teman banyak yang tak mengetahuinya.

***

"Lihatlah tubuhku hai, teman-teman! Terlihat cantik dengan bintik-bintik putih kan?" Seru Rusa Tutul kepada teman-temannya, di penangkaran Rusa, di sebuah hutan yang rindang dan sejuk.


Bangsa rusa yang ada di sana bermacam-macam, ada Rusa Ekor Putih, Rusa Merah, Karibu, Rusa Air, Sika Deer, Rusa Elk, Rusa Sambar, Pudu dan sebagainya.


Mereka terlihat tak menyukai Rusa Tutul karena sering menyombongkan dirinya. Tak hanya itu, Rusa Tutul kadang menghina dan mengejek rusa lain.


"Hai, Pudu. Kamu itu lucu tapi kok kecil sekali tubuhmu! Padahal kamu kan boros dan makannya buanyaaak."


Pudu memang jenis rusa yang kecil di dunia. Bukan berarti Pudu bisa diejek seperti itu. 


"Kamu nggak boleh mengejek begitu, Tutul…"


Rusa Elk yang memiliki tubuh lumayan besar sering mengingatkan dan menasehati Rusa Tutul agar mengubah kebiasaan buruknya.


"Ah… kamu juga, Elk. Tubuh kamu juga aneh. Besar banget! Coba kamu berjejer sama Pudu, kayak batu besar dan kerikil. Hahahah…"


Meski sudah dinasehati, Rusa Tutul tetap berperilaku buruk. Karenanya teman-temannya lebih senang meninggalkan Rusa Tutul yang sombong itu. 


***

Bersambung