Showing posts with label Pesantren Ramadan Virtual 1443 H. Show all posts
Showing posts with label Pesantren Ramadan Virtual 1443 H. Show all posts

Sunday, May 01, 2022

Ngaji Hari ini dan One Day One Hadits

 



Tuntunan Berlebaran

 *Tuntunan Berlebaran*


Idul Fitri adalah peristiwa istimewa yang telah ditetapkan oleh Allah menjadi Hari Raya-nya umat Islam. Hari Raya itu disebut “Id” karena pada hari itu Allah Swt mempunyai kebaikan dan kemurahan yang kembali berulang-ulang dan dianugerahkan kepada makhluk-Nya setiap tahun yang membawa kegembiraan dan kepuasan. Kata “Id” yang selalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan ‘hari raya’ menurut etimologinya berarti al-mausim (musim), disebut demikian karena setiap tahun berulang.


Terkait dengan bagaimana cara Islam bergembira pada Hari Raya-nya , berikut adalah tuntunan Nabi seputar ber- ‘Idul Fitri sesuai dengan yang dipahami oleh Muhammadiyah :


*1. Memperbanyak Takbir*

Dalam rangka menyambut hari Idul Fitri dituntunkan agar orang memperbanyak takbir pada malam Idul Fitri sejak terbenamnya matahari hingga pagi ketika shalat ‘Id akan dimulai.

_… Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur._ (Al-Baqarah (2): 185)


*2. Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat.*

Riwayat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma Nabi bersabda :

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

_Dari Nafi', ia berkata bahwa Abdullah bin Umar biasa mandi di hari Idul Fitri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang._ (HR. Malik dalam Muwatho’ 426) 


*3. Berhias dengan Memakai Pakaian Bagus dan Wangi-wangian*

Orang yang menghadiri shalat Idul Fitri baik laki-laki maupun perempuan dituntunkan agar berpenampilan rapi, yaitu dengan berhias, memakai pakaian bagus (tidak harus mahal, yang penting rapi dan bersih) dan wangi-wangian sewajarnya.


*4. Makan Sebelum Berangkat Shalat Idul Fitri*

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ‏.‏ وَقَالَ مُرَجَّى بْنُ رَجَاءٍ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي أَنَسٌ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا‏

Artinya: _"Rasulullah SAW tidak pernah sholat Idul Fitri sebelum makan beberapa butir kurma. Anas juga menceritakan: Rasulullah SAW biasa makan kurma dalam jumlah ganjil."_ (HR Bukhari).


*5. Dianjurkan Berangkat dengan Berjalan Kaki dan Pulang Melalui Jalan Lain:* _"Termasuk sunnah Nabi, pergi ke tempat shalat ‘Id dengan berjalan kaki dan makan sedikit sebelum keluar.”_ [HR at- Tirmidzi]


*6. Pelaksanaan Shalat Idul Fitri Dihadiri oleh Semua Umat Islam*

Pelaksanaan shalat ini dihadiri oleh semua orang Muslim, baik tua, muda, dewasa, anak-anak,laki-laki dan perempuan, bahkan perempuan yang sedang haid, juga diperintahkan oleh Nabi saw supaya hadir, hanya saja mereka tidak ikut shalat dan tidak masuk ke dalam shaf shalat, namun ikut mendengarkan pesan-pesan Idul Fitri yang disampaikan oleh khatib.


*7. Pada Hari raya idul fitri dianjurkan saling mendo’akan antara sesama kaum muslimin* dengan mengucapkan kalimah _“taqabbalallahu minna wa minkum”_ (mudah-mudahan Allah menerima amal kami dan amal kamu).

Ngaji Hari ini dan One Day One Hadits

 





Empat Indikator Taqwa

 *Empat Indikator Taqwa*


Di antara sifat-sifat orang yang bertaqwa disebutkan Allah Subhanahu Wata’ala terdapat dalam Al Quran Surat Adz-Dzariyat  (51) : 15-19.

إنَ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ. ءَاخِذِينَ مَآءَاتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذلِكَ مُحْسِنِينَ. كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ الَليْلِ مَايَهْجَعُونَ. وَبِاْلأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ. وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقُّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ

_“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air. Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah Subhanahu Wata’ala) Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta-minta.”_


*Pertama: Kecerdasan Sosial*

_“Sungguh, sebelum itu, mereka ketika di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.”_

Kebaikan seseorang tidak semata-mata diukur dari hablun minallah, rajinnya ibadah ritual, tetapi harus diimbangi dengan _hablun minannas_. Orang yang baik adalah yang sholih ritual dan sholih sosial. _Sholihun linafsihi wa sholihun lighoirih._ 


Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain (al Hadits); Manusia yang paling baik adalah manusia yang bergaul (lebur) dengan manusia lain dengan tawadhu’ dan sabar atas gangguan mereka :

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا

_"Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu, (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati; dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan."_ (QS.Al Furqan:63)


*Ada dua kunci untuk sukses bergaul (bermuamalah dan bermu’asyarah) yaitu :* *_Salamatush Shadr_* (dada selamat/steril dari penyakit serakah, sombong dan dengki); dan *_Al-Itsar_* (mengutamakan/mendahulukan orang lain dalam urusan dunia). 


*Kedua: Kecerdasan Ruhaniah*

_“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”_

Ia giat dan _mudawamah_ (terus-menerus)  dan istiqomah (konsisten) melaksanakan qiyamullail atau shalat malam. _"Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji."_ – (QS.17: Al Isra’ : 79)


Dengan shalat lail kita bermuhasabah dan menyadari bahwa betapa banyak persoalan kehidupan ini yang tidak dapat dipecahkan hanya dengan menonjolkan ikhtiar lahiriyah dan kecerdasan intelektual. Kita menyadari keterbatasan kapasitas diri kita.  Dan kita merendah di hadapan Allah SWT yang Maha Kuat dan Maha Perkasa. Dan Maha Memiliki segala yang diperlukan hamba-Nya.


*Ketiga: Kecerdasan Emosional*

Mereka beristighfar di waktu sahur.

Ia selalu muhasabah dengan memohon ampun (beristighfar) kepada Allah Subhanahu Wata’ala di waktu sahur (di penghujung malam).  Orang yang cerdas adalah orang yang selalu intropeksi diri dan beramal untuk kehidupan sesudah mati. 


Dengan banyak muhasabah, hisab di akhirat lebih ringan. Karena ia se-lalu minta ditutupi, dihapus kelemahannya oleh Allah SWT. Orang yang memiliki kecerdasan emosional hatinya mudah empati melihat penderitaan orang lain, dan mudah menerima kebenaran orang lain. 


*Keempat: Kecerdasan Finansial*

_“Dan dalam hartanya ada hak bagi peminta-minta, dan orang miskin yang menahan diri dari meminta”._


Ia senang berbagi dan memberi orang-orang yang membutuhkannya. 


Maksudnya, ia gemar bersedekah dan memberikan sebagian rizki yang diberikan Allah SWT kepadanya untuk orang lain yang membutuhkan. Ia yakin dengan memberi sesungguhnya akan memperoleh; Allah SWT  akan menggantinya dan melipatgandakannya.

Konsep Kebahagiaan dalam Surah Al Insyirah

 *KONSEP KEBAHAGIAAN DALAM SURAH AL-INSYIRAH*

       

Setiap  manusia ingin mendapatkan kebahagiaan. Berbagai cara pun mereka tempuh dan kerjakan. Semuanya atas dasar ingin mencapai rasa bahagia itu. Berikut ini beberapa konsep kebahagiaan yang ditawarkan dalam Surah Al-Insyirah atau biasa disebut Alam Nasyrah. 

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

_“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”_ [QS: Al Insyirah [94]: 1]


*1. Kebahagian itu kelapangan dada untuk menerima segala keadaan dengan ridha.*

*2. Allah adalah Zat Yang Melapangkan dada manusia bukan selain-Nya.* Karenanya mencari kebahagian itu di jalan-Nya.

*3. Kebahagiaan itu terletak di hati manusia dan bukan di nalar fikiran*

وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

_“Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu.”_  [QS: Al Insyirah [94]: 2]

*4. Semakin ringan beban yang dipikul oleh seorang hamba menandakan ia kian dekat dengan kebahagiaan.* Dalam al-Qur’an Allah lalu menyamakan dosa-dosa itu dengan sebuah beban yang berat untuk dipikul manusia.


Patut diingat, dosa itu bisa terampuni dengan taubat, meminta ampun (istighfar), dan melakukan amalan-amalan kebaikan yang bisa menggugurkan dosa dan kesalahan.

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

_“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.”_ [QS: Al Insyirah [94]: 3]

*5. Sebutan yang baik niscaya mengundang doa kebaikan dan menjadikan lisan senantiasa memujinya.*

Redaksi ayat _“wa rafa’na”_ (dan Kami tinggikan) juga menyiratkan pesan, sebutan yang baik adalah suatu pemberian bukan perkara yang diminta-minta. Oleh karenanya pujian yang bersifat dibuat-buat itu tak ada manfaatnya sebab ia tak didasari keikhlasan kepada Allah Ta’ala

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

_“Sesungguhnya bersama kesusahan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”_ [QS: Al Insyirah [94]: 4-5]

*6. Seorang Muslim menyadari bahwa tidak ada persoalan kecuali dibersamai dengan jalan keluar, tinggal bagaimana berusaha mencari solusi yang solutif tersebut.*

*7. Kemudahan itu diturunkan tepat bersamaan dengan kesulitan.*

*8. Setiap satu kesulitan diiringi dengan dua kemudahan sekaligus._ (“yusran” bermakna jumlah lebih dari satu).

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

_“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”_ [QS: Al Insyirah [94]:7]

*9. Tak sepantasnya seorang Muslim terlena dengan kekosongan waktu, dalam melakukan aktivitas dan kerja tidak mengenal kata henti dan istirahat untuk meraih dan menggapai pahala dan ridha Allah SWT.*

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

_“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”_ [QS: Al Insyirah [94]: 8]

Kita selalu berharap hanya kepada Allah. Ini mangandung makna bahwa seseorang harus selalu menghubungkan antara kesungguhan berusaha dengan harapan dan kecenderungan hati kepada Allah swt .

Thursday, April 28, 2022

Ngaji Hari ini dan One Day One Hadits

 



Amal Senilai Haji

 *AMAL SENILAI HAJI*


Ibadah haji, salah satu ibadah yang membutuhkan modal paling besar. Jiwa, raga, harta, dan memakan banyak waktu. Sehingga jumlah kaum muslimin yang mampu melaksanakannya, jauh lebih sedikit dibandingkan amal ibadah lainnya. 


Namun, Allah Maha Kaya, Allah Maha Pemurah. Allah berikan kesempatan bagi semua hamba-Nya, untuk mendapatkan pahala haji, sekalipun dia tidak mampu berangkat haji.



Ada beberapa amalan, yang dijanjikan akan mendapatkan pahala haji. Berikut diantaranya :

*Pertama, melakukan rangkaian ibadah seusai shalat subuh*

Dari Anas bin Malik  ra, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

_Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir memuji Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka dia mendapatkan pahala haji dan umrah. Lalu Nabi saw menegaskan: Sempurna..sempurna..sempurna._ (HR. Turmudzi).


*Kedua, kajian di masjid*

Dari Abu Umamah ra, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُ مُعْتَمِرٍ تَامِّ الْعُمْرَةِ، فَمَنْ رَاحَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ فَلَهُ أَجْرُ حَاجٍّ تَامِّ الْحِجَّةِ

_Siapa yang berangkat ke masjid di pagi hari, tdk memiliki tujuan apapun selain untuk belajar agama atau mengajarkannya, maka dia mendapatkan pahala orang yg melakukan umrah sempurna umrahnya. Dan siapa yang berangkat ke masjid sore hari, tidak memiliki tujuan apapun selain untuk belajar agama atau mengajarkannya, maka dia mendapatkan pahala orang yg berhaji sempurna hajinya._ (HR. Hakim).


*Ketiga, Menjaga Shalat Jamaah beserta adab-adabnya*

Dari Abu Umamah ra, Nabi saw bersabda‎,

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ ‏يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ ‏وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

_‎”Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk shalat jamaah dalam keadaan ‎telah bersuci, maka pahalanya seperti pahala orang berhaji dalam keadaan ihram ‎. Dan ‎barangsiapa beranjak untuk melakukan shalat Dhuha dan tidak ada yang ‎menyebabkan dia keluar (dari rumahnya) kecuali untuk shalat Dhuha maka ‎pahalanya seperti pahala orang yang umrah. Dan shalat setelah melaksanakan ‎shalat yang di antara kedua shalat tersebut tidak membicarakan masalah dunia, ‎adalah amalan yang akan dicatat di illiyiin‎._ ‎ (HR. Abu Daud)‎.‏ 


Ada beberapa penafsiran ulama tentan makna kalimat “maka pahalanya seperti pahala orang berhaji dalam keadaan ihram“:


_1. ‎Mendapatkan pahala sebagaimana orang yang haji secara utuh._

_2. ‎Bentuk mendapatkan pjiahalanyanya sebagaimana bentuk mendapatkan pahala dalam ibadah haji._ Dimana ketika ‎orang berhaji, semua usaha yang dia lakukan dinilai pahala. Mulai dari bekal sampai usaha perjalanan. Demikian pula ‎shalat jama’ah. Semua usahanya bernilai pahala, termasuk langkah kakinya. Meskipun pahala untuk dua amal ini ‎berbeda dari sisi banyaknya atau jumlahnya.‎

_3. ‎Orang yang berangkat haji akan mendapatkan pahala haji dari mulai berangkat sampai pulang, meskipun tidak ‎menyelesaikan hajinya, selain wuquf di ‘arafah._ Demikian pula shalat jama’ah. Orang yang berangkat shalat jama’ah ‎akan mendapatkan pahala shalat berjama’ah dari mulai berangkat sampai pulang, meskipun dia tidak mendapatkan ‎jama’ah bersama imam (karena terlambat).

Ngaji Hari ini dan One Day One Hadits

 



Empat Mutiara Manusia yang Bisa Hilang Karena Empat Perkara

 *Empat Mutiara Manusia Yang Dapat Hilang Karena Empat Perkara*

             

اربعةٌ منْ جوارح الإنسان يزيلها بأربعة أشياء:العقل يزيلها الغضب, والدين يزيلها الحسد, والحياء يزيلها الطمع والعمل الصالح يزيلها الغيبة

_Empat macam mutiara manusia yang dapat hilang karena empat perkara lainnya (1) Akal dihilangkan oleh marah,(2) Agama dihilangkan oleh hasad(dengki),(3) Malu dihilangkan oleh tamak,(4) Amal sholeh dihilangkan oleh menggunjing._ (Ibn Hajar Asqalani, Kitab Nashaihul Ibad).


*1. Akal dihilangkan karena marah*

Akal merupakan salah satu hidayah Allah yang diberikan kepada manusia. Dengan akal kedudukan manusia paling tinggi dan utama dibandingkan makhluq Allah lainnya. Dengan akal, manusia dapat membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah, dapat membedakan yang membahayakan dan yang aman. 


Akal sehat seseorang akan hilang apabila tidak dapat mengendalikan amarahnya. Dengan amarah, manusia tidak dapat membedakan yang baik dan buruk, dengan marah seseorang sulit membedakan yang bahaya dan tidak. Hadis Rasulullah SAW menyatakan; “Bukanlah orang kuat karena menang bertarung, tapi orang kuat ialah yang mampu menahan amarahnya”


*2. Agama hilang karena hasud.*

Hasud atau dengki adalah sikap batin yang tidak senang kepada orang lain yang mendapat kenikmatan, sekaligus mengharapkan hilangnya kenikmatan itu dari pemiliknya. Panyakit ini merupakan penyakit tertua, karena sejak manusia pertama ada dimuka bumi, penyakit ini sudah ada. Kita ingat peristiwa dibunuhnya Habil oleh Qabil (putranya Nabi Adam) karena sifat dengki. _”Janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian orang lain lebih banyak dari sebagian yang lain”_ (Annisa 32) Hadis Rasulullah SAW memperingatkan: _“Hasud itu memakan/ menghilangkan kebaikan sebagimana api membakar kayu yang kering”_ (HR. Ibnu Majah)


*3. Malu hilang karena sifat tamak*

Tamak adalah sikap batin seseorang yang tidak merasa puas dengan apa  yang telah dimiliki. Dengan sifat Thoma’ seseorang tidak akan malu melakukan tindakan-tindakan yang melawan hukum dan norma agama, negara, sosial kemasyarakatan dan etika. 

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

_Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu_ (H.R Malik, Ibnu Majah,) 


الْحَيَاءُ وَالإِيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر

_Sesungguhnya malu dan iman adalah kedua hal yang beriringan. Jika diangkat salah satu, maka terangkat yang lain_ (H.R  al-Hakim)


*4. Amal shaleh akan terhapus oleh gunjingan*

Menggunjing dapat menimbulkan permusuhan dan menghilangkan amal soleh. Sifat menggunjing termasuk sifat yang dapat menimbulkan bahaya dan dampak yang bahaya, Allah telah memperingatkan bahwa menggunjing itu bagaikan memakan bangkai saudaranya (Al Hujurat ayat 12).


Dari sahabat Ibnu Umar ra, beliau saw bersabda: _“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya. Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya.”_ (H.R. At Tirmidzi dan lainnya).

Tuesday, April 26, 2022

Ngaji Hari ini dan One Day One Hadits

 







Belajar dari Lebah

 *Belajar dari LEBAH*


 عَبْدُ اللهِ بنُ عَمْرِ وَبْنِ الْعَاصِ اَنَّهُ سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  اِنَّ مَثَلَ الْمُؤَمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ اَكَلَتْ طَيْبًا وَوَضَعَتْ طَيْبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تُكْسَرْ وَلَمْ تُفْسَدْ) رواه احمد( 

_“Dari Abdullah bin Amru bin Ash bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik, hinggap namun tidak memecah dan merusak.”_ (HR. Ahmad)


Lebah adalah serangga berbulu dan bersayap empat dan hidup dari madu kembang. Allah memberi kemampuan pada lebah untuk memakan berbagai jenis buah-buahan dan untuk menempuh jalan-jalan yang dimudahkan Allah bagimya sesuai dengan kemauannya, baik di udara, darat, lembah maupun dipegunungan, lalu kembali kesarangnya tanpa tersesat.


Lebah mengeluarkan madu,dan di dalamnya terdapat obat untuk manusia. Firman Allah :

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَ‌ٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”_ (QS. An-Nahl : 69)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pernyataannya dalam hadits diatas mengisyaratkan agar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Nahl ayat 68 :

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.” (QS. An-Nahl : 68)


*Sifat-Sifat Lebah*.

*Pertama, hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih

Lebah hanya hinggap ditempat-tempat pilihan.* 

Dia sangat jauh berbeda dengan lalat. Serangga yang lain amat mudah ditemui di tempat sampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah tidak, ia hanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat bersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar. Begitu lah pula sifat seorang mukmin, 


*Kedua, mengeluarkan yang bersih

Lebah mengeluarkan madu, dan madu mempunyai khasiat kesehatan untuk manusia.* 

Dia produktif dengan kebaikan, dan hasilnya dapat bermanfaat bagi mahluk lain. Begitu juga dengan sifat seorang mukmin mampu mengeluarkan kebaikan yang dirasakan oleh manusia dan mahluk lainnya.


*Ketiga, tidak merusak*

Seperti yang disebutkan di atas, lebah tidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang ia hinggapi. Begitu pula seorang mukmin, setidaknya ia tidak pernah melakukan perusakan dalam hal apapun baik material atau pun non-material.


*Keempat, tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu*

Lebah tidak pernah memulai untuk menyerang. Ia akan menyerang hanya manakala merasa tergangggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan kehormatan umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnya ditubuh pihak yang diserang. Sifat ini pun setidaknya perlu dimiliki oleh seorang mukmin. _Wallahu a’lam bis-Shawab_

Tiga Pintu Kebaikan

 *Tiga Pintu Kebaikan*


Sesungguhnya diantara nikmat yang paling besar kepada kita adalah dibukakannya berbagai macam pintu-pintu kebaikan. Dan sesungguhnya pintu kebaikan yang disediakan untuk orang beriman itu banyak. 


Diantara pintu kebaikan adalah apa yang disabdakan oleh Nabi SAW :

أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَـى أَبْوَابِ الْـخَيْرِ ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْـخَطِيْئَةَ كَمَـا يُطْفِئُ الْـمَـاءُ النَّارَ ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِـيْ جَوْفِ اللَّيْلِ

 _“Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam.”_

 

*Pintu-pintu kebaikan yang dtunjukkan oleh hadits di atas ada tiga ;*

*1. Puasa*

Di antara nikmat yang besar yg Allah berikan kepada kita adalah bahwa kita diwajibkan puasa sebulan penuh dibulan Ramadhan. Ini adalah nikmat yang agung. Karena dg puasa Allah gugur-kan dosa-dosa kita, dengan puasa Allah SWT angkat derajat kita. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

_”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”._ (HR. Bukhari & Muslim)


Dengan puasa, Allah SWT memberikan banyak sekali keutamaan dan kelebihan-kelebihan. Pendidikan jiwa, demikian pula melatih kesabaran, melatih kedermawanan, demikian pula mensyukuri nikmat berupa makanan sangat sangat agung. Pendeknya orang yang berpuasa dekat kepada kebaikan dan amalan shalih dan menjauh dari kemaksiyatan.


*2. Sedekah*

Sedekah itu bisa memadamkan dosa sebagaimana air bisa memadamkan api. Oleh karena itulah Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang berinfak dijalan Allah. Sedekah akan menjadi tudung/naungan dihari kiamat, disaat matahari sangat dekat diatas kepala manusia. Rasulullah SAW bersabda :

كُلُّ امْرِئٍ فِيْ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ

_“‘Setiap orang berada dibawah naungan sedekahnya hingga manusia diadili oleh pengadilan Allah’_ (HR Ibnu Khuzaimah, Sanad Shahih berdasarkan Sanad Muslim)


Pada ayat terakhir surat al-Munafiqun diceritakan bahwa seseorang yang telah meninggal berharap bisa kembali ke dunia untuk bisa bersedekah saat melihat besarnya pahala sedekah


*3. Shalat malam*

Qiyâmul lail juga menghapuskan kesalahan-kesalahan karena qiyâmul lail adalah shalat sunnah terbaik. Rasulullah tdk pernah meninggalkannya meskipun beliau sedang safar. Rasulullâh bersabda,

 عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَـى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ اْلإِثْمِ ، وَتُكَفِّرُ السَّيِّئَاتِ ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْـجَسَدِ 

_"Hendaklah kalian mengerjakan qiyâmul lail, karena qiyâmul lail adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ibadah pendekat kepada Allah Azza wa Jalla , pencegah dari dosa, penghapus kesalahan-kesalahan, dan pengusir penyakit dari badan"._ HR. at-Tirmidzi.

Hakikat Rizki

 *Hakikat Rizki*


Sesungguhnya manusia dalam mempertahankan kehidupan memerlukan materi berupa pangan, sandang, papan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Islam sebagai agama yang membawa kemashlahatan kehidupan manusia _(rahmatan lil ‘alamin)_ menawarkan konsep tentang rizki manusia antara lain :

*1. Allah menjamin semua rizki makhluk-Nya*

۞وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا 

_“Tidak ada satupun yang bergerak (makhluk) di muka bumi ini kecuali Allah menanggung rizkinya”_ (Q.S. Hud : 6) 


*Adapun bentuk rizki dari Allah meliputi :*

a. rizki yang otomatis diberikan oleh Allah meminta atau tidak (Q.S. Hud : 6).

b. rizki yang diusahakan yakni rizki yang diberikan karena ikhtiar manusia

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ     

_“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yg diusahakannya”_ (Q.S. An Najm : 39 )

c. rizki yang diberikan oleh Allah kepada seseorang karena beryukur

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيد  

_“Dan ingatlah ketika tuhanmu memaklumkan, “ Sesungguhnya bila kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-ku) kepadamu, maka pasti azab-Ku sangat pedih.”_ Q.S. (Ibrahim : 7)

d. rizki orang yang takwa. Inilah nikmat terbaik yang Allah karuniakan kepada manusia yakni nikmat karena ketaatan dan ketakwaan kita kepada Allah. 

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجًا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ 

_“Barang siapa bertakwa kpd Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagi-nya. Dan akan memberinya rizki dr arah yang tidak disangka-sangka"_ (At Tolaq : 2-3)

*2. Setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya.*


Siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Allah :

اَيُهَا النَّاسُ اِنَّ اَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوْتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ

_Wahai Sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatahnya rizkinya_ (HR baihaqi)


Hadis di atas memberikan pengertian bahwa rizki kita terukur dengan masa kehidupan kita sehingga tidak ada rizki yang lebih dan kurang untuk seseorang.


Hakekat rizki adalah apa yang kita konsumsi dan kita manfaatkan, sementara yang kita kumpulkan dan miliki belum tentu menjadi rizki kita.

Saturday, April 23, 2022

Ngaji Hari ini dan One Day One Hadits

 







Berbakti kepada Orang Tua

 *Berbakti Kepada orang Tua*


Manusia sesungguhnya makhluk paling mulia yang Allah ciptakan di muka bumi, kelahiran manusia atas kehendak-Nya melalui orang tua kita yakni bapak dan ibu kita. Maka sudah sepantasnya kita sebagai anak berbakti kepada keduanya. Islam memberi bimbingan kepada umatnya untu berbakti orang tua. 


Adapun cara berbakti kepada orang tua telah dituntunkan oleh Islam antara lain :

*1. Berkata yang baik, menyejukkan serta menyenangkan kepada mereka*

*2. Bertawadhu’ kepada keduanya dan penuh kasih sayang kepada keduanya dan memperlakukan keduanya sebagai orang yang terhormat:*

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرا  

_"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasi sayang dan ucapkanlah “Wahai tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil"._ (Al-Isra(17) : 24)


*a. Berlaku halus ketika melayani mereka penuh senyuman jauhkan dari cemberut..*

*b. Mengutamakan kepentingan mereka dari pada kepentingan kita sendiri apalagi di usia sudah lanjut atau sakit*

*c. Menyisihkan penghasilan untuk merawatnya.*

*d. Tidak membebani mereka dengan masalah-masalah yang kita hadapi.*

*e. Terus berbakti walau orang tua sudah wafat.*


*Jika orang tua sudah meninggal*

Islam adalah agama yang mengatur didalamnya hubungan antar makhluk di dunia juga mengatur hubungan sesudah kematian antara lain berbakti kepada anak bagi orang tua yang sudah wafat antara lain :

*1. Terus mendoakan kedua orangtua*

Yakni memohonkan ampunan dari Allah untuk keduannya serta semoga ditempatkan dalam surga Allah SWT.

اَللَّهُّمَّ اغْفِرْلِى وَلِوَالِدَيَ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيْرًا

_"Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku sebagaimana mendidikku di waktu kecil"_

*2. Bersilaturrahmi ke kerabat dan teman orang tua._

Dengan meninggalnya orang tua kita bukan berarti terputus hubungan persaudaraan dengan kerabat dan kolega orang tua kita, maka menjadi kewajiban kita untuk tetap menyambung silaturrahmi itu karena ada kebaikan-kebaikan di dalamnya.

*3. Melunasi kewajiban, janji terutama hutang-hutang orang tua kita* karena Allah tidak mengampuni tanggungan hak adam sebelum terlunasi baik secara pembayaran maupaun pengampunan.

*4. Menjaga nama baik orang tua kita* dengan merahasiakan hal-hal yang selayaknya menjadi rahasia keluarga, tetap berprilaku baik sebagai bentuk hasil pendidikan dari orang tua kita

Harapan Penghuni Neraka

 *Harapan Penghuni Neraka*


Menurut kabar dari al-Qur'an, neraka itu tempat yang tidak nyaman. Para penghuni neraka itu mengalami siksa yang sangat berat. Karena merasa tidak kuat menerima adzab yang luar biasa mereka menyampaikan permintaan dan harapan.  


*Berikut adalah permintaan penghuni neraka ;*

*1. Minta dikeluarkan dari neraka

Allah berfirman dalam QS. Al-Mu'minun: 107 : رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ

_“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (kembalikanlah kami ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), sungguh kami adalah orang-orang yang zhalim."_


Akan tetapi Allah menjawab permintaan mereka, قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ

_“Dia (Allah) berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.”_ (Surat Al-Mu'minun 108)


*2. Minta untuk dibinasakan*

Ketika permintaan mereka untuk dikeluarkan tidak dikabulkan, maka mereka meminta untuk dibinassakan saja, sehingga dengan dibinasakan mereka tidak perlu merasakan pedihnya azab di neraka, akan tetapi Allah tetap menolak permintaan mereka.

Allah berfirman, وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

_“Dan mereka berseru, “Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.” Dia menjawab, “Sungguh, kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).”_ (QS. Az-Zukhruf : 77)


*3. Minta keringanan adzab*

Begitu pedihnya azab yang dirasakan oleh penghuni neraka, maka Ketika permintaan untuk dikeluarkan tidak dikabulkan kemudian permintaan untuk dibinasakan juga ditolak oleh Allah, mereka pun dengan penuh harap meminta agar sekiranya siksa itu diringankan bagi mereka. Allah berfirman dalam surah Ghafir ayat 49 :

وقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ

_“Dan orang-orang yg berada dlm neraka berkata kpd penjaga-penjaga neraka Jahanam, mohonkanlah kpd Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja"._


*4. Minta minuman pada penghuni surga*

Ketika meminta pada Allah dan para malaikat tidak dikabulkan, maka harapan terakhir penghuni surga adalah meminta pada orang-orang yang menjadi penghuni surga. Allah berfirman,

وَنَادَىٰ أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ ۚ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ

_“Para penghuni neraka menyeru para penghuni surga, “Tuangkanlah (sedikit) air kepada kami atau rezeki apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.mereka menjawab, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir,”_ (QS. Al-A'raf :50)


Dan tentu, harapan ini tidak pernah terwujud. Mereka harus tetap dalam keprihatinan selamanya.

Membalas Kebaikan Manusia

 *Membalas Kebaikan Manusia*


Ketahuilah apabila seseorang yang diberikan kebaikan, maka wajib baginya untuk berterima kasih kepadanya, berdasarkan dalil : _man laa yasykuru an-naasi laa yasykurullaha_ - Barangsiapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kpd manusia, maka tidak bersyukur kepada Allah (HR. Tirmidziy). 


Makna yang terkandung dalam hadits ini adalah bahwa barang siapa tidak mensyukuri (kebaikan) manusia, maka dia layaknya orang yang tidak mensyukuri Allâh Ta’ala. 


*Berikut ini cara berterima kasih kepada orang yang berbuat kebaikan kepada kita:*

*1. Berterima kasih, dan mendoakan kebaikan baginya*


Ketika kita mendapat kebaikan, hendaknya kita mengucapkan jazaakumullahu khayran atau ucapan lain ucapan senada. Berdasarkan hadits:

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ ، فَقَالَ لِفَاعِلِهِ : جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا , فَقَدْ أبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

_“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.”_


*2. Membalas perbuatannya dengan balasan yang setimpal*

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda: *man shana'a ilaikum ma'ruufan fakaafiuuhu* -_Barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah dengan setimpal._ (HR. Ahmad)


*3. Apabila tidak dapat membalasnya dengan balasan yang setimpal, maka hendaknya ia mendoakannya.*


Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

_"Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikannya) dengan kebaikan yang setimpal dan jika kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya kebaikannya maka berdo’alah untuknya sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.”_ (HR. Ahmad)


*4. Senantiasa mengingat kebaikan orang yang pernah berbuat baik kepadanya; dan tidak melupakannya.*

Allah berfirman : _wa laa tansaul fadhla bainakum -_ … _dan janganlah kalian melupakan keutamaan (siapapun) di antara kalian_… (Qs. al-Baqarah/ 2:237). 


Menurut imam Qatadah pengertiannya adalah _"janganlah kalian meremehkan (melupakan) kebaikan diantara kalian._


*5. Menyebut-nyebut kebaikan orang yang pernah berbuat baik padanya.*

Salah satu cara membalas kebaikan orang adalah menyebut-menyebut kebaikannya. Tujuannya adalah untuk mengingat kebaikan orang tersebut dan menginspirasi diri maupun orang lain agar ikut melakukan kebaikan layaknya yang telah dilakukan orang tersebut.


Agar Dan lebih baik TIDAK DIHADAPAN orang tersebut, untuk menyelamatkan orang tersebut dari UJUB, dan juga menyelamatkan diri kita dari sifat _“cari muka”._

Wednesday, April 20, 2022

Ngaji Hari ini dan One Day One Hadits

 



Tanda Ilmu yang Bermanfaat

 *Tanda Ilmu Yang Bermanfaat*


Allah memuliakan ilmu dan ahlinya. Bahkan Allah memulai menurunkan ayat Al Qur'an pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perintah untuk membaca ;

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

_“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,”_ (QS Al-'Alaq; 1).


Ilmu adalah jalan menuju jannah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

منْ سَلَكَ طَريقًا يَبْتَغِي فِيهِ علْمًا سهَّل اللَّه لَه طَريقًا إِلَى الجنةِ 

_“Barang siapa memudahkan langkah kakinya menuju majlis ilmu, Alloh akan mudahkan langkahnya dengan ilmu tsb menuju Jannah.”_ (HR. Muslim 2699)


Semakin besar keinginan seseorang untuk masuk jannah, maka berbanding lurus dengan semakin besar usahanya untuk menuntut ilmu.  Sebab seseorang bisa masuk jannah jika mengerjakan amalan-amalan jannah, dan tidak mungkin beramal jika tidak dilandasi dengan ilmu yg benar.


Namun tidak setiap ilmu menghadirkan kemanfaatan bagi pemiliknya dan bagi orang banyak. Tidak sedikit orang yang celaka karena ilmunya itu; celaka dunia dan celaka akhirat. 


*Beberapa indikasi ilmu yg bermanfaat adalah;*

*Pertama,* ilmu tersebut semakin membuat kita takut pada Allah.

 Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Fathir ayat 28 :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

_“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.”_

Ibnul Qayyim menyatakan, _“Tidaklah disebut alim (orang berilmu) kecuali orang yg punya rasa takut pada Allah. Semakin hilang ilmu, semakin hilang rasa takut. Jika rasa takut hilang, maka ilmu pun akan makin redup.”,_ (Syifa’ Al-‘Alil, 2: 949)


*Kedua,* ilmu itu menjadikan pemiliknya semakin semangat melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi maksiat. _“Siapa yang takut pada Allah, maka dialah ‘alim, seorang yang berilmu. Siapa yang bermaksiat pada Allah, dialah jahil (orang yang jauh dari ilmu).”_


*Ketiga,* mengantarkan pada sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan zuhud pada dunia. Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, _“Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang zuhud pada dunia dan semangat mencari akhirat. Ia paham akan urusan agamanya dan rutin melakukan ibadah pada Rabbnya.”_


*Keempat,* tawadhu’ (rendah hati) dan mudah menerima kebenaran dari siapa pun, kemudian berusaha menerapkan kebenaran tersebut.


*Kelima,* tidak suka pujian dan enggan menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain , serta menjauhi ketenaran. Kalaupun ia disanjung lalu menjadi populer itu bukan karena keinginan dan pilihannya.

Keenam, Ilmu yang dipelajari tidak jadi kebanggaan dan kesombongan di hadapan lainnya. Ia sadar bahwa para salaf dahulu jauh lebih mulia dan ia pun selalu berprasangka baik pada mereka.